Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

Review Final Fantasy Resonance, JRPG Gaya Klasik yang Fun tapi Grindy

10 min read
Review Final Fantasy Resonance, JRPG Gaya Klasik yang Fun tapi Grindy
(Dok. Square Enix/Final Fantasy Resonance)
  • Final Fantasy Resonance mengubah fondasi Brave Exvius menjadi JRPG klasik dengan visual HD-2D dan sejumlah kenyamanan modern.

  • Mekanik Vision memungkinkan pemain mendapatkan karakter ikonis Final Fantasy tanpa gacha serta bereksperimen dengan kombinasi kemampuan.

  • Pengalaman bermain tetap menyenangkan, meski sidequest repetitif dan peningkatan level Vision mulai terasa grindy.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kalau kita bicara soal Final Fantasy Resonance, jujur, ini adalah salah satu judul RPG Jepang dengan latar belakang paling menarik.

Fondasi Final Fantasy Resonance adalah Final Fantasy Brave Exvius, game gacha yang layanan globalnya sudah berakhir. Di sini, kamu bisa bertemu kembali dengan sosok-sosok familiar seperti Rain, Lasswell, dan Fina, tetapi dalam format permainan yang sangat berbeda.

Unsur gacha dari Brave Exvius tidak lagi menjadi bagian dari pengalaman utama. Sebagai gantinya, Final Fantasy Resonance disajikan sebagai JRPG klasik dengan visual HD-2D, gaya grafis yang mungkin sudah familier bagi penggemar Octopath Traveler.

Jadi, bagaimana hasil akhirnya? Apakah perubahan format ini berhasil menghadirkan pengalaman JRPG yang menarik? Atau justru ada masalah yang ikut terbawa dari fondasi lamanya?

Mari kita bahas!

Final Fantasy Resonance
4/5

Final Fantasy Resonance adalah RPG tahun 2026 yang dikembangkan Square Enix bersama Lancarse. Mengadaptasi alur cerita "Lapis" dari Final Fantasy Brave Exvius (2015), game ini menjadi judul pertama dalam seri Final Fantasy yang menggunakan gaya visual HD-2D.

Genre

JRPG

Developers

Square Enix, Lancarse

Publisher

Square Enix

Platform

Nintendo Switch, Nintendo Switch 2, PlayStation 5, Windows, Xbox Series X/S

Price

Rp. 729

System Requirements Final Fantasy Resonance

Operating System

Windows® 11

Processor

AMD Ryzen™ 3 2300X / Intel® Core™ i3-8100

Memory

8 GB RAM

GPU

AMD Radeon™ RX 6400 / Intel® Arc™ A580 / NVIDIA® GeForce® GTX 1650

DirectX

Version 12

Storage

15 GB available space

Galeri Final Fantasy Resonance

  1. 1. Kesan HD-2D yang Membawa Nostalgia

    Tangkapan layar resmi gim Final Fantasy Resonance yang dirilis sebagai materi dokumentasi oleh Square Enix.
    (Dok. Square Enix/Final Fantasy Resonance)

    Sebagai orang yang pengalaman awalnya dengan Brave Exvius lebih banyak sebatas melihat streamer yang fokus pada aspek gacha-nya, memainkan sendiri kisah ini dalam format JRPG tanpa gacha benar-benar menjadi pengalaman yang menarik.

    Ada kesan old-school yang kuat dalam penyajian karakter maupun kisah Rain, Lasswell, dan Fina saat mereka berusaha menyelamatkan kristal-kristal di dunia dari ancaman The Sworn Six.

    Pendekatan HD-2D juga membuat kota dan world map-nya terasa seperti dunia Final Fantasy era 2D, hanya saja kini didukung lingkungan 3D, pencahayaan modern, dan pergerakan kamera yang lebih sinematik.

    Hasilnya adalah perpaduan antara nostalgia dan presentasi modern yang terasa pas.

