- Ia menghadapi upaya perguruan Yoshioka menyergapnya dengan cara yang jauh dari duel formal nan terhormat, dimana dia awamnya digambarkan memulai dengan menyerang pemimpin baru mereka dulu secara mendadak.
- Ia sengaja datang terlambat dalam beberapa pertarungan penting, termasuk menghadapi Yoshioka Denshichiro dan Sasaki Kojiro.
- Dalam kisah duel melawan Sasaki Kojiro, ia bahkan menggunakan dayung yang dimodifikasi menjadi senjata untuk menghadapi lawannya yang membawa nodachi.
Alasan Miyamoto Musashi Terasa Pas Sebagai Protagonis Onimusha Baru

- Miyamoto Musashi dipilih sebagai protagonis Onimusha: Way of the Sword yang menghadapi Genma dan menggunakan kekuatan Oni.
- Citra Musashi yang pragmatis dinilai selaras dengan mekanik stealth kill serta penggunaan perlengkapan yang berguna dalam pertarungan.
- Game memakai Musashi yang sudah kuat dalam teknik pedang, tetapi masih berada dalam fase perkembangan spiritual dan filosofis.
Onimusha: Way of the Sword memiliki protagonis yang terinspirasi dari sosok samurai nyata, yaitu Miyamoto Musashi.
Uniknya, kalau dipikir-pikir, Musashi memang termasuk sosok samurai dalam sejarah Jepang yang terasa sangat pas ditempatkan dalam game dengan mekanik seperti Onimusha.
Kenapa? Ini beberapa alasannya!
Table of Content
1. Musashi asli dikenal sebagai sosok yang pragmatis

(Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword) Onimusha: Way of the Sword memiliki mekanik stealth takedown, di mana Musashi bisa mendekati Genma secara diam-diam lalu menghabisi mereka.
Mungkin sekilas cara seperti ini terasa kurang "kesatria". Tapi ingat: ini Miyamoto Musashi.
Dalam kisah-kisah populer tentang Musashi, termasuk novel Musashi karya Eiji Yoshikawa, ia berkali-kali digambarkan sebagai orang yang sangat pragmatis ketika menghadapi pertarungan.
Misalnya:
Dengan kata lain, Musashi bukan tipe pendekar yang berpikir: "Saya harus menang dengan cara yang paling terhormat." Melainkan pada akhirnya: "Saya harus menang."
Tentu saja, detail-detail tersebut berasal dari tradisi kisah Musashi yang bercampur antara sejarah dan fiksi, terutama versi populer seperti karya Yoshikawa.
Namun justru citra Musashi sebagai pendekar yang pragmatis membuat mekanik Onimusha terasa cocok untuknya.
Ia mungkin tidak langsung senang ketika harus menggunakan kekuatan Oni atau perlengkapan Oni, tetapi begitu sesuatu terbukti berguna untuk memenangkan pertarungan, sulit membayangkan Musashi menolaknya hanya karena "tidak kesatria".
Stealth kill? Masuk akal. Memanfaatkan kekuatan Oni ketika diperlukan? Musashi mungkin menggerutu, tapi kemungkinan besar tetap melakukannya.
2. Game memilih Musashi pada fase yang sangat menarik dalam hidupnya

(Dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword) Way of the Sword mengambil Musashi pada titik ketika hidupnya seharusnya mulai memasuki fase penting setelah menghadapi perguruan Yoshioka.
Namun dalam versi game, takdir Musashi kemudian dibelokkan secara supernatural.
Alih-alih melanjutkan perjalanan hidupnya seperti dalam sejarah dan legenda, ia justru terbunuh... lalu hidup lagi dan terseret ke dalam konflik melawan Genma, dengan Oni Gauntlet berada di tangannya.
Ini menarik karena Musashi yang digunakan game bukan Musashi tua yang sudah dikenal sebagai filsuf dan penulis The Book of Five Rings.
Ia juga belum mencapai sosok Musashi yang dalam kisah-kisah populernya mulai mencari makna hidup yang lebih luas, termasuk fase ketika ia sempat meninggalkan kehidupan sebagai pengembara dan menjalani kehidupan yang lebih tenang.
Ini adalah Musashi yang secara teknik pedang sudah sangat kuat, tetapi secara spiritual dan filosofis masih dalam perkembangan.
Bahkan dalam kisah populer tentang hidupnya, jika takdir berjalan seperti yang dikenal dalam legenda, ia masih akan menghadapi berbagai pertarungan besar setelah konflik Yoshioka.
Untuk protagonis sebuah game action, posisi ini terasa sangat ideal.
Musashinya sudah cukup kuat untuk dipercaya menghadapi monster dan pendekar legendaris, tetapi masih memiliki ruang perkembangan karakter yang besar.
Jadi pemain tidak mendapatkan Musashi yang sudah sempurna, melainkan Musashi yang sudah sangat hebat, tetapi masih perlu berkembang sebelum menjadi legenda.
3. Musashi memang memiliki reputasi sebagai sosok yang selamat dari berbagai macam pertarungan

Onimusha: Way of the Sword (dok. Capcom/Onimusha: Way of the Sword) Musashi juga cocok sebagai protagonis Onimusha karena reputasinya tidak hanya dibangun dari satu duel terkenal.
Dalam berbagai kisah tentang hidupnya, ia digambarkan menghadapi banyak jenis lawan dan situasi.
Ia dikaitkan dengan konflik melawan banyak anggota perguruan Yoshioka, duel melawan pendekar seperti Sasaki Kojiro, serta berbagai pertarungan lain sepanjang perjalanan hidupnya.
Artinya, citra Musashi bukan sekadar samurai yang jago duel satu lawan satu.
Ia adalah seorang pendekar pengembara yang dalam legenda dan kisah populer digambarkan harus menghadapi kelompok lawan, penyergapan, duel, perjalanan berbahaya, dan berbagai situasi yang tidak selalu ideal.
Itu membuat transisi dari legenda Musashi ke protagonis game action terasa cukup natural.
Tentu saja, Musashi asli tidak pernah punya pengalaman melawan Genma.
Namun kalau seseorang ingin mengambil seorang pendekar historis Jepang, lalu memberinya pedang, Oni Gauntlet, dan menyuruhnya menghadapi pasukan monster dalam game action, Musashi memang salah satu pilihan yang paling mudah dipercaya.
Apalagi Onimusha sendiri sudah terbiasa mencampurkan sejarah Jepang dengan fantasi supernatural.



















