- keluarga Figarland,
- keluarga Satchels,
- keluarga Rimoshifu,
- keluarga Shepherd.
4 Alasan Sulit Ada Kesatria Dewa Baik di One Piece! Dikendalikan Imu?

- Mayoritas Kesatria Dewa adalah Tenryuubito
- Bagaimana mau punya niat memberontak kalau Imu bisa langsung bicara ke pikiranmu?
- Yang tadinya baik pun bisa dengan mudah dipelintir jadi budak patuh
Di atas kertas, Kesatria Dewa di One Piece memang konsep yang terdengar keren: pasukan elit Mary Geoise, nyaris abadi, dan menjadi tameng terakhir kekuasaan Tenryuubito.
Karena itu, wajar kalau ada yang membayangkan: “Gimana kalau ada satu Kesatria Dewa yang berkhianat dan membantu Luffy?”
Secara dramatis? Keren. Secara logika dunia One Piece? Sangat sulit.
Masalahnya bukan sekadar soal keberanian atau moral individu. Struktur Kesatria Dewa sendiri dibangun untuk mematikan kemungkinan ‘kebaikan’ sejak awal.
Bahkan ketika ada Kesatria Dewa yang pernah baik, sistem tempat mereka berdiri nyaris memastikan kebaikan itu: dikendalikan, moral dipelintir, atau perlawanan dihancurkan sepenuhnya.
Berikut ini beberapa alasan kenapa sangat sulit, bahkan mungkin hampir mustahil, ada Kesatria Dewa “baik” di One Piece, apalagi yang bisa berdiri di pihak Luffy dan kebebasan dunia.
1. Mayoritas Kesatria Dewa adalah Tenryuubito

Alasan paling mendasar kenapa Kesatria Dewa sulit nyaris mustahil menjadi “baik” adalah asal-usul mereka.
Mayoritas Kesatria Dewa berasal dari elit keluarga Tenryuubito, seperti:
Ini bukan Tenryuubito biasa. Mereka adalah Tenryuubito berdarah murni yang kuat, dididik sejak kecil dengan keyakinan bahwa mereka berada di atas manusia lain, berhak memerintah, dan tidak perlu mempertanggungjawabkan tindakan mereka pada siapa pun.
Banyak Tenryuubito bahkan sudah memiliki god complex tanpa perlu campur tangan Imu. Dan berbeda dari sosok seperti Saint Rosward, Saint Charlos, atau Saint Shalria yang bejat tapi lemah, keluarga-keluarga Kesatria Dewa ini bejat sekaligus kuat.
Artinya, sejak proses seleksi awal saja, Kesatria Dewa sudah diisi oleh orang-orang dengan moral rusak, bahkan sebelum pengaruh Imu atau Perjanjian Laut Dalam bekerja.
Dengan fondasi seperti ini, harapan munculnya Kesatria Dewa yang berhati baik memang sudah sangat kecil.
2. Bagaimana mau punya niat memberontak kalau Imu bisa langsung bicara ke pikiranmu?

Bahkan membayangkan Kesatria Dewa memiliki niat untuk berontak sebenarnya sudah sulit, karena ada satu fakta yang mematikan semua kemungkinan itu sejak awal: Imu bisa berbicara langsung ke dalam benak para Kesatria Dewa.
Ini bukan sekadar komunikasi jarak jauh. Ini adalah akses langsung ke kesadaran, tanpa perantara, tanpa sensor, tanpa ruang privat.
Dengan kondisi seperti ini niat memberontak belum sempat jadi rencana, keraguan belum sempat tumbuh jadi tekad, bahkan pikiran “ini salah” pun berisiko terdeteksi.
Satu fakta ini saja sudah cukup untuk mematikan konsep konspirasi dari dalam.
Berbeda dengan Angkatan Laut atau Cipher Pol, yang masih bisa menyimpan ketidakpuasan secara diam-diam. Kesatria Dewa tidak punya ruang mental untuk bersembunyi.
Kecuali seseorang mampu menyamarkan pikirannya secara ekstrem, atau sepenuhnya mematikan kehendak pribadi,
maka Imu seharusnya akan langsung tahu begitu ada Kesatria Dewa yang mulai menyimpang.
3. Yang tadinya baik pun bisa dengan mudah dipelintir jadi budak patuh

Contoh paling menyedihkan justru datang dari Kesatria Dewa yang awalnya tidak jahat.
Gunko dan Raja Harald membuktikan satu hal penting: kebaikan personal sama sekali bukan perlindungan dalam sistem Kesatria Dewa.
Kasus Harald bahkan menunjukkan bahwa ini bukan sekadar mind control biasa. Harald menyadari dirinya sedang kehilangan kendali. Ia sempat sadar sejenak dan mengakui sesuatu yang mengerikan: kepribadiannya telah dipelintir sampai ia benar-benar merasa dirinya adalah dewa. persis seperti Tenryuubito kebanyakan.
Artinya, Imu tidak sekadar memberi perintah. Imu bisa merusak persepsi diri, mengubah cara korban memandang dunia, dan mengganti kehendak pribadi dengan delusi superioritas.
Gunko pun menunjukkan pola serupa. Saat ingatannya sempat kembali, ia langsung mencoba bertindak sesuai kehendaknya sendiri. Namun momen itu hanya berlangsung singkat, Imu langsung membajak tubuhnya kembali, seolah berkata bahwa kesadaran pribadi hanyalah gangguan yang harus dipadamkan.
Inilah inti masalahnya: begitu tato Perjanjian Laut Dalam diberikan, semuanya sudah terlambat.
4. Bahkan kalaupun ada keajaiban, Imu mungkin bisa langsung membunuh Kesatria Dewa

Kalaupun secara hipotetis terjadi keajaiban dan seorang Kesatria Dewa berhasil melawan kendali Imu, masih ada satu kenyataan pahit yang sulit disangkal:
hidup dan mati mereka sepenuhnya ada di tangan Imu.
Salah satu momen paling mengerikan di Egghead Arc terjadi ketika Imu murka karena Gorosei Jaygarcia Saturn gagal menghentikan Joy Boy (Monkey D. Luffy) dan membiarkannya lolos.
Tanpa pertarungan, tanpa perlawanan, tanpa peringatan, keabadian Saturn dicabut seketika.
Sosok yang telah hidup lebih dari dua abad itu mendadak menua secara ekstrem, runtuh menjadi tulang belulang di hadapan para vice admiral yang bahkan tidak memahami apa yang baru saja terjadi. Tidak ada serangan fisik. Tidak ada teknik. Hanya keputusan sepihak dari Imu.
Momen ini mengungkap kebenaran paling brutal: mereka yang terikat pada Perjanjian Laut Dalam dan Perjanjian Laut Sangat Dalam tidak memiliki jaminan eksistensi.
Artinya: jika ada Kesatria Dewa atau Gorosei yang mulai menyimpang, jika ada yang mencoba melawan, atau bahkan sekadar menjadi “tidak berguna”, Imu tidak perlu membujuk, mengendalikan ulang, atau menghukum mereka secara terbuka. Ia bisa mengakhiri mereka dari mana pun di dunia.


















