Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Penilaian I Was a Stranger, Drama Pengungsi Suriah yang Menekan Emosi

i-was-a-stranger-1200x900.jpg
Dok. Angel (I Was a Stranger)
Intinya sih...
  • Cerita Multi-Perspektif yang Tidak Selalu Rapi
    • Struktur cerita dari sudut pandang berbeda
    • Membuat penonton memahami dilema semua pihak
    • Ritme penceritaan kadang terasa tidak rapi
    • Akting dan Visual yang Menekan Emosi
      • Akting menekan emosi dengan tatapan dan bahasa tubuh
      • Pilihan visual menekan emosi penonton
      • Karakter jarang diberi ruang untuk tenang
      • Film Penting, Tapi Tidak Mudah Ditonton
        • Berfokus pada
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Sejak menit awal, I Was a Stranger menempatkan penonton tepat di tengah kekacauan. Tidak ada pengantar panjang atau konteks historis yang dijelaskan satu per satu. Film ini memilih untuk langsung menenggelamkan kita ke dalam situasi genting yang dialami para tokohnya, seolah ingin mengatakan bahwa perang dan krisis tidak pernah memberi waktu untuk bersiap.

Pendekatan ini membuat pembukaan film terasa menekan. Ketegangan dibangun bukan lewat ledakan atau adegan aksi besar, melainkan lewat rasa panik, kebingungan, dan ketidakpastian. Kamera bergerak mengikuti karakter dengan jarak dekat, menciptakan kesan bahwa penonton ikut terjebak bersama mereka.

Pilihan ini juga memperlihatkan visi sutradara Brandt Andersen yang tidak tertarik pada glorifikasi tragedi. Ia lebih fokus pada dampak emosional yang langsung dirasakan manusia biasa. Perang di sini bukan latar heroik, melainkan kekuatan destruktif yang merampas rasa aman dan identitas.

Meski efektif, pembukaan yang begitu intens bisa terasa melelahkan bagi sebagian penonton. Namun justru dari sinilah film menetapkan nadanya. I Was a Stranger ingin dilihat sebagai pengalaman, bukan sekadar cerita yang ditonton dengan jarak aman.

1. Cerita Multi-Perspektif yang Tidak Selalu Rapi

MV5BNzI4NzY4YTUtZDY5MC00NGRmLWExMWUtMGI5NGQxZGZhYTU1XkEyXkFqcGc@._V1_.jpg
Dok. Angel (I Was a Stranger)

Narasi film ini dibangun dari beberapa sudut pandang yang saling bersinggungan. Setiap karakter membawa latar belakang, kepentingan, dan luka masing-masing. Struktur ini memberi ruang bagi penonton untuk melihat krisis pengungsi sebagai jaringan keputusan dan konsekuensi, bukan kisah tunggal yang sederhana.

Secara tematis, pendekatan multi-perspektif ini memperkaya cerita. Kita tidak hanya diajak bersimpati pada korban, tetapi juga memahami dilema pihak-pihak lain yang terlibat. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya jahat atau sepenuhnya benar. Semua bergerak di wilayah abu-abu yang dipengaruhi rasa takut, kewajiban, dan kebutuhan bertahan hidup.

Namun, secara ritme, penceritaan ini tidak selalu rapi. Perpindahan antar karakter kadang terasa mendadak dan memutus emosi yang sedang dibangun. Ada segmen yang sangat kuat secara emosional, lalu diikuti bagian lain yang terasa lebih datar dan fungsional.

Meski demikian, ketidaksempurnaan ini tidak sepenuhnya merusak film. Justru ia menegaskan kekacauan situasi yang digambarkan. Hidup para tokoh memang tidak berjalan mulus, dan struktur naratif yang terpecah itu merefleksikan kondisi mereka yang tercerai-berai.

2. Akting dan Visual yang Menekan Emosi

i-was-a-stranger_s00e01_frame-grab_01221583-1.jpg
Dok. Angel (I Was a Stranger)

Salah satu kekuatan terbesar I Was a Stranger terletak pada akting para pemainnya. Emosi tidak disampaikan lewat dialog panjang atau luapan perasaan berlebihan, melainkan lewat tatapan, bahasa tubuh, dan jeda yang terasa berat. Akting seperti ini menuntut kesabaran penonton, tapi memberi hasil yang terasa jujur.

