Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

Review Onimusha Way of the Sword, Onimusha Kembali dengan Mantap!

Review Onimusha Way of the Sword, Onimusha Kembali dengan Mantap!
Screenshot Onimusha: Way of the Sword versi PS5 yang diambil redaksi Duniaku.com. (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)
  • Onimusha: Way of the Sword menghadirkan Miyamoto Musashi melawan ancaman Genma di Kyoto dengan Oni Gauntlet dan persenjataan supernatural.
  • Sistem pertarungannya mengandalkan timing melalui parry, Dodge Reflex, Deflect, Issen, stamina, serta variasi Oni Armament.
  • Boss Rematch dan performa PS5 yang stabil mendukung pengalaman bermain, meski hint dari peta dan karakter dinilai terlalu gamblang.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Lebih suka menguasai parry atau Issen di Onimusha?
Share Article

Onimusha: Way of the Sword rilis pada 4 September 2026.

Seminggu setelah perilisannya, review dari Duniaku.com akhirnya siap.

Setelah dua dekade sejak Onimusha: Dawn of Dreams, apakah kembalinya seri ini berhasil? Simak review Onimusha: Way of the Sword berikut ini!

Onimusha: Way of the Sword
4.5/5

"Seorang samurai pengguna Oni Gauntlet melawan ancaman Genma yang semakin meluas di Kyoto. Melalui perkelahian brutal dan berlumuran darah, ia mencari alasan untuk bertarung. Nasib apa yang menantinya di akhir perjalanannya?"

Genre

Action Adventure

Developers

CAPCOM Co., Ltd

Publisher

CAPCOM Co., Ltd

Platform

Nintendo Switch 2, PlayStation 5, Windows, Xbox Series X/S

Price

Rp. 910

System Requirement Onimusha: Way of the Sword

Operating System

Windows 11

Processor

Intel Core i5-8400 / AMD Ryzen 3 3100

Memory

16 GB RAM

GPU

GeForce GTX 1660(6GB) / Radeon RX 5500 XT(8GB)

DirectX

Version 12

Storage

50 GB available space

Galeri Onimusha: Way of the Sword

  1. 1. Sinopsis Game

    Dua karakter samurai bersiap bertarung di sebuah aula kayu dalam adegan permainan Onimusha: Way of the Sword dari Capcom.
    (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)

    "Seorang samurai pengguna Oni Gauntlet melawan ancaman Genma yang semakin meluas di Kyoto. Melalui perkelahian brutal dan berlumuran darah, ia mencari alasan untuk bertarung. Nasib apa yang menantinya di akhir perjalanannya?"

    Onimusha: Way of the Sword mengambil latar Kyoto pada awal periode Edo dan menghadirkan Miyamoto Musashi sebagai protagonis.

    Musashi seharusnya menjalani perjalanan hidupnya seperti yang kita kenal dari sejarah dan legenda. Namun setelah peristiwa yang berkaitan dengan perguruan Yoshioka, takdirnya berubah drastis.

    Musashi terbunuh dan kemudian kembali dengan Oni Gauntlet di tangannya. Bersama kekuatan Oni dan berbagai persenjataan supernatural, ia harus menghadapi ancaman Genma yang mulai menguasai Kyoto.

    Dan tentu saja, semua itu dilakukan dengan cara yang sangat Onimusha: pedang, darah, monster, dan banyak sekali kepala yang terpotong.

  2. 2. Pertempuran Jadi Kekuatan Utama

    Tangkapan layar Onimusha: Way of the Sword versi PS5 dari Capcom, didokumentasikan oleh redaksi Duniaku.com.
    Screenshot Onimusha: Way of the Sword versi PS5 yang diambil redaksi Duniaku.com. (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)

    Berhubung di game ini kita memainkan Miyamoto Musashi yang menggunakan pedang serta beragam perlengkapan Oni, tentu saja kalau combat-nya ampas, game-nya juga bakal kehilangan banyak daya tarik.

    Untungnya, pertempuran Onimusha: Way of the Sword justru merupakan salah satu kekuatan terbesarnya.

    Secara sederhana, Musashi memiliki beberapa variasi serangan. Ada serangan satu tangan yang lebih cepat tetapi lebih lemah, cocok untuk memberikan tekanan kepada musuh. Sementara itu, serangan dua tangan lebih kuat dan efektif untuk menghancurkan pertahanan lawan, tetapi memiliki wind-up yang lebih lambat.

    Namun untuk menjadi pendekar pedang sejati di game ini, kamu tidak cukup hanya memikirkan kapan harus menyerang. Kamu juga harus bereaksi terhadap serangan musuh.

