Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Kenapa Suguru Geto Membenci Manusia Biasa di Jujutsu Kaisen? Ini Alasannya!

Kenapa Suguru Geto Membenci Manusia Biasa di Jujutsu Kaisen? Ini Alasannya!
Suguru Geto di Jujutsu Kaisen
Intinya Sih
  • Suguru Geto awalnya penyihir jujutsu idealis yang ingin melindungi manusia, namun kelelahan menghadapi kutukan tanpa akhir membuatnya kehilangan arah dan mulai meragukan tujuan perjuangannya.
  • Tragedi kematian Riko Amanai serta reaksi dingin manusia biasa menjadi titik balik yang menghancurkan idealisme Geto, menumbuhkan kebencian dan rasa jijik terhadap mereka.
  • Dipengaruhi percakapan dengan Yuki Tsukumo, Geto menciptakan ide ekstrem untuk menghapus manusia non penyihir demi mengakhiri kutukan, menandai transformasinya dari pelindung menjadi antagonis.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Di awal cerita, Suguru Geto bukanlah sosok antagonis seperti yang kita kenal. Ia justru adalah penyihir jujutsu yang idealis, percaya bahwa kekuatan yang dimiliki penyihir harus digunakan untuk melindungi manusia biasa. Bersama Satoru Gojo, Geto bahkan dianggap sebagai salah satu talenta terbaik di generasinya.

Namun seiring waktu, pandangan Geto berubah drastis. Ia tidak hanya kehilangan kepercayaannya terhadap manusia biasa, tetapi juga mulai melihat mereka sebagai sumber masalah utama dalam dunia jujutsu. Perubahan ini bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan hasil dari akumulasi pengalaman traumatis dan konflik batin yang terus menumpuk.

Lalu, apa sebenarnya yang membuat Geto berubah sejauh itu? Berikut penjelasannya.

1. Merasa Terjebak dalam Siklus Kutukan yang Tidak Akan Pernah Berakhir

Suguru Getoo Season 2
Suguru Geto (wall.alphacoders.com)

Sebagai penyihir jujutsu, Geto memahami satu kebenaran pahit, kutukan lahir dari emosi negatif manusia biasa. Selama manusia terus merasakan ketakutan, kebencian, dan kecemasan, maka kutukan akan selalu ada. Artinya, apa pun yang dilakukan para penyihir, dunia tidak akan pernah benar-benar “bersih”.

Setiap hari, Geto bertarung, mengusir, lalu “memakan” kutukan menggunakan tekniknya sendiri. Tapi semakin lama, ia merasa semua itu seperti pekerjaan tanpa akhir. Ia mulai mempertanyakan untuk siapa semua pengorbanan ini dilakukan?

Perasaan itu berubah menjadi kelelahan mental yang dalam. Bagi Geto, menjadi penyihir jujutsu terasa seperti berlari maraton tanpa garis akhir. Di titik inilah benih keraguan mulai tumbuh, pelan tapi pasti menghancurkan idealismenya.

2. Trauma Riko Amanai dan Kebusukan Manusia yang Ia Lindungi

kematian Riko Amanai (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)
kematian Riko Amanai (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)

Titik balik terbesar dalam hidup Geto terjadi saat misi melindungi Riko Amanai. Setelah semua usaha yang ia dan Gojo lakukan, Riko tetap tewas di tangan Toji Fushiguro.

Namun yang benar-benar menghancurkan Geto bukan hanya kematian itu, melainkan reaksi manusia biasa. Para pengikut organisasi tertentu justru bertepuk tangan atas kematian Riko. Momen itu meninggalkan luka yang sangat dalam di benaknya.

Yang lebih menyakitkan, Geto memilih untuk tidak membunuh mereka. Ia masih berpegang pada prinsip bahwa penyihir harus punya alasan untuk membunuh. Tapi keputusan itu justru menjadi penyesalan terbesar dalam hidupnya. Ia sadar bahwa ia telah melindungi sesuatu yang ia sendiri anggap menjijikkan.

Dari sinilah perubahan itu mulai nyata. Geto mulai menyebut manusia biasa sebagai “monyet”, bukan sekadar hinaan, tapi bentuk dehumanisasi. Ia tidak langsung membenci manusia, tapi ia mulai kehilangan rasa hormat terhadap mereka.

3. Dari Kebencian jadi Ide Ekstrem, Menghapus Manusia Non Penyihir

Geto Suguru
Geto Suguru (dok. MAPPA/Jujutsu Kaisen)

Setelah insiden itu, Geto tidak langsung berubah menjadi ekstrem. Ia justru berada dalam kondisi paling rapuh, dia bingung. Ia tidak bisa lagi memastikan apakah melindungi manusia itu benar atau tidak. Bahkan ketika Yuki Tsukumo bertanya apakah ia membenci manusia biasa, Geto tidak bisa menjawab.

Dalam percakapan tersebut, Yuki menjelaskan bahwa manusia biasa adalah sumber utama lahirnya kutukan. Ia menawarkan dua solusi, menghilangkan cursed energy dari semua manusia, atau mengajarkan semua orang untuk mengendalikannya. Tapi dari sinilah, sesuatu dalam diri Geto berubah.

Geto menciptakan “solusi ketiga” yang jauh lebih gelap, menghapus semua manusia biasa non penyihir. Ia melihat ini sebagai satu-satunya cara untuk benar-benar menghentikan kutukan.

Di titik ini, Geto bukan lagi sekadar kehilangan arah, ia sudah memilih jalan, tapi salah. Dari seorang pelindung manusia, ia berubah menjadi seseorang yang percaya bahwa dunia akan lebih baik tanpa mereka, mulailah dia menganggap manusia biasa sebagai spesies yang hina.

Nah itu alasan kenapa Geto membenci manusia, bagaimana menurutmu?

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Anime & Mange

See More