    Pendekatan serupa juga terlihat dalam gameplay.

    Sejumlah kemudahan yang lazim ditemukan di JRPG modern, seperti pemulihan HP otomatis setelah pertarungan atau pemulihan gratis ketika mengakses Save Point, tidak tersedia di sini. Kamu perlu mengandalkan sihir atau item penyembuh untuk memulihkan kondisi party.

    Bahkan pertempuran melawan musuh di map pun sering kali "pada dasarnya random encounter, hanya saja game cukup baik untuk memberi sinyal kapan battle akan pecah."

    Namun, bukan berarti Final Fantasy Resonance sepenuhnya meninggalkan kenyamanan modern. Ada Auto Save, opsi Retry ketika kalah dalam pertarungan, fitur mempercepat tempo battle, hingga kemampuan melewati animasi tertentu.

    Dengan kata lain, game ini berusaha mempertahankan sensasi JRPG klasik tanpa harus mengabaikan seluruh kemudahan modern. Bagi pemain yang mendambakan pengalaman old-school, tetapi tidak ingin berhadapan dengan semua keterbatasan teknis RPG zaman dahulu, Final Fantasy Resonance menawarkan pendekatan yang cukup seimbang.

  2. 2. Interaksi Para Karakternya Asyik

    Materi promosi gim Final Fantasy Resonance yang dikreditkan kepada Square Enix dalam dokumentasi resmi.
    (Dok. Square Enix/Final Fantasy Resonance)

    Salah satu aspek yang saya sukai dari Final Fantasy Resonance adalah interaksi di antara karakter-karakter utamanya. Bukan hanya interaksi yang terjadi dalam cerita utama.

    Sepanjang menjelajahi dunia, kamu juga bisa menemukan interaksi opsional yang memberikan perspektif tambahan tentang karakter yang terlibat. Momen-momen seperti ini membuat party terasa lebih hidup.

    Mereka bukan sekadar sekumpulan karakter dengan kemampuan berbeda yang kebetulan berada dalam satu tim, melainkan sekelompok orang yang benar-benar menjalani petualangan bersama.

    Dari sisi cerita, pemain yang belum mengenal situasi awal Final Fantasy Brave Exvius mungkin akan menganggap perjalanan selama sekitar 10 jam pertama masih relatif sederhana. Namun, bagi penggemar lama Final Fantasy, ada perasaan bahwa cerita ini tidak mungkin berjalan lurus begitu saja. Konflik yang terlihat sederhana biasanya menyimpan sesuatu yang lebih besar di baliknya.

    Tanpa perlu membocorkan kejutan ceritanya, perjalanan Rain dan kawan-kawan cukup menarik untuk diikuti. Apalagi, format JRPG tradisional memberikan ruang bagi pemain untuk menikmati perkembangan kisah secara bertahap.

  3. 3. Para Vision Kini Dikumpulkan Tanpa Gacha

    Materi visual resmi Final Fantasy Resonance yang didistribusikan Square Enix sebagai dokumentasi gim tersebut.
    (Dok. Square Enix/Final Fantasy Resonance)

    Salah satu daya tarik terbesar Final Fantasy Resonance adalah mekanik Vision, yang memungkinkan Rain dan anggota party lainnya menggunakan kemampuan dari karakter-karakter ikonis seri Final Fantasy.

    Bahkan di area awal permainan, kamu sudah bisa mendapatkan nama besar seperti Warrior of Light dari Final Fantasy I, Cloud Strife dari Final Fantasy VII, dan Terra dari Final Fantasy VI.

    Yang menarik, mendapatkan mereka bukan dilakukan melalui gacha.

    Kamu perlu menemukan Shrine di world map, berinteraksi dengan kristal, lalu menjawab sejumlah pertanyaan terkait karakter yang bersangkutan.

    Namun, ada satu aspek yang terasa agak canggung dalam proses ini.

