Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Penilaian Film Send Help, Ketika Hirarki Kantor Berubah Menjadi Dendam

MV5BYzkyOWI0ODQtYWE1OC00ZWY0LWFlODAtNjg0NTU2NDc2NjlmXkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. 20th Century Studios (Send Help)
Intinya sih...
  • Penilaian Film Send Help, Ketika Hirarki Kantor Berubah Menjadi Dendam
    • Pulau Terpencil dan Hirarki yang Terbalik
    • Akting yang Menahan Film Tetap Bernapas
    • Gore, CGI, dan Kritik Budaya Kerja
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Send Help hadir sebagai pengingat yang agak mengejutkan bahwa Sam Raimi masih menyimpan naluri liar yang dulu membuat namanya disegani. Film ini terasa seperti pelepasan hasrat kreatif setelah bertahun-tahun Raimi terjebak dalam proyek studio yang membatasi kebengalannya. Ada energi nekat yang mengingatkan pada masa awal kariernya, ketika horor, humor, dan kekejaman bisa bercampur tanpa harus meminta izin pada siapa pun.

Namun kebebasan itu tidak selalu berjalan mulus. Dengan premis yang sangat sederhana, Send Help justru membentangkan durasi yang terasa terlalu panjang. Struktur ceritanya lambat di awal, seolah Raimi masih ragu kapan harus menekan pedal gas. Tapi begitu film ini mulai memperlihatkan sisi “sakit”-nya, kekurangan tempo itu agak termaafkan karena ada sensasi menonton sutradara yang akhirnya kembali bersenang-senang.

Yang paling terasa adalah bagaimana film ini tidak tampak dibuat untuk menyenangkan semua orang. Ada adegan-adegan yang sengaja membuat penonton tidak nyaman, baik lewat humor yang canggung maupun kekerasan yang menjijikkan. Di titik-titik inilah Send Help terasa paling hidup, seakan Raimi sedang mengingatkan bahwa horor tidak harus rapi atau sopan untuk meninggalkan bekas.

1. Pulau Terpencil dan Hirarki yang Terbalik

MV5BZDVmYjZiMTAtZDIwMC00ZTNkLTlkMzItZDgxZjNkYjI1OGJiXkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. 20th Century Studios (Send Help)

Cerita dimulai dari konflik dunia kerja yang sangat membumi. Linda Liddle adalah pegawai setia yang dijanjikan promosi, namun semua runtuh setelah bos lamanya meninggal dan posisi puncak diambil alih oleh anaknya yang manja. Perjalanan bisnis ke Bangkok yang seharusnya menjadi kesempatan terakhir justru berubah menjadi mimpi buruk ketika pesawat mereka jatuh dan meninggalkan dua karakter ini terdampar di pulau terpencil.

Pulau ini berfungsi sebagai ruang netral yang kejam. Semua status, jabatan, dan gelar mendadak tak berarti. Bradley yang terbiasa memerintah tanpa kompetensi kini harus bergantung pada Linda yang selama ini diremehkan. Perubahan relasi kuasa ini menjadi jantung cerita, dan Raimi cukup sabar membiarkan ketegangan itu tumbuh perlahan melalui interaksi kecil dan keputusan-keputusan bertahan hidup.

Yang menarik, film ini tidak menjadikan pulau sebagai arena petualangan semata. Tidak ada eksplorasi besar atau ancaman eksternal yang terus-menerus. Justru kebosanan, keterbatasan, dan rasa putus asa yang membentuk konflik. Dalam kesunyian itu, sisi paling buruk dari kedua karakter mulai muncul, membuat pulau terasa seperti ruang interogasi psikologis daripada sekadar lokasi survival.

2. Akting yang Menahan Film Tetap Bernapas

MV5BOTk0YWNiNzUtZGZhOS00ZDlkLWE1ZDItNWIwMTQyMjY2ZTU3XkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. 20th Century Studios (Send Help)

Bagian awal film berpotensi jatuh membosankan karena terlalu lama membangun simpati pada Linda dan terlalu terang-terangan menjadikan Bradley sebagai sosok menjengkelkan. Namun Rachel McAdams berhasil membuat fase ini tetap bernyawa. Ia memberi Linda kepribadian yang tidak datar, memadukan keramahan berlebihan, kecanggungan sosial, dan kemarahan yang ditekan bertahun-tahun.

McAdams memainkan transformasi Linda dengan halus. Ada momen ketika ia menyadari bahwa situasi buruk ini justru memberinya peran yang belum pernah ia miliki: menjadi orang yang benar-benar dibutuhkan. Perasaan itu tidak disampaikan lewat dialog besar, melainkan lewat perubahan sikap dan tatapan, membuat karakter Linda terasa manusiawi dan dekat dengan pengalaman banyak penonton.

