5 Aktor Film Superhero yang Sebenarnya Sempurna, Sayang Filmnya Ampas

Sejumlah aktor dianggap sangat cocok memerankan karakter superhero, tetapi film yang mereka bintangi dinilai kurang maksimal.
Anya Taylor-Joy, Mark Strong, dan Pierce Brosnan disebut memiliki kecocokan visual serta aura kuat dengan karakter masing-masing.
Christian Bale sebagai Gorr dan Michael Clarke Duncan sebagai Wilson Fisk ikut disayangkan karena potensi akting mereka kurang didukung filmnya.
Kalau kita bicara film superhero, ada kasus yang terasa seperti “perfect casting, perfect movie.”
Misalnya Chris Evans sebagai Steve Rogers di film-film Captain America. Atau Patrick Stewart dan Ian McKellen sebagai Professor X dan Magneto di film-film X-Men.
Namun ada juga kasus yang menarik.
Aktornya sudah terasa sangat cocok dengan karakter yang diperankan.
Secara penampilan, aura, bahkan kemampuan akting, rasanya tidak banyak yang perlu dipermasalahkan.
Masalahnya? Filmnya sendiri malah ampas.
Hasilnya adalah situasi yang agak menyedihkan: kita mendapatkan aktor yang terasa seperti casting sempurna, tetapi terjebak dalam film yang jauh dari kata sempurna.
Siapa saja?
Table of Content
1. Anya Taylor-Joy - Magik (The New Mutants)

karakter Magik (dok. Marvel Entertainment/The New Mutants) Ini sebenarnya salah satu yang paling disayangkan.
Anya Taylor-Joy kini sudah menjadi salah satu aktris muda Hollywood yang sangat diperhitungkan berkat peran-perannya di berbagai film, mulai dari The Northman, The Menu, hingga sebagai Alia Atreides di Dune: Part Two.
Namun sebelum namanya semakin besar, Taylor-Joy sebenarnya sudah pernah mendapatkan peran superhero yang sangat menarik. Ia memerankan Illyana Rasputin alias Magik di The New Mutants.
Dan kalau melihat desain serta kepribadian Magik di komik, Taylor-Joy memang terasa cocok. Illyana adalah karakter yang bisa terlihat dingin, sarkastik, intimidating, tetapi juga memiliki sisi emosional yang jauh lebih rumit.
Taylor-Joy berhasil membawa banyak aspek tersebut ke dalam film.
Sayangnya...
Filmnya sendiri ampas.
The New Mutants akhirnya hanya memperoleh skor 36% dari kritikus di Rotten Tomatoes, dengan box office global sekitar US$23,9 juta.
Padahal Magik sendiri justru semakin populer di kalangan gamer dan penggemar Marvel, termasuk berkat kemunculannya sebagai karakter playable di Marvel Rivals.
Jadi sekarang kita punya situasi lucu: Anya Taylor-Joy yang kini jadi idola banyak penonton sudah pernah menjadi Magik sebelum Magik benar-benar naik daun.
Sayangnya, filmnya tidak cukup bagus untuk membuat versi Magik tersebut mendapatkan kesempatan kedua.
2. Michael Clarke Duncan - Wilson Fisk (Daredevil)

Michael Clarke Duncan sebagai Wilson Fisk (Kingpin). (Dok. 20th Century Fox/Daredevil) Sebelum Vincent D'Onofrio memberikan interpretasinya terhadap Wilson Fisk, karakter tersebut sebenarnya sudah pernah diperankan oleh Michael Clarke Duncan dalam Daredevil tahun 2003.
Dan secara casting?
Duncan sebenarnya masuk akal banget.
Wilson Fisk membutuhkan seseorang yang memiliki fisik luar biasa besar tetapi tetap punya karisma dan wibawa.
Duncan punya keduanya.
Tubuhnya yang sangat besar langsung membuat Fisk terlihat seperti seseorang yang tidak ingin kita ajak berantem. Namun Duncan juga punya pembawaan yang cukup hangat dan karismatik untuk membuat Fisk terasa seperti seorang gangster berpengaruh, bukan sekadar “orang besar yang suka mukul.”
Masalahnya tentu bukan pada Duncan.
Masalahnya adalah film Daredevil itu sendiri.
Film tersebut mendapatkan hanya 42% Tomatometer dan 35% Popcornmeter di Rotten Tomatoes.
3. Mark Strong - Thaal Sinestro (Green Lantern)