    Ketika menemukan Vision, kamu akan mendapatkan tiga pertanyaan seputar kisah karakter tersebut. Jawaban idealnya berkaitan dengan apa yang benar-benar dipikirkan atau dilakukan karakter itu. Akan tetapi, sekalipun jawabanmu tidak sesuai, kamu tetap bisa mendapatkan Vision tersebut.

    Akibatnya, proses perekrutan Vision opsional terkadang terasa kurang memuaskan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut memberikan sedikit konteks mengenai karakter yang bersangkutan, tetapi tidak benar-benar menjadi ujian pemahaman ataupun tantangan yang berarti.

    Lantas, apa yang bisa membuatnya lebih menarik?

    Secara pribadi, saya mengharapkan pengalaman yang lebih mendekati proses mendapatkan Esper. Untuk memperoleh Esper seperti Siren atau Ramuh dalam game ini, pemain biasanya perlu melewati rangkaian dialog, pertarungan, atau peristiwa tertentu yang memberikan bobot lebih pada proses perekrutan mereka.

    Sebaliknya, para Vision yang direkrut secara opsional di Final Fantasy Resonance terasa lebih seperti perangkat gameplay. Mereka memang penting bagi perkembangan karakter, tetapi Rain dan kawan-kawan tidak selalu memperlakukan mereka seolah-olah benar-benar hadir sebagai bagian dari petualangan. Bahkan setelah proses bicara dengan kristal untuk mendapatkan Vision, selalu ada kesan, "Eh, gitu doang? Udah kelar ini?"

    Ini cukup disayangkan, mengingat nama-nama yang bisa kamu temukan merupakan karakter ikonis dari berbagai generasi Final Fantasy.

    Meski begitu, dari sisi gameplay, Vision tetap punya peran yang sangat penting.

    Masing-masing menawarkan kemampuan berbeda, terutama dalam hal variasi serangan elemental. Dengan meningkatkan level Vision, kamu bisa membuka efek permanen maupun kemampuan yang dapat digunakan ketika memakai Vision lain.

    Sistem ini memberikan ruang untuk bereksperimen dengan kombinasi kemampuan. Dengan pemilihan Vision yang tepat, kamu bisa membangun Rain dan anggota party lainnya menjadi tim penghancur yang sangat menyenangkan untuk dimainkan.

    Dan di sinilah daya tarik mekanik tersebut benar-benar terasa. Ada kepuasan tersendiri ketika menemukan kombinasi Vision yang cocok, lalu menyaksikan hasilnya dalam pertarungan. Terlebih lagi, semua ini bisa dilakukan melalui petualangan, bukan dengan berharap mendapatkan karakter incaran dari banner gacha.

  4. 4. Gambaran Gameplay: Turn-Based dengan Mekanik Break dan Stagger

    Dokumentasi resmi Square Enix untuk Final Fantasy Resonance, menampilkan materi visual dari gim tersebut.
    (Dok. Square Enix/Final Fantasy Resonance)

    Final Fantasy Resonance mengusung sistem turn-based combat, satu lagi sentuhan old-school yang menjadi fondasi pengalaman bermainnya.

    Namun, pertarungannya tidak hanya bergantung pada pemilihan serangan terkuat. Kamu juga perlu memperhatikan mekanik Break dan Stagger.

    Setiap musuh memiliki kelemahan terhadap elemen tertentu. Dengan menyerang menggunakan elemen yang tepat, kamu dapat mengurangi Stagger Gauge mereka. Ketika musuh berhasil di-Break, giliran mereka akan terdorong jauh ke belakang dalam urutan aksi dan mereka akan menerima damage tambahan.

    Strategi ini menjadi semakin menarik ketika kamu berhasil melakukan Break terhadap semua musuh secara bersamaan. Dalam kondisi tersebut, kamu bisa memperoleh Extra Phase untuk melancarkan serangan tambahan dan menghabisi lawan sebelum mereka sempat membalas.

