Logo SHIELD milik Dinas Tata Ruang Kota Semarang yang dianggap mirip Marvel. (Twitter/@F_Nusaputra)
Yang paling menarik dari kepemimpinan Yelena adalah arah timnya.
New Avengers sejauh ini tidak hanya bertarung melawan ancaman besar.
Mereka juga mengumpulkan, menganalisis, dan membagikan informasi penting kepada pihak yang membutuhkan.
Peran seperti ini justru mengingatkan pada S.H.I.E.L.D. di era Nick Fury.
Mereka memiliki jaringan intelijen, mengetahui berbagai peristiwa yang terjadi di balik layar, lalu memutuskan kepada siapa informasi tersebut harus diberikan.
Pendekatan ini juga terasa sangat cocok untuk Yelena sendiri.
Bagaimanapun, ia adalah mantan Black Widow, seorang agen yang sejak awal hidupnya dibentuk untuk mengumpulkan informasi dan menjalankan operasi rahasia.
Yang lucu, kondisi ini membuat New Avengers tidak benar-benar menjadi "Avengers versi kedua."
Sebaliknya, mereka mulai mengisi peran yang berbeda.
Kalau Avengers yang dipimpin Sam Wilson nantinya lebih difokuskan menghadapi ancaman berskala global atau kosmis, New Avengers justru berpotensi menjadi tim yang bergerak di balik layar: mengumpulkan intel, membantu penyelidikan, dan memberikan dukungan kepada hero lain ketika diperlukan.
Dengan pembagian seperti itu, kedua tim bisa eksis berdampingan tanpa terasa saling tumpang tindih. Justru mereka dapat saling melengkapi, meski memakai nama "Avengers" yang sama.