    Baik Musashi maupun musuh memiliki bar merah di bawah HP utama. Bar ini berkaitan dengan stamina atau ketahanan mereka. Ketika bar tersebut habis, pertahanan mereka akan terbuka dan mereka menjadi jauh lebih rentan.

    Cara paling sederhana menghadapi serangan adalah menggunakan block. Namun block biasa berpotensi menguras stamina.

    Atau kamu bisa menguasai parry: melakukan block tepat pada momen serangan lawan mengenai Musashi. Parry tidak menghabiskan stamina dan dapat membuka kesempatan untuk melakukan serangan balik.

    Masalahnya tentu saja sederhana: kamu harus tahu timing-nya.

    Ada pula Dodge Reflex, yaitu mengelak tepat ketika serangan musuh hampir mengenai Musashi. Teknik ini bahkan bisa lebih efektif daripada parry ketika menghadapi serangan tertentu yang tidak menggunakan senjata.

    Setelah skill tertentu terbuka, Musashi juga mendapatkan kemampuan Deflect. Teknik ini menggunakan input yang sedikit berbeda dari parry dan dapat menguras stamina musuh lebih banyak. Bahkan proyektil yang datang ke arah Musashi dapat dipantulkan kembali kepada musuh.

    Lalu ada mekanik yang sudah menjadi identitas Onimusha: Issen.

    Ini adalah mekanik yang sangat high risk, high reward. Kamu harus menekan serangan ringan atau berat tepat sebelum serangan musuh mengenai Musashi.

    Jika berhasil, Musashi langsung melancarkan serangan balik dengan damage besar.

    Jika gagal? Ya, kamu yang kena pukul. Timing adalah segalanya.

    Namun ketika berhasil melakukan Issen terhadap musuh yang sedang agresif, situasi pertarungan bisa langsung berubah. Musuh yang sebelumnya terus menekan Musashi bisa mendadak kehilangan momentum dan justru berada dalam posisi terdesak.

    Dan seiring perjalanan, Musashi juga memperoleh berbagai Oni Armament yang memberikan variasi baru untuk menghadapi musuh.

    Ketika semua mekanik tersebut mulai dipadukan, pertempuran Onimusha berubah menjadi pertarungan berbasis timing, positioning, dan pembacaan gerakan musuh yang terasa seru dan mendebarkan.

    Terutama kalau kamu bermain setidaknya pada tingkat kesulitan Action, yang merupakan tingkat kesulitan standar.

    Pada titik itu, game benar-benar meminta kamu untuk memahami kemampuan Musashi, bukan sekadar menekan tombol serangan sampai musuh mati.

  3. 3. Mekanik Pertempuran Bersinar Ketika Melawan Boss

    Tangkapan layar Onimusha: Way of the Sword versi PS5 dari Capcom, didokumentasikan oleh redaksi Duniaku.com.
    Screenshot Onimusha: Way of the Sword versi PS5 yang diambil redaksi Duniaku.com. (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)

    Musuh reguler di Onimusha: Way of the Sword terasa seperti bertarung dengan gaya begundal dari film Jidaigeki.

    Mereka kadang akan menyerang secara bergantian, sementara beberapa jenis musuh memiliki tell yang cukup jelas sebelum melancarkan serangan.

    Pada awalnya, perilaku seperti ini mungkin terasa aneh dan bikin battle gampang. Namun semakin jauh permainan berjalan, serta jumlah dan variasi musuh yang mengeroyok Musashi semakin berkembang.... "musuh nyerang satu-satu" ini bisa terasa sebagai kemudahan yang patut disyukuri.

    Tetapi kalau ingin melihat di mana sistem combat Onimusha benar-benar bersinar? Lawan boss.

    Mekanik pertempuran game ini membuat setiap pertarungan boss terasa intens dan mendebarkan. Setiap boss memiliki pola, karakteristik, serta tuntutan timing yang berbeda sehingga kemampuan yang sudah kamu pelajari benar-benar diuji.

    Hal tersebut bahkan sudah terasa sejak misi awal, "The Stage is Set at Kiyomizu."

    Musuh-musuh biasa pada bagian tersebut relatif mudah dipahami. Kamu bisa menikmati power fantasy sebagai Musashi.

    Kemudian Sasaki Ganryu muncul sebagai boss pertama. Tiba-tiba standar permainan berubah.

    Ganryu menguji pemahamanmu terhadap timing serangan, parry, dan Dodge Reflex, sementara pada saat yang sama banyak kemampuan kuat Musashi belum terbuka.