    Sistem ini membuat pengelolaan elemen dan urutan giliran menjadi bagian penting dari strategi.

    Menariknya, beberapa Vision yang bisa diperoleh pada tahap awal permainan, termasuk Cloud, memiliki kemampuan Libra untuk mengidentifikasi kelemahan musuh. Sementara itu, Lasswell yang memiliki kecepatan tinggi termasuk karakter yang cocok untuk dipasangi Vision Cloud agar kemampuan tersebut bisa dimanfaatkan secara efektif.

    Jadi game-nya pun sudah memberikan kemudahan sejak awal untuk menemukan kelemahan musuh.

    Kamu juga tidak harus mempertahankan susunan Vision yang sama sepanjang permainan. Setelah mengetahui kelemahan elemental musuh-musuh di suatu area, kamu bisa menyesuaikan Vision yang digunakan anggota party agar pertarungan berikutnya berlangsung lebih efisien.

    Hasilnya adalah sistem pertarungan yang relatif mudah dipahami, tetapi tetap memberikan ruang untuk eksperimen. Pemain yang mau mempelajari kelemahan lawan dan merancang kombinasi Vision yang tepat akan mendapatkan keuntungan besar.

  5. 5. Kesan Setelah 10 Jam: Mulai Terasa Grind-nya

    Tangkapan layar materi promosi gim Final Fantasy Resonance yang didokumentasikan oleh Square Enix secara resmi.
    (Dok. Square Enix/Final Fantasy Resonance)

    Seperti biasa ketika memainkan sebuah game, saya menggunakan pendekatan 10-Hour Challenge: bagaimana kesan saya terhadap gameplay setelah sekitar 10 jam bermain?

    Untuk penilaian ini, saya berfokus pada gameplay, bukan visual, cerita, ataupun karakter.

    Alasannya sederhana: setelah 10 jam, masa bulan madu dengan mekanik permainan biasanya mulai berakhir. Repetisi mulai terasa, dan kita bisa melihat apakah sebuah sistem masih menawarkan sesuatu yang menarik setelah digunakan berulang kali.

    Lantas, bagaimana kesan saya terhadap Final Fantasy Resonance?

    Pertama, mengumpulkan Vision masih terasa menarik.

    Semakin jauh menjelajah, semakin banyak Vision yang bisa ditemukan, termasuk karakter seperti Tidus dan Firion. Masing-masing membawa kemampuan yang berbeda, sehingga saya masih penasaran untuk menemukan kombinasi yang paling cocok bagi setiap anggota party.

    Ada motivasi untuk terus menjelajah, bukan hanya demi menyaksikan kelanjutan cerita, tetapi juga untuk memperluas pilihan strategi.

    Kedua, boss battle bisa terasa mendebarkan.

    Pertarungan melawan boss, terutama para Esper dan anggota The Sworn Six, dapat menjadi ujian yang cukup serius bagi tim yang sudah kamu bangun.

    Pertarungan semacam ini menuntut pemain untuk memahami kelemahan lawan, mengatur penggunaan Vision, dan memanfaatkan mekanik Break seefektif mungkin.

    Ketika strategi yang sudah disiapkan berhasil, kemenangan terasa memuaskan. Inilah salah satu bagian gameplay yang paling mampu memperlihatkan potensi sistem pertarungannya.

    Ketiga, sidequest mulai terasa repetitif.

    Saya sering menikmati dialog yang muncul dalam sidequest. Interaksi tersebut bisa memberikan informasi tambahan mengenai dunia dan karakter-karakternya.

    Sayangnya, aktivitas yang perlu dilakukan untuk menyelesaikan quest sering kali kurang bervariasi.

    Sebagian besar tugas berkisar pada pergi ke lokasi tertentu untuk berbicara dengan seseorang atau memeriksa objek, sementara yang lain meminta pemain menuju area yang ditandai di map dan mengalahkan musuh dalam jumlah tertentu.

