Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Review Series Wonder Man, Kisah Superhero tanpa Pamer Kekuatan Super

MV5BYTEyMzg1MDctOGFjZi00ZjA3LWEyYWYtYjliZjdlNzU4M2NmXkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. Marvel Studios (Wonder Man)
Intinya sih...
  • Awal musim: Pendekatan karakter yang membumi dan emosional
  • Tengah musim: Drama persahabatan dengan konflik personal yang kuat
  • Klimaks emosional: Penutupan musim yang fokus pada resolusi karakter
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Dua episode pembuka Wonder Man berjalan dengan tempo yang sengaja ditahan. Serial ini tidak terburu-buru memancing penonton dengan konflik besar, melainkan mengajak masuk ke kehidupan Simon Williams yang berantakan, canggung, dan penuh kegagalan kecil. Pendekatan ini mungkin terasa sepi bagi penonton Marvel konvensional, tapi justru di sinilah fondasi emosionalnya dibangun.

Episode pertama fokus memperkenalkan dunia: Hollywood yang banal, aktor-aktor putus asa, dan rutinitas audisi yang mematahkan harga diri. Konflik hadir dalam skala personal seperti pemecatan, hubungan yang retak, dan rasa tidak diakui, bukan dalam bentuk ancaman global. Cerita terasa intim dan membumi.

Episode kedua mulai menyelipkan humor meta dan ironi khas Marvel, tapi tetap menjaga jarak dari aksi berlebihan. Pertemuan Simon dengan Trevor Slattery bukan sekadar cameo nostalgia, melainkan titik balik dramatis yang terasa alami. Penulisan dialog menjadi kekuatan utama di fase ini.

Secara keseluruhan, awal musim dinilai solid secara karakter, meski ritmenya sengaja lambat. Cerita belum meledak, tapi sudah jelas ke mana arah emosionalnya dibawa.

1. Tengah Musim: Buddy Comedy yang Menguatkan Narasi

MV5BZjRhYzc5ZWQtNWExMC00YmU1LWFmNzctYzRlNzg0N2I4YTg4XkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. Marvel Studios (Wonder Man)

Memasuki episode 3 hingga 5, Wonder Man menemukan bentuknya sebagai drama persahabatan dengan balutan komedi. Relasi Simon dan Trevor berkembang bukan lewat montase instan, tapi melalui percakapan, konflik kecil, dan kegagalan bersama. Dinamika mereka menjadi mesin utama cerita.

Setiap episode di fase ini memiliki fokus tematik yang jelas: ambisi, rasa bersalah, kecemburuan profesional, dan kebutuhan untuk diakui. Alur per episode terasa episodik namun tetap terhubung rapi, tanpa kesan filler. Bahkan subplot yang absurd tetap relevan secara emosional.

Serial ini juga mulai lebih berani bermain eksperimental. Ada episode yang terasa seperti sitkom satir industri hiburan, ada pula yang nyaris seperti drama keluarga. Variasi tone ini dijaga agar tidak memecah identitas serial.

Penilaian alur di tengah musim sangat positif. Konflik meningkat tanpa terasa dipaksakan, dan karakter tumbuh konsisten. Penonton diajak menikmati perjalanan, bukan menunggu klimaks semata.

2. Pengelolaan Konflik dan Superpower yang Terkendali

MV5BMTA4ZGZhYjktYWE5Zi00MTBkLTkwMWQtNjJmOWMzMzJiNDQ2XkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. Marvel Studios (Wonder Man)

Menjelang episode 6 dan 7, unsur superhero mulai mendapat porsi lebih besar, namun tetap dikontrol ketat. Kekuatan Simon tidak langsung menjadi solusi, melainkan sumber masalah baru. Cerita memilih pendekatan psikologis ketimbang spektakel.

Setiap episode di fase ini memperlihatkan bagaimana emosi Simon berdampak langsung pada karier dan relasinya. Konflik internal lebih dominan dibanding ancaman eksternal, membuat ketegangan terasa personal. Penonton tidak disuguhi pertanyaan siapa lawan berikutnya, melainkan apa konsekuensi pilihan karakter.

Penulisan konflik terasa dewasa dan konsisten. Tidak ada lonjakan dramatik mendadak hanya demi cliffhanger. Bahkan saat rahasia dan tekanan meningkat, ceritanya tetap membumi.

Sebagai serial Marvel, ini adalah keputusan berani. Alur per episode dinilai matang, fokus, dan tidak terjebak kebutuhan membangun set piece besar.

