Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

4 Manga Bagus yang Reputasinya Dirusak oleh Endingnya! Mengecewakan?

4 Manga Bagus yang Reputasinya Dirusak oleh Endingnya! Mengecewakan?
cuplikan dari anime Tokyo Revengers (2021) (dok. LIDENFILMS/Tokyo Revengers)
Intinya Sih
  • Artikel membahas empat manga populer—Tokyo Revengers, Oshi no Ko, The Promised Neverland, dan Prison School—yang reputasinya menurun karena ending dianggap mengecewakan oleh banyak pembaca.
  • Setiap judul awalnya dipuji berkat premis kuat dan karakter menarik, namun penutup ceritanya dinilai terburu-buru atau tidak sepadan dengan pembangunan konflik sebelumnya.
  • Dampaknya, antusiasme komunitas menurun drastis; sebagian seri hanya bertahan lewat adaptasi anime yang masih berjalan atau diharapkan bisa memperbaiki kesan akhir cerita.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Karena ini yang dibahas ending, spoiler alert untuk semua judul yang disebutkan.

Ending yang jelek bisa membuat reputasi seluruh seri karam. Ini berlaku untuk serial TV (lihat apa yang terjadi pada Game of Thrones), dan ini juga bisa berlaku untuk manga.

Memang kadang "ending mengecewakan" ini bisa dimaafkan. Judul seperti My Hero Academia dan Attack on Titan sempat bikin perdebatan ketika bab terakhirnya rilis, tapi seiring waktu fans terasa lebih menerima ending itu.

Judul-judul yang ada di daftar ini tidak demikian. Setelah endingnya rilis, bahkan setelah waktu berlalu, kamu bisa melihat bahwa hype yang dimiliki serinya seperti raib. Kadang hanya hidup dari anime yang masih berjalan.

Apa saja contohnya? Mari kita simak!

1. Tokyo Revengers

Takemichi menangis.
Takemichi menangis. (dok. LIDENFILMS/Tokyo Revengers)

Ketika pertama kali rilis, Tokyo Revengers meledak. Premis time leap yang dikombinasikan dengan drama geng berandalan remaja terasa segar dan emosional.

Untuk pasar seperti Indonesia, di mana kisah berandalan punya daya tarik tersendiri (ingat bagaimana Crows Zero dulu sangat populer), seri ini seperti menemukan panggung yang tepat. Manga dan animenya sama-sama mendapat perhatian besar.

Masalahnya datang di penghujung cerita.

Ending-nya terasa terburu-buru. Resolusinya terlalu rapi. Konflik yang sebelumnya dibangun dengan taruhan emosional tinggi, termasuk kematian yang disangka permanen dari karakter penting seperti Draken, mendadak seperti dihapus begitu saja.

Alih-alih menjadi klimaks yang memuaskan, ending tersebut terasa seperti berasal dari seri yang berbeda: lebih cerah, lebih aman, dan jauh dari nuansa pahit-manis yang sebelumnya menjadi identitasnya.

Akibatnya? Diskusi berubah dari “gila ini seru banget” menjadi “sayang banget ending-nya begitu.” Dan itu jelas memengaruhi reputasi keseluruhan seri.

2. Oshi no Ko

Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)
Oshi no Ko (dok. Doga Kobo/Oshi no Ko)

Oshi no Ko sempat dikenal sebagai salah satu manga dengan penceritaan paling tajam dalam beberapa tahun terakhir.

Judul ini memikat lewat eksplorasi gelap industri hiburan, intrik dunia idol, manipulasi media, serta perkembangan karakter yang kompleks, terutama Aqua dan obsesinya pada balas dendam.

Karena itu, ekspektasi terhadap ending-nya sangat tinggi.

Sayangnya, banyak pembaca merasa akhir ceritanya tergesa-gesa dan terlalu simpel dan mendadak untuk konflik yang dibangun begitu kompleks. Beberapa perkembangan karakter terasa diakhiri dengan enggak banget, seolah ada jalur emosional yang belum benar-benar dituntaskan.

Dampaknya cukup terasa. Reputasi manganya sempat terguncang, dan diskusi komunitas berubah drastis.

Saat ini, adaptasi anime-nya masih menjadi “penyangga” dari sisi penonton umum, terutama yang "spoiler free" gak ngikuti manga. Bahkan ada harapan bahwa versi animenya nanti akan melakukan penyesuaian agar penutup ceritanya terasa lebih solid dan masuk akal.