    Hasilnya adalah sebuah boss fight yang terasa seperti: "Oke, sekarang tunjukkan apakah kamu benar-benar memahami combat game ini."

    Dan pola tersebut terus berlanjut dengan boss-boss berikutnya.

  4. 4. Karena Itu, Saya Sangat Mengapresiasi Fitur Boss Rematch

    Pertarungan antara karakter utama dan Sasaki Ganryu di dalam permainan Onimusha: Way of the Sword di arena kayu gelap.
    (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)

    Boss-boss di Onimusha: Way of the Sword bukan hanya menantang, tetapi juga memiliki gaya bertarung yang cukup variatif.

    Kamu mungkin sudah memahami gaya bertarung Sasaki Ganryu di Kuil Kiyomizu yang mengandalkan teknik pedang agresif.

    Namun ketika musuh berikutnya adalah Genma bertubuh besar yang membawa gada, pendekatanmu harus berubah lagi.

    Setiap boss memberikan ujian yang berbeda.

    Mereka mungkin membuatmu kesal ketika pertama kali bertemu. Tetapi ketika akhirnya kamu memahami solusinya dan berhasil menang? Sensasinya luar biasa.

    Karena itu, saya sangat mengapresiasi adanya fitur Boss Rematch.

    Seiring cerita berjalan, fitur latihan akan terbuka, dan Boss Rematch merupakan salah satu fitur yang bisa kamu akses dari sana. Fitur ini sepenuhnya opsional. Kamu tidak wajib menggunakannya untuk menyelesaikan cerita, kecuali mungkin jika kamu mengejar hal-hal tambahan seperti kosmetik atau trophy.

    Namun untuk saya yang memang mengapresiasi kualitas pertarungan boss, fitur ini sangat menyenangkan.

    Kamu bisa langsung mengulang boss tertentu kapan saja tanpa harus memainkan ulang bagian cerita yang panjang.

    Bahkan fitur ini berguna untuk melatih skill baru yang baru saja kamu dapatkan.

    Misalnya kamu baru membuka Reflex Combo, counterattack yang bisa dilakukan setelah beberapa kali menggunakan Dodge Reflex.

    Kamu bisa langsung memilih boss dengan serangan fisik agresif seperti Byakue, lalu berlatih memahami timing dan cara memanfaatkan skill tersebut.

    Ingin melatih timing Issen? Boss Rematch.

    Ingin mencoba mengalahkan boss dengan self-imposed challenge, seperti no-hit run? Boss Rematch.

    Ingin sekadar mengulang boss favorit karena pertarungannya memang menyenangkan? Boss Rematch.

    Untuk game action dengan boss-boss berkesan, saya rasa fitur seperti ini memang seharusnya semakin umum.

    Kalau sebuah game sudah berhasil membuat boss fight yang menyenangkan untuk dipelajari, sayang sekali kalau pemain hanya diberi kesempatan menikmatinya sekali.

  5. 5. 10-Hour Test

    Tangkapan layar Onimusha: Way of the Sword versi PS5, menampilkan suasana permainan dari Capcom.
    Screenshot Onimusha: Way of the Sword versi PS5 yang diambil redaksi Duniaku.com. (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)

    Tes 10 Jam adalah metode personal saya dalam menguji kekuatan sebuah game single-player.

    Alasannya sederhana: setelah sekitar 10 jam, masa "bulan madu" dengan mekanik game baru seharusnya mulai terlewati. Kalau ada kelemahan mendasar, biasanya pada titik ini mulai terasa.

    Tetapi untuk Onimusha: Way of the Sword? 10 jam berlalu dan saya malah ingin lebih.

    Saya masih sibuk menggali kesempurnaan dan memahami teknik menghadapi berbagai boss melalui Boss Rematch.

    Saya masih bisa dengan santai menjelajahi area Kyoto Timur yang terbuka, mencari upgrade, dan mengikuti perjalanan Musashi menghadapi Genma.

    Bahkan ketika permainan sudah menembus 20 jam, Onimusha: Way of the Sword masih terasa segar dan tetap menantang untuk dimainkan.

    Hal lain yang patut diapresiasi adalah performa teknisnya.

    Dalam versi PS5 yang saya mainkan, game terasa stabil dan mulus. Saya tidak mengalami kendala teknis berarti sepanjang permainan.

    Untuk game action yang sangat bergantung pada timing dan respons input, aspek ini penting.

    Kalau game meminta kamu melakukan parry dalam sepersekian detik, tentu akan sangat menyebalkan kalau kegagalannya ternyata disebabkan oleh masalah teknis.

    Untungnya, itu bukan masalah yang saya alami di sini.

