Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Cosplay adalah hal yang menyenangkan dan seharusnya bisa dinikmati semua orang, namun hal itu tidak terjadi di Indonesia saat ini, di mana justru cosplay menjadi ajang untuk mengejek para cosplayer. Bagaimana kisahnya?

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan MasalAkhir-akhir ini mungkin Citizen penggemar pop culture Jepang yang sibuk dengan sosial media mengetahui keberadaan beberapa cosplayer yang cukup heboh dibicarakan oleh umum. Mereka adalah para hijab cosplayer dan Thatbitha Halimatussadiyah, cosplayer Racing Miku yang muncul di acara Anime Festival Asia alias AFA yang diselenggarakan di JCC tahun ini dengan hanya berpakaian minim.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang mereka, mari kita kembali ke 10 tahun lalu,  tepatnya tahun 2004 di mana Cosplay sendiri mulai menggeliat ke permukaan. Pada saat itu hingga sekitar 5-6 tahun ke dapan, cosplay menjadi salah satu hal yang sangat menyenangkan, meskipun para cosplayer melakukan cosplay dengan segala keterbatasan seperti wig yang perputarannya tidak secepat dan semudah saat ini, hampir tidak pernah ada masalah alias drama diantara cosplayer ataupun para penikmat cosplay. Semua saling mendukung satu sama lain dan cosplay, saat itu bagi Athira, menjadi hal yang sangat menyenangkan untuk dilakukan dan ditunggu. Tidak ada kecaman-kecaman yang sifatnya membully pada tahun-tahun itu karena memang cosplay sendiri masih belum terlalu diminati oleh kalangan penggemar anime, manga, game, dan tokusatsu Jepang.

Contohnya saja cosplayer Mahoro dari anime Mahoromatic yang mengaku bahwa ia mengcosplaykan Mahoro versi cowok, biasanya kalau saat ini, pasti sudah dikecam habis-habisan dikatakan bahwa ia tidak pantas atau merusak karakternya, sedangkan dulu, ia cuma diber komentar "Weks, male Mahoro itu loh, nggak banget...... Tapi kreatif juga ya!"Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Kesenangan bercosplay akhirnya menjadi booming pada awal tahun 2010 di mana sudah mulai bermunculan acara- acara kampus yang mengambil tema Jepang dan memasukan cosplay competition di dalamnya. Tentu saja, dengan banyaknya cosplayer ini penikmatnya pun bertambah, apalagi dengan populernya anime-anime Jepang saat itu dan memiliki penggemar yang jumlahnya jauh lebih banyak daripada awal tahun 2000-an dengan populernya anime Bleach, Naruto, dan One Piece. 

Tentu saja, dengan semakin banyak penikmat pasti akan semakin banyak pula permintaan, para penikmat juga mulai berani untuk mengkritik habis-habisan cosplayer yang mereka anggap tidak pas untuk memerankan karakter tersebut. Namun tentu saja, semua itu dilakukan di media sosial. Tidak ada yang berani menatap muka langsung para cosplayer tersebut dan membully mereka dengan kritikan pedas yang tidak ada baiknya. Media sosial sangat berperan dalam hal ini, di mana orang-orang bisa mengejek orang lain yang tidak mereka suka secara seenaknya tanpa perlu takut identitasnya akan ketahuan. 

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Nah, kita kembali ke era sekarang, di mana cosplayer sudah tidak bisa dihitung jari dan acara-acara cosplay sudah ada setiap bulannya, saking banyaknya yang ingin cosplay, hal ini membuat beberapa orang dengan "keterbatasan" untuk bercosplay, contohnya, adalah para gadis yang berjilbab yang tidak bisa memakai wig atau baju-baju yang memperlihatkan bagian-bagian tertentu dari tubuhnya, memutuskan untuk ikut cosplay juga. Seperti ini.

Dengan memodifikasi beberapa bagian dari kostum seperti wig yang dirubah menjadi jilbab berwarna sama dengan wig, para cosplayer yang memakai jilbab ini pun akhirnya bisa bercosplay dengan tidak melanggar aturan yang dia percayai. Memang hal ini tentu sah-sah saja, namun ternyata, tidak sedikit orang-orang yang tidak suka dengan kehadiran hijab cosplay ini.

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

 

Isitilahnya, cosplay dengan jilbab itu salah di mata orang-orang ini. Lalu solusinya? Ya cosplay totalitas dengan baju yang sesuai dengan apa yang ingin di cosplaykan, akhirnya muncullah seorang Thabitha yang hadir di AFA dengan kostum super mini yang notabene, mirip dengan kostum aslinya.