    Pola seperti ini memang lazim ditemukan dalam JRPG, tetapi setelah dilakukan berulang kali, sidequest mulai terasa seperti pekerjaan tambahan alih-alih petualangan yang menarik dengan sendirinya.

    Keempat, sistem peningkatan level Vision bisa terasa grindy.

    Setiap Vision yang baru diperoleh memulai progresnya dari level 1. Artinya, jika kamu ingin membuat Vision yang baru ditemukan mampu bersaing dengan Vision yang sudah digunakan sejak awal permainan, kamu perlu melengkapinya pada karakter dan menggunakannya untuk bertarung.

    Beberapa level pertama biasanya masih bisa dilewati dengan mudah. Namun, seiring meningkatnya kebutuhan progres, mengembangkan Vision baru mulai membutuhkan lebih banyak waktu dan pertarungan.

    Di sinilah muncul dilema kecil: kamu ingin mencoba Vision baru karena kemampuannya menarik, tetapi kamu juga perlu menginvestasikan waktu agar Vision tersebut bisa menyusul perkembangan yang sudah dicapai sebelumnya.

    Sistem ini memang memberikan insentif untuk terus bertarung, tetapi sekaligus berpotensi membuat eksperimen terasa seperti pekerjaan tambahan.

    Padahal, salah satu daya tarik utama Vision adalah kebebasan untuk mencoba berbagai kombinasi kemampuan.

    Ketika proses pengembangannya terlalu memakan waktu, pemain justru bisa terdorong untuk bertahan dengan Vision yang sudah kuat daripada bereksperimen dengan pilihan baru.

  6. 6. Kesimpulan: JRPG Klasik yang Menyenangkan, Meski Belum Sempurna

    Tangkapan layar materi promosi gim Final Fantasy Resonance yang didokumentasikan secara resmi oleh Square Enix.
    (Dok. Square Enix/Final Fantasy Resonance)

    Setelah masa "bulan madu" dengan game-nya berlalu saya memang merasa kelemahan game ini tidak bisa diabaikan.

    Sistem peningkatan level Vision yang berpotensi grindy dan sidequest yang kurang bervariasi membuat pengalaman bermainnya tidak selalu terasa segar. Beberapa mekanik juga masih bisa dikembangkan agar karakter-karakter ikonis yang hadir sebagai Vision terasa lebih berarti dalam petualangan.

    Namun, semua itu tidak menghilangkan daya tarik utama game ini.

    Menemukan karakter favorit dari berbagai seri Final Fantasy sebagai Vision tanpa harus berhadapan dengan gacha, bereksperimen dengan kombinasi kemampuan untuk menghadapi boss, dan mengikuti perjalanan Rain untuk mencegah kristal-kristal dihancurkan oleh Sworn Six tetap menjadi pengalaman yang menyenangkan.

    Secara keseluruhan, saya memberikan Final Fantasy Resonance nilai 4 dari 5 bintang.

    Game ini memang tidak sempurna, dan pendekatan old-school-nya mungkin tidak cocok untuk semua orang. Namun, ada sesuatu yang menyenangkan dari JRPG yang membiarkan pemain menikmati petualangan, mengembangkan karakter, dan menemukan kemampuan baru tanpa harus mengejar banner berikutnya.

    Bagi kamu yang merindukan sensasi RPG bergaya 2D dari era lampau, tetapi tetap menginginkan presentasi HD-2D dan sejumlah kenyamanan modern, Final Fantasy Resonance bisa menjadi pilihan yang sangat menarik.

    Kadang, rasanya memang menyenangkan ketika cara mendapatkan karakter favoritmu cukup dengan menjelajahi dunia game dan bertualang. Tidak perlu menunggu banner. Tidak perlu berharap pada RNG. Cukup mainkan RPG-nya, dan nikmati petualangannya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More