Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
8 Keputusan Adaptasi yang Berani di One Piece Live Action Season 2!
One Piece Live Action Season 2 Luffy
  • Season 2 One Piece live action menghadirkan banyak perubahan berani dari manga, termasuk kemunculan Bartolomeo lebih awal dan penegasan kekuatan Dragon secara visual.
  • Ada pergeseran tone cerita menjadi lebih emosional dan realistis, seperti adegan Luffy menenangkan Laboon dengan lagu serta nasib karakter yang dibuat lebih gelap.
  • Beberapa elemen komedi dan pertarungan disederhanakan demi menjaga durasi serta konsistensi gaya realistis, sementara perubahan latar dan kondisi kapal dilakukan untuk efisiensi produksi.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Mengadaptasi manga sepanjang One Piece ke dalam format live action tentu bukan tugas mudah. Tim produksi harus menyeimbangkan kesetiaan pada karya asli Eiichiro Oda dengan kebutuhan penceritaan yang lebih realistis dalam serial televisi.

Karena itu, One Piece season 2 mengambil beberapa keputusan adaptasi yang cukup berani. Beberapa perubahan bahkan cukup berbeda dari versi manga, baik dari segi alur, karakter, maupun cara adegan tertentu ditampilkan.

Meski ada yang menuai perdebatan, banyak perubahan ini juga bertujuan membuat cerita lebih efektif dalam format live action. Berikut beberapa keputusan adaptasi yang paling berani di season 2.

1. Memunculkan Bartolomeo Jauh Lebih Awal dan Berinteraksi dengan Luffy

Bartolomeo dan Luffy One Piece Live Action Season 2

Salah satu kejutan terbesar season ini adalah kemunculan Bartolomeo di Loguetown. Dalam manga karya Eiichiro Oda, karakter ini sebenarnya baru muncul ratusan chapter kemudian di arc Dressrosa, meskipun memang dia hadir di Loguetown, menyaksikan Luffy bebas dari eksekusi dan menjadi fansnya setelah itu.

Live action memilih memperkenalkannya lebih awal sebagai orang yang menyaksikan langsung aksi Luffy dan bahkan terlibat dalam konfliknya. Keputusan ini membuat nuansa cerita berubah cukup jauh dibandingkan versi aslinya.

Meski begitu, langkah ini juga memperkuat tema bahwa Luffy selalu menginspirasi orang-orang di tempat yang ia datangi.

2. Dragon Secara Jelas Menggunakan Angin untuk Mengalahkan Smoker

Dragon dan Smoker live-action. (Dok. Netflix/One Piece)

Di manga, kemunculan Monkey D. Dragon di Loguetown diikuti oleh badai besar yang membantu Luffy kabur. Namun fenomena itu masih terasa ambigu, seolah-olah bisa saja hanya kebetulan alam karena badainya menghantam satu kota.

Dalam live action, adegan tersebut dibuat jauh lebih jelas. Angin terlihat secara spesifik menerbangkan Smoker, bukan semua orang di sekitar.

Hal ini membuat banyak penonton merasa bahwa live action secara tidak langsung menegaskan bahwa Dragon memang memiliki kemampuan mengendalikan angin atau cuaca, sesuatu yang memang sudah diteorikan penggemar sejak lama.

3. Mengubah Cara Luffy Menenangkan Laboon

Luffy melihat Laboon di laut. (Dok. Netflix)

Pertemuan dengan Laboon juga mengalami perubahan besar. Dalam manga, Monkey D. Luffy menenangkan Laboon dengan cara bertarung dengannya. Di live action, pendekatan ini diubah menjadi lebih emosional. Luffy justru menenangkan Laboon dengan menyanyikan lagu “Binks’ Sake”.

Perubahan ini membuat adegan terasa lebih dramatis dan juga lebih masuk akal dalam format live action dibandingkan pertarungan langsung dengan paus raksasa.