3. Klimaks Emosional, Bukan Ledakan

MV5BNTU0YmUyMGYtZGZmZS00NzBmLTk0OGQtOTE2ZGJjNmU2YWVhXkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. Marvel Studios (Wonder Man)

Final season Wonder Man menutup cerita dengan pendekatan yang jarang dipilih Marvel. Resolusi karakter menjadi pusat perhatian. Episode terakhir hampir sepenuhnya berfokus pada konsekuensi hubungan, pilihan hidup, dan penerimaan diri.

Alih-alih pertarungan besar, klimaks dibangun melalui dialog, konfrontasi personal, dan keputusan moral. Setiap benang cerita ditutup dengan logika emosional, bukan dengan kejutan bombastis. Ini membuat akhir musim terasa memuaskan secara naratif.

Secara struktur, episode final bekerja sebagai cermin episode pertama. Perubahan karakter terlihat jelas tanpa perlu dijelaskan secara verbal. Pertumbuhan Simon dan Trevor terasa wajar karena dibangun konsisten sejak awal.

Penilaian akhir menunjukkan penutupan musim yang kuat untuk ukuran serial superhero. Tidak semua penonton Marvel akan menyukainya, tapi bagi yang bertahan, ini adalah payoff yang jujur dan berkelas.

4. Kesimpulan

MV5BZWZiODQ3YWItOWE3MS00MmIwLWJkZjgtOWFjMjBkYWM2NGU4XkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. Marvel Studios (Wonder Man)

Jika dinilai sebagai satu musim penuh, Wonder Man memiliki alur episodik yang rapi dan terencana. Setiap episode punya fungsi naratif jelas dan tidak ada yang terasa mubazir atau hanya pengisi durasi.

Kekuatan utamanya terletak pada konsistensi tone dan karakter. Perkembangan cerita tidak meloncat-loncat demi fan service atau agenda semesta MCU. Ini serial yang tahu kapan harus diam dan kapan harus bicara.

Kelemahannya ada pada representasi karakter pendukung yang kurang merata, terutama karakter perempuan yang kerap tersisih dari konflik utama. Namun hal ini tidak sampai merusak struktur cerita utama.

Secara keseluruhan, alur cerita Wonder Man per episode layak dinilai sebagai salah satu yang paling stabil dan berani dalam sejarah Marvel Television. Ini bukan Marvel paling spektakuler, tapi yang paling dewasa.

Sinopsis Wonder Man (2026)

Wonder Man mengikuti kisah Simon Williams, aktor Los Angeles yang berbakat namun terus gagal karena idealismenya sendiri. Terlalu serius, terlalu perfeksionis, dan sering menyabotase peluangnya, Simon terjebak di pinggiran industri hiburan sambil berjuang mempertahankan hubungan pribadi yang mulai runtuh.

Hidup Simon berubah ketika ia bertemu Trevor Slattery, aktor tua yang pernah menjadi pusat skandal besar dan kini hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Pertemuan mereka bukan kebetulan, dan perlahan berkembang menjadi persahabatan aneh yang dibangun di atas rasa bersalah, kecintaan pada seni peran, dan kegagalan yang sama-sama pahit.

Di tengah absurditas Hollywood modern, Simon mendapat kesempatan mengikuti audisi reboot film superhero legendaris Wonder Man, peran impian yang bisa mengubah hidupnya. Namun ambisi ini datang bersamaan dengan munculnya kekuatan tak terduga yang menuntut kontrol emosi mutlak, sesuatu yang selama ini tidak pernah bisa ia kuasai.

Alih-alih menjadi kisah superhero konvensional, Wonder Man berkembang sebagai drama karakter tentang identitas, harga diri, dan makna menjadi “pahlawan” di dunia yang lebih peduli citra daripada kejujuran. Serial ini memadukan satire industri hiburan, komedi pahit, dan konflik emosional untuk menunjukkan bahwa terkadang, pertarungan terbesar bukan melawan musuh berkostum, melainkan melawan diri sendiri.

Wonder Man
2026
4/5
Directed by Destin Daniel Cretton, James Ponsoldt, Tiffany Johnson, Stella Meghie
Producer

Bonnie Muñoz, Kevin Feige, Stephen Broussard, Jonathan Schwartz

Writer

Andrew Guest

Age Rating

R13+

Genre

Action-adventure, Comedy, Superhero

Duration

26 Minutes

Release Date

27-01-2026

Theme

Supehero

Production House

Marvel Television

Where to Watch

Disney+

Cast

Yahya Abdul-Mateen II, Ben Kingsley, Arian Moayed, X Mayo

Trailer Wonder Man (2026)

Galeri Wonder Man (2026)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Film

See More

Review Series Wonder Man, Kisah Superhero tanpa Pamer Kekuatan Super

08 Feb 2026, 15:00 WIBFilm