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan MasalBerbagai bagian tubuh ditunjukkan oleh Thabitha, namun hal ini dikarenakan karena memang kostum aslinya memakai baju seperti ini. Seharusnya sudah ok dan tidak ada komplain kan? Namun kenyataan berkata lain, karena ternyata eh ternyata, orang-orang mulai berbondong-bondong untuk menghujat Thabitha.

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

 

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Tindakan Thabitha yang mencoba untuk in-character ini juga ternyata mendapat kecaman dari berbagai macam orang, bahkan dikutip dari wawancara bersama Thabitha, ia mengaku ada yang sampai menerornya di Facebook dan telepon. Ada juga yang mengaku bahwa mereka merasa Thabitha kurang bijak dalam wawancara tersebut dengan mengatakan hal-hal yang terkesan sombong, seperti ketika ditanya siapa yang paling mendukung dia untuk cosplay, ia menjawab dengan "Diri sendiri, orang sekitar dan pacar. Orang tua saya kurang mendukung, padahal selama ini saya tidak memakai uang mereka untuk cosplay." dan statusnya yang menulis "Saya tau kalian iri karena gak mampu menjadi seperti saya."

Memang, Indonesia adalah salah satu negara Asia dengan budaya timur yang menjunjung tinggi norma-norma yang "baik", namun bukankah baju renang baik itu bikini atau one piece sudah sangat lumrah di sini? Dan bukankah cosplay yang hijab juga kurang diterima namun kenapa yang sepert ini tidak diterima?

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Begitulah dunia cosplay Indonesia saat ini, penuh dengan ejekan yang tidak membangun dan justru memojokkan cosplayer tersebut dan memang berniat untuk menjatuhkannya. Bukannya menjadi ajang have fun dan kumpul bersama teman-teman seperti dulu, saat ini setiap selesai event, terutama event besar, hampir dipastikan ada drama pengejekan seperti ini. Bukankah memang bila kita tidak menyukai hal tersebut lebih baik tidak dihiraukan atau memang bila ingin "mengejek" lakukanlah dengan baik, tidak dengan semerta-merta memojokkan pelakunya, toh para cosplayer ini tidak melakukan tindakan kriminal bukan?

Mengenai kontroversi ini, Athira sempat bertanya kepada cosplayer dan penikmat cosplayer yang sudah cukup lama berkecimpung di dunia ini, menurut tanggapan mereka, sebenarnya karena cosplay itu sendiri adalah di mana kamu berubah menjadi karakter lain yang ingin kamu cosplay-kan, maka memang totalitas itu dibutuhkan, berbagai macam aspek kemiripan harus diperhatikan, tidak terkecuali jilbab. Mereka menilai bahwa yang dilakukan hijab cosplayer itu bukan mereka menjadi karakter yang mereka inginkan, tapi karakter yang mereka inginkan menjadi mereka karena modifikasi jilbab tersebut. Jadi tidak bisa dikategorikan sebagai cosplay yang berarti "menjadi orang yang lain", namun dari segi kreatifitas, tentu saja hal tersebut cukup menarik.

Ketika Cosplay Menjadi Ajang Pengejekan Masal

Sedangkan untuk cosplayer yang "terbuka" seperti Thatbitha, mereka menganggap bahwa memang sebaiknya dipilih tempat yang cocok untuk memakai kostum seperti itu, karena pasti akan mengundang mata-mata pria mesum atau para wanita yang risih dengan hal tersebut. Sebaiknya juga tidak mengeluarkan kata-kata yang terdengar tidak enak di depan para haters karena pasti akan semakin mengundang kontroversi. Permasalahan sebenarnya adalah adanya orang yang tidak suka dengan cosplayer tersebut (apapun alasannya), dan mulai mengejek cosplayer tersebut, dan ditanggapi dengan emosi oleh cosplayer itu sendiri (wajar saja). Sebetulnya caci maki dan ejekan sama sekali tidak relevan dengan cosplay-nya, kritikan ke cosplay wajar-wajar saja bahkan bagus. Dan memang detail kostum cosplay-nya masih kurang sesuai dengan karakter yang dia mainkan. Jadi kalau ada permasalahan, tidak sesuai agama, budaya, attitude, punya hutang, semua tidak ada relevansinya dengan cosplaynya, jadi sebetulnya bisa diabaikan.

Begitulah Citizen, mari kita ciptakan kondisi cosplay yang positif dan baik, tidak perlu kita menghujat orang yang tidak kita suka dengan kata-kata yang memaki, apalagi di media sosial. Cosplay adalah hal yang menyenangkan, kita tidak perlu membuatnya menjadi hal ribet yang tidak mengenakkan untuk dilihat. Akhir kata, semoga cosplay Indonesia kedepannya semakin positif dan dikenal oleh dunia, apalagi cosplayer kita sudah dua kali berhasil menyabet juara tiga di World Cosplay Summit lho!

 

Artikel terkait

Latest