    Jadi, ya. Onimusha lolos dari ujian 10 jam saya dengan luar biasa.

    Bahkan ujian 20 jam pun masih dilewatinya dengan cukup meyakinkan.

  6. 6. Kelemahan

    Tangkapan layar Onimusha: Way of the Sword versi PS5 dari Capcom, didokumentasikan oleh redaksi Duniaku.com.
    Screenshot Onimusha: Way of the Sword versi PS5 yang diambil redaksi Duniaku.com. (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)

    Uniknya, setelah melewati 10 jam, kelemahan yang paling mengganggu saya ternyata bukan dari sisi teknis maupun combat.

    Masalah saya justru adalah: game ini kadang terasa terlalu ingin membantu pemain.

    Tujuan misi hingga lokasi peti harta kadang ditandai dengan cukup jelas di peta. Kamu juga memiliki Oni Vision yang dapat di-upgrade sehingga secara pasif membantu menemukan peti harta di area tertentu.

    Hal tersebut memang memudahkan eksplorasi. Malah mungkin terlalu memudahkan.

    Masalah yang sama juga muncul ketika bertarung.

    Shizuka Gozen, yang menjadi jiwa di dalam Oni Gauntlet Musashi, terkadang akan berulang memberikan saran mengenai mekanik yang pada titik tertentu sebenarnya sudah cukup saya pahami.

    Misalnya, menggunakan Oni Strength untuk menghancurkan pertahanan musuh yang membawa perisai atau sedang melakukan guard.

    Musashi sendiri terkadang juga mengucapkan secara terang-terangan strategi yang bisa digunakan untuk menghadapi musuh tertentu, seperti memanfaatkan parry atau deflect terhadap serangan agresif.

    Sekali lagi, hal ini tidak benar-benar mengganggu pertempuran. Pada akhirnya, kamu tetap yang mengendalikan Musashi.

    Namun ada beberapa momen ketika saya berpikir: "Saya sudah tahu, Musashi/Shizuka, gak usah diulang lagi."

    Saya berharap ada opsi untuk mengurangi atau menonaktifkan pengulangan hint dari Musashi dan Shizuka setelah mekanik tertentu sudah diperkenalkan.

    Memang, opsi tersebut berpotensi membuat pemain yang lupa atau kebingungan tidak mendapatkan bantuan.

    Tetapi bagi pemain yang sudah memahami sistem combat, pilihan untuk mengurangi hint akan membuat pengalaman terasa lebih natural.

    Dan ini terasa cukup disayangkan karena sistem combat Onimusha sendiri sudah cukup bagus untuk membuat pemain belajar melalui permainan, bukan terus-menerus diberi tahu apa yang harus dilakukan.

  7. 7. Kesimpulan

    Tangkapan layar Onimusha: Way of the Sword versi PS5, memperlihatkan adegan permainan karya Capcom.
    Screenshot Onimusha: Way of the Sword versi PS5 yang diambil redaksi Duniaku.com. (Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword)

    Saya memberikan Onimusha: Way of the Sword nilai 4,5 dari 5 bintang.

    Ini adalah sebuah comeback yang luar biasa.

    Game utama Onimusha terakhir yang saya mainkan adalah Onimusha: Dawn of Dreams, yang dirilis pada 2006.

    Dua puluh tahun kemudian, Onimusha kembali dan melakukannya dengan sangat, sangat kuat.

    Kekuatan terbesar game ini jelas terletak pada combat-nya.

    Sistem parry, Dodge Reflex, Deflect, Issen, stamina, berbagai serangan Musashi, hingga Oni Armament berpadu menjadi sistem pertarungan yang menuntut timing tetapi tetap memberikan kepuasan luar biasa ketika dikuasai.

    Dan sistem tersebut paling bersinar ketika berhadapan dengan boss.

    Ditambah lagi dengan Boss Rematch, game memberikan alasan yang sangat bagus untuk terus mengasah kemampuan bahkan setelah sebuah boss berhasil dikalahkan.

    Performa teknis di PS5 juga solid, sehingga tidak ada masalah berarti yang mengganggu pertarungan cepat dan presisi.

    Kelemahan utama saya justru berasal dari sesuatu yang sebenarnya berniat membantu: game terlalu sering memberikan hint yang gamblang, baik melalui peta, Oni Vision, maupun dialog Musashi dan Shizuka.

    Untungnya, kelemahan tersebut tidak sampai merusak pengalaman secara keseluruhan.

    Jadi, kalau kamu mencari game action dengan pertarungan samurai yang intens, brutal, dan menuntut penguasaan timing, Onimusha: Way of the Sword sangat layak dicoba!

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More