Di sisi lain, Dylan O’Brien menghadapi tantangan berat karena Bradley ditulis nyaris tanpa kualitas simpatik. Meski begitu, O’Brien tetap menyelipkan lapisan-lapisan kecil yang memberi petunjuk bahwa kebengisan Bradley juga lahir dari ketidakdewasaan dan kekosongan. Usaha ini tidak selalu berhasil membuat karakter tersebut dapat dimaklumi, tetapi cukup untuk mencegahnya menjadi kartun satu dimensi.

3. Gore, CGI, dan Kritik Budaya Kerja

MV5BNmMwNDNlZmQtM2YwYi00ZDg4LTk4OWEtMGIxYjYzNzg0YTM1XkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. 20th Century Studios (Send Help)

Ketika film memasuki paruh akhir, Send Help akhirnya menemukan identitasnya secara penuh. Raimi mulai bermain dengan gore yang berlebihan, menjijikkan, dan kadang absurd. Penggunaan CGI di sini terasa lebih selaras dengan gaya visualnya yang memang tidak mengejar realisme, melainkan sensasi dan reaksi spontan penonton. Ada momen-momen yang terasa kasar secara visual, namun justru itulah bagian yang paling menghibur.

Di balik lapisan gore dan humor gelap, film ini menyimpan kritik yang cukup tajam terhadap budaya kerja. Send Help bukan sekadar sindiran tentang orang kaya yang pantas menderita, melainkan tentang kekuasaan yang diberikan pada mereka yang tidak punya empati atau kompetensi. Bradley kehilangan kendali bukan karena ia miskin atau terasing, tetapi karena ia tidak pernah belajar bertahan tanpa privilese.

Sayangnya, ide-ide ini tidak selalu menyatu dengan rapi. Narasinya terasa episodik, seperti rangkaian konflik yang berulang tanpa perkembangan yang jelas. Namun terlepas dari kekacauan struktur tersebut, Send Help tetap menjadi pengalaman menonton yang hidup, terutama jika disaksikan bersama orang lain. Ini mungkin bukan karya terbaik Raimi, tetapi cukup kuat untuk menegaskan bahwa ia kembali ke zona nyamannya: horor yang kotor, lucu, dan tidak peduli untuk disukai semua orang.

Sinopsis Send Help (2026)

Send Help mengikuti kisah Linda Liddle, seorang pegawai setia yang telah mengabdi bertahun-tahun pada perusahaannya dengan harapan mendapat promosi sebagai wakil presiden. Harapan itu runtuh ketika sang atasan meninggal dunia dan posisi puncak justru diwarisi oleh putranya, Bradley Preston, seorang CEO muda yang arogan, meremehkan bawahan, dan tidak menghargai loyalitas lama.

Linda diberi satu kesempatan terakhir untuk membuktikan diri dengan ikut dalam perjalanan bisnis ke Bangkok guna mengawasi proses merger perusahaan. Namun perjalanan tersebut berubah menjadi bencana ketika pesawat yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan dan membuat Linda serta Bradley terdampar di sebuah pulau terpencil tanpa bantuan dan fasilitas apa pun.

Terputus dari dunia modern, hubungan kuasa antara keduanya perlahan terbalik. Linda yang selama ini dipinggirkan justru memiliki kemampuan bertahan hidup yang lebih baik, sementara Bradley yang terbiasa memerintah harus bergantung pada orang yang ia remehkan. Situasi ini memicu konflik psikologis, perebutan kendali, dan pengungkapan sisi tergelap dari masing-masing karakter.

Seiring waktu berlalu dan harapan untuk diselamatkan semakin tipis, pulau tersebut menjadi arena pertarungan batin dan fisik. Send Help bukan hanya kisah bertahan hidup, tetapi juga potret kejam tentang kekuasaan, harga diri, dan bagaimana manusia berubah ketika struktur sosial yang melindungi mereka runtuh sepenuhnya.

Send Help
2026
4/5
Directed by Sam Raimi
Producer

Sam Raimi, Zainab Azizi

Writer

Damian Shannon, Mark Swift

Age Rating

D17+

Genre

Horror, Thriller, Survival, Dark Comedy

Duration

113 Minutes

Release Date

28-01-2026

Theme

Survival, Power dynamics

Production House

20th Century Studio

Where to Watch

Cinema XXI, CGV, Cinepolis

Cast

Rachel McAdams, Dylan O’Brien

Trailer Send Help (2026)

Share
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Film

See More

Penilaian Film Send Help, Ketika Hirarki Kantor Berubah Menjadi Dendam

27 Jan 2026, 19:00 WIBFilm