Yang menarik dalam podcast Offcial One Piece live action, Eiichiro Oda mengatakan kalau momen Luffy bernyanyi ke Laboon jadi salah satu momen adaptasi berbeda favoritnya, karena cocok dengan Luffy versi live action.

4. Membuat Nasib Beberapa Karakter Lebih Gelap

Mr. 8 Alias Igaram di One Piece Live Action season 2

Live action juga mengambil pendekatan yang lebih realistis terhadap beberapa konflik. Akibatnya, beberapa karakter terlihat memiliki nasib yang lebih tragis dibandingkan versi manga.

Contohnya adalah beberapa agen Baroque Works yang tampak benar-benar terbunuh setelah pertarungan, atau Igaram yang sama-sama "meledak", bedanya di manga yang meledak kapalnya dan dia selamat, ini yang meledak tubuhnya langsung dan kita belum tahu nasibnya.

Pendekatan ini membuat dunia live action terasa lebih berbahaya dan serius.

5. Menghilangkan Beberapa Elemen Komedi Manga

Crocus sedang membaca koran. (Dok. Netflix)

Salah satu keputusan adaptasi yang cukup terasa adalah pengurangan beberapa komedi khas manga. Misalnya, lawakan klasik dari Crocus tidak sepenuhnya ditampilkan karena adegannya juga sepenuhnya berubah di mana Crocus tidak di perut Laboon.

Di manga, Crocus memiliki banyak momen humor absurd yang menjadi ciri khas arc Reverse Mountain. Namun sebagian besar elemen tersebut tidak dimasukkan dalam versi live action. Serta ada beberapa momen komedi lain yang dikurangi.

Hal ini kemungkinan dilakukan agar tone cerita tetap konsisten dengan gaya live action yang sedikit lebih realistis.

6. Menyederhanakan Beberapa Pertarungan Besar

Mackenyu sebagai Zoro di One Piece live-action (dok. Netflix)

Beberapa pertarungan dalam manga juga mengalami penyederhanaan di live action. Contohnya adalah konflik di Little Garden yang tidak menampilkan teknik Candle Champion dari Mr. 3.

Selain itu, banyak momen lain seperti Luffy tidak melawan Laboon, Zoro dan Luffy tidak melawan Mr. 5 dan Miss Valentine di Whisky Peak, dan beberapa penyederhanaan pertarungan lainnya yang terjadi.

Penyederhanaan ini kemungkinan dilakukan untuk menjaga durasi episode sekaligus mengurangi kompleksitas efek visual.

7. Going Merry Tidak Rusak Parah

Going Merry melewati Reverse Mountain (Dok. Netflix/ONE PIECE: Season 2)

Di manga, saat kru Topi Jerami turun dari Reverse Mountain, kapal Going Merry mengalami kerusakan cukup serius setelah menabrak Laboon. Bahkan figurehead Merry sempat rusak dalam kejadian tersebut.

Namun dalam live action, kerusakan besar itu tidak diperlihatkan. Kapal mereka tetap relatif utuh setelah kejadian tersebut. Meski demikian di perut Laboon, sudah ada petunjuk kalau kapal Merry mulai rusak, tapi tidak semasif di manga.

Banyak fans menduga keputusan ini diambil karena kapal Merry dibuat sebagai set fisik nyata, sehingga merusaknya di awal cerita bisa menyulitkan produksi.

8. Banyak latar pertarungan yang berbeda

Wapol (Dok. Netflix, Shueisha/One Piece)

Dalam versi live action, ada beberapa latar pertarungan dan momen yang berbeda dengan di manga atau animenya, contoh yang paling jelas sih di Drum Kingdom, misalkan momen kematian Dr. Hiriluk dan pertarungan Luffy melawan Wapol itu harusnya di luar ruangan, bukan di dalam ruangan.

Sebagai format live action yang membutuhkan budget, editing ekstra, serta pemanfaatan set sebaik mungkin, memang perubahan ini terasa masuk akal.

Nah mana lagi perubahan adaptasi yang berani di One Piece live action season 2 menurutmu? Tulis pendapatmu di kolom komentar, ya!

Editorial Team