Kita lihat saja apa itu akan terjadi, karena di nomor 3 ada judul yang ending manganya ampas lalu dihantam lagi sama penyajian season terakhir animenya.

3. The Promised Neverland

anime The Promised Neverland (dok. Netflix/The Promised Neverland)
anime The Promised Neverland (dok. Netflix/The Promised Neverland)

Wah, yang ini… benar-benar tragis.

The Promised Neverland memulai perjalanannya sebagai salah satu seri paling intens yang pernah dimuat di Shonen Jump era modern. Arc awal di Grace Field House itu nyaris sempurna: tegang, cerdas, penuh permainan psikologis, dan membuat pembaca ikut merasakan ketakutan sekaligus harapan Emma, Norman, dan Ray.

Setelah keluar dari fase awal tersebut, memang mulai terasa ada penurunan konsistensi. Skalanya membesar, konflik makin luas, dan beberapa keputusan cerita terasa kurang setajam sebelumnya. Tapi jujur? Masih banyak yang bertahan karena percaya seri ini akan menutup semuanya dengan sesuatu yang kuat.

Lalu ending-nya datang.

Temponya terasa terlalu cepat. Konflik besar yang seharusnya monumental justru diselesaikan dengan resolusi yang terasa datar. Ada kesan “kok selesai begitu saja?”, padahal fondasi dramanya sudah dibangun sedemikian besar.

Alih-alih klimaks yang emosional dan membekas, yang tersisa justru rasa kehilangan potensi.

Seakan itu belum cukup, The Promised Neverland masih dihajar lagi sama apa yang animenya lakukan.

Ketika The Promised Neverland season 2 diumumkan, sebagian fans berharap adaptasinya bisa memperbaiki ritme dan memberi kedalaman tambahan pada bagian akhir cerita. Tapi yang terjadi justru sebaliknya.

Season 2 dikenang sebagai salah satu adaptasi paling mengecewakan dalam era modern ini. Alur dipangkas drastis, arc penting dilewati, dan cerita ditutup dengan sangat terburu-buru. Harapan bahwa anime akan “menebus” kelemahan manga pun sirna.

Dan itu kenapa saya rasa judul ini tragis banget nasibnya. Diawali dengan sempurna, potensi kuat, lalu endingnya terasa merusak reputasinya.

4. Prison School

dok. J.C.Staff/ Prison School
dok. J.C.Staff/ Prison School

Kalau melihat seperti apa isi manganya (absurd, vulgar, penuh skenario yang makin lama makin tak masuk akal) mungkin sejak awal kita memang sudah memasang ekspektasi yang terlalu optimistis untuk ending yang bagus.

Ini karya Akira Hiramoto. Dan kalau mengikuti gaya berceritanya, sebenarnya tanda-tanda manga ini akan berakhir ngawur itu sudah ada.

Tapi tetap saja, masih banyak pembaca yang terbuai ceritanya. Karena di balik segala kegilaan, lelucon keterlaluan, dan plot yang terasa seperti eksperimen sosial penuh penderitaan, Prison School berhasil membuat pembaca peduli pada karakternya. Kiyoshi, Hana, Mari, bahkan dinamika absurd Underground Student Council , semuanya berkembang cukup lama sampai kita merasa ada investasi emosional di sana.

Karena itu, ketika ending-nya datang… banyak pembaca rasanya seperti ditampar.

Ending ini ngeselin bukan cuma karena terasa mendadak. Bukan cuma terasa seperti cerita dipotong.

Ending-nya memberi kesan seolah seluruh perkembangan karakter yang sudah dibangun ratusan chapter itu tidak pernah benar-benar berarti. Resolusi yang muncul terasa seperti punchline panjang dari lelucon internal mangaka kepada pembacanya.

Seolah-olah pesannya adalah: "Kamu mengharapkan ending memuaskan? Kamu salah manga."

Sebagian mungkin melihatnya sebagai konsisten dengan semangat chaos seri ini. Tapi banyak pembaca lain merasa dikhianati, bukan karena ceritanya tidak “happy”, melainkan karena payoff emosionalnya terasa nihil.

Apakah itu memang niat trolling yang disengaja? Apakah itu bentuk satir terakhir Akira Hiramoto? Kita mungkin tidak pernah tahu.

Yang jelas, banyak pembaca tidak ikut tertawa.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Anime & Mange

See More