Karakter-karakter dalam film ini jarang diberi ruang untuk benar-benar tenang. Setiap keputusan terasa berisiko, dan rasa takut selalu hadir di latar belakang. Hal ini membuat interaksi antar karakter terasa rapuh, seolah satu kesalahan kecil bisa berujung pada kehancuran.

Secara visual, film ini konsisten menggunakan warna dingin dan pencahayaan minim. Banyak adegan terasa gelap dan sempit, terutama ketika cerita berpindah ke laut. Pilihan visual ini bukan sekadar estetika, melainkan alat untuk menekan emosi penonton dan menegaskan rasa terkurung.

Kamera yang sering bertahan lama pada satu momen memaksa penonton untuk tidak berpaling. Tidak ada potongan cepat untuk mengurangi rasa tidak nyaman. Visual dan akting bekerja bersama menciptakan atmosfer yang melelahkan secara emosional, tapi sesuai dengan dunia yang ingin ditampilkan film ini.

3. Film Penting, Tapi Tidak Mudah Ditonton

i-was-a-stranger_s00e01_frame-grab_04448666.jpg
Dok. Angel (I Was a Stranger)

I Was a Stranger adalah film yang jelas tahu apa yang ingin disampaikan. Ia berbicara tentang kemanusiaan, empati, dan identitas, tanpa mencoba menjadi tontonan yang ramah atau menghibur. Film ini lebih tertarik meninggalkan bekas perasaan daripada kepuasan naratif.

Bagi sebagian penonton, pendekatan ini mungkin terasa terlalu berat. Ritme yang lambat, emosi yang tertahan, dan ketiadaan katarsis besar bisa menimbulkan jarak. Namun bagi yang bersedia bertahan, film ini menawarkan refleksi yang dalam dan tidak nyaman.

Film ini juga menolak memberikan jawaban mudah. Tidak ada solusi instan atau akhir yang benar-benar melegakan. Yang tersisa hanyalah kesadaran bahwa di balik isu pengungsi, ada manusia nyata dengan hidup yang terpecah dan masa depan yang tidak pasti.

Pada akhirnya, I Was a Stranger bukan film yang akan ditonton untuk merasa senang. Ia ditonton untuk diingat. Dan rasa asing yang ditinggalkannya setelah layar gelap mungkin justru menjadi pesan terkuat yang ingin disampaikan.

Sinopsis I Was a Stranger (2024)

Di tengah kekacauan perang Suriah, Amira, seorang dokter, terpaksa meninggalkan rumahnya bersama sang anak demi menyelamatkan nyawa. Perjalanan mereka membawa keduanya ke jalur berbahaya yang dilalui para pengungsi, tempat harapan sering kali bertabrakan dengan rasa takut dan keputusan-keputusan mustahil.

Dalam satu malam yang menentukan di Laut Mediterania, kisah Amira beririsan dengan beberapa orang asing lain. Seorang penyelundup manusia dengan moral abu-abu, aparat penjaga perbatasan yang terjebak antara tugas dan nurani, serta para pengungsi lain yang masing-masing membawa luka dan tujuan berbeda.

Lewat sudut pandang yang saling bersinggungan, film ini menyoroti bagaimana satu pilihan kecil dapat berdampak besar pada hidup banyak orang. Tidak ada pahlawan mutlak atau penjahat tunggal, hanya manusia yang berusaha bertahan di situasi yang tidak mereka pilih.

I Was a Stranger adalah potret kemanusiaan tentang kehilangan, empati, dan identitas. Sebuah kisah tentang bagaimana seseorang bisa menjadi asing di dunia baru, bahkan sebelum sempat menemukan tempat untuk disebut rumah.

I Was a Stranger
2024
4/5
Directed by Brandt Andersen
Producer

Brandt Andersen

Writer

Brandt Andersen

Age Rating

R13+

Genre

Drama

Duration

113 Minutes

Release Date

04-02-2026

Theme

Humanity, Refugee, War

Production House

Andersen Productions

Where to Watch

Cinema XXI

Cast

Yasmine Al Massri, Omar Sy, Yahya Mahayni, Constantine Markoulakis

Trailer I Was a Stranger (2026)

Galeri I Was a Stranger (2026)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Film

See More

MD Pictures Gelar Gala Premiere Ahlan Singapore!

03 Feb 2026, 11:00 WIBFilm