Sinestro (dok. Warner Bros. Pictures/Green Lantern) Ada banyak masalah serius dengan Green Lantern (2011).
Bahkan Rotten Tomatoes menggambarkannya sebagai film yang “noisy, overproduced, and thinly written,” dengan skor kritikus hanya 25%.
Dan ini terasa semakin disayangkan karena sebenarnya film tersebut memiliki beberapa casting yang sudah pas banget.
Contohnya Michael Clarke Duncan sebagai Kilowog.
Lalu ada Mark Strong sebagai Thaal Sinestro.
Secara visual saja, Strong sudah terlihat seperti Sinestro yang keluar langsung dari komik.
Kepala botak, kumis, wajah tegas, aura seorang pemimpin militer yang serius.
Tinggal kasih dia seragam Green Lantern.
Selesai.
Dan Strong juga mampu memberikan kesan bahwa Sinestro bukan sekadar anggota Green Lantern Corps lain, melainkan seseorang yang jauh lebih berpengalaman dan memiliki keyakinan sendiri tentang bagaimana ketertiban seharusnya dijaga.
Masalahnya adalah Green Lantern justru lebih sibuk dengan perjalanan Hal Jordan.
Sinestro akhirnya terasa seperti karakter yang potensinya hanya disentuh sebentar.
Bahkan film tersebut memberikan teaser bahwa Sinestro nantinya akan jatuh ke pengaruh Yellow Power Ring dan menjadi Sinestro Corps' central villain.
Namun rencana itu tidak pernah berlanjut.
4. Christian Bale - Gorr the God Butcher (Thor: Love and Thunder)

Gorr the God Butcher (dok. Marvel Studios/Thor: Love and Thunder) Ini mungkin yang paling tragis.
Christian Bale datang ke Thor: Love and Thunder sebagai Gorr the God Butcher, salah satu villain Thor yang secara konsep sebenarnya sangat mengerikan.
Dan Bale benar-benar bermain seolah-olah dia tahu karakter ini seharusnya jauh lebih menyeramkan.
Gorr punya tragedi personal, kehilangan keluarga, kebencian terhadap para dewa, dan motivasi yang secara emosional sebenarnya cukup kuat.
Bale memberikan semuanya.
Ekspresinya bisa berubah dari menyedihkan menjadi mengancam hanya dalam beberapa detik. Gerak tubuhnya juga membuat Gorr terasa seperti sosok yang tidak sepenuhnya manusia.
Masalahnya adalah filmnya sendiri memiliki nada yang sangat komedi.
Thor: Love and Thunder memang tidak mendapatkan penerimaan seburuk beberapa film superhero lain dalam daftar ini, skornya di Rotten Tomatoes berada di 64% dari kritikus dan 57% dari audiens, tetapi banyak ulasan tetap menyoroti bahwa Bale terasa kurang dimanfaatkan sebagai Gorr.
Dan di situlah masalahnya. Christian Bale sedang memainkan Gorr the God Butcher, sementara filmnya kadang terasa seperti sedang memainkan film yang lebih menjurus ke komedi absurd.
Bale bahkan terasa seperti sedang bermain di film yang sedikit berbeda. Filmnya ingin Gorr menjadi tragis, menyeramkan, dan emosional.
Di saat yang sama, filmnya juga ingin dia berada di tengah humor absurd khas Taika Waititi.
5. Pierce Brosnan - Doctor Fate (Black Adam)

Doctor Fate (dok. DC Studios/Black Adam) Ah, Black Adam.
Film yang pada masanya dipromosikan Dwayne Johnson sebagai sesuatu yang akan mengubah hierarki kekuatan DC.
Pada akhirnya, perubahan hierarki yang terjadi justru lebih besar di belakang layar. DCEU kemudian direstrukturisasi menjadi DCU.
Namun di tengah semua itu, ada satu hal dari Black Adam yang cukup sulit dibantah: Pierce Brosnan terasa sangat cocok sebagai Doctor Fate.
Brosnan punya sesuatu yang sangat penting untuk Kent Nelson yaitu wibawa.
Doctor Fate bukan sekadar superhero yang memakai helm ajaib. Dia adalah seorang penyihir yang sudah memiliki pengalaman panjang dan terasa seperti seseorang yang memahami kekuatan kosmik yang jauh lebih besar daripada manusia biasa.
Brosnan membawa aura tersebut dengan sangat natural.
Bahkan ketika ia hanya berdiri dan berbicara, ada kesan bahwa karakter ini tahu lebih banyak daripada semua orang di sekeliling dia.
Masalahnya adalah Black Adam sendiri mendapat penerimaan yang sangat campur aduk, dengan skor 39% dari kritikus di Rotten Tomatoes meskipun skor audiensnya jauh lebih tinggi, yakni 87%.



















