Penilaian We Bury the Dead, Film Zombie Tentang Duka dan Kehilangan

- Trailernya benar-benar bisa memberi kesan salah soal filmnya
- Film yang beda dari film zombie kebanyakan
- Daisy Ridley sukses menyajikan Ava
We Bury the Dead adalah film zombie yang jelas memilih jalur berbeda dari kebanyakan film sejenis. Baik dari cara ia menyajikan zombienya, membangun dunianya, hingga fokus ceritanya. Alih-alih menyorot kehancuran total atau perjuangan bertahan hidup penuh aksi, film ini justru lebih banyak mengikuti aktivitas para relawan di wilayah bencana, orang-orang yang datang bukan untuk melawan, tapi untuk membereskan sisa-sisa tragedi.
Sorotan utamanya pun bukan horor dalam arti konvensional, melainkan duka dan kehilangan. Zombie di sini lebih terasa sebagai konsekuensi dari bencana, bukan pusat atraksi. Sering kali lebih ke sosok tragis ketimbang ancaman besar.
Masalahnya, pendekatan seperti ini juga berpotensi membuat sebagian penonton merasa “tertipu”, terutama mereka yang datang dengan ekspektasi film zombie yang lebih agresif, seperti yang tersirat dalam materi promosi dan trailer.
Jadi, apakah We Bury the Dead adalah pendekatan segar yang berani, atau justru film yang salah menjual dirinya sendiri?
Yuk, kita bahas penilaian We Bury the Dead berikut ini.
Sinopsis We Bury the Dead (2025)
Amerika Serikat secara tidak sengaja meledakkan sebuah senjata eksperimental di lepas pantai timur Tasmania. Ledakan tersebut menghancurkan kota Hobart dan menimbulkan dampak yang jauh lebih mengerikan dari sekadar kehancuran fisik.
Para korban di wilayah terdampak (baik manusia maupun hewan) yang tidak tewas seketika mengalami mati otak massal, menjadikan pulau tersebut sebagai zona kematian total. Dalam waktu singkat, Tasmania berubah menjadi area terlarang yang diawasi ketat oleh militer.
Situasi semakin memburuk ketika ditemukan bahwa sebagian korban mati otak mulai mendapatkan kembali fungsi motorik. Mereka bangkit sebagai mayat hidup, dan beberapa di antaranya menunjukkan perilaku agresif yang berbahaya.
Di tengah operasi militer Australia untuk mengevakuasi dan mengubur jenazah-jenazah korban, Ava Newman, seorang warga Amerika, bergabung sebagai sukarelawan. Secara resmi, ia adalah bagian dari misi kemanusiaan tersebut. Namun, Ava menyimpan tujuan pribadi: mencari Mitch, suaminya, yang berada jauh di pusat lokasi bencana.
Masalahnya, lokasi terakhir Mitch berada jauh di luar zona yang tengah ditangani militer. Jika Ava ingin menemukan suaminya, hidup atau mati, ia mungkin harus melampaui batas perintah, prosedur, dan keselamatan dirinya sendiri.
1. Trailernya benar-benar bisa memberi kesan salah soal filmnya

Trailer We Bury the Dead yang sempat saya lihat sebagai pembuka film di kanal resmi Vertical memberi kesan yang, menurut saya, bisa sangat menyesatkan soal seperti apa film ini sebenarnya.
Trailer tersebut dibuka dengan rangkaian momen yang agresif: Ava dikejar zombie, adegan tegang di garasi saat ia melihat sosok mayat hidup berdiri, hingga visual Ava melangkah dengan kapak di tangan diiringi musik yang mencekam. Semua ini membangun ekspektasi bahwa filmnya akan sarat konfrontasi dan ketegangan khas film zombie modern.
Lucunya, ketika masuk ke filmnya sendiri, konfrontasi langsung melawan zombie justru tergolong minim. Porsi cerita jauh lebih banyak dihabiskan untuk pergulatan batin Ava, seorang perempuan yang berusaha memproses kehilangan suaminya akibat insiden Tasmania, ketimbang aksi bertahan hidup melawan ancaman mayat hidup.
Saya bahkan curiga, perbedaan persepsi inilah yang menjadi salah satu penyebab utama skor We Bury the Dead terlihat timpang di Rotten Tomatoes. Hingga kini, film ini mengantongi 84% Fresh dari kritikus, sementara Popcornmeter (penilaian audiens) hanya berada di 46%.
Masuk dengan ekspektasi yang salah jelas berbahaya. Jika kamu mengira film ini akan mendekati pengalaman seperti Dawn of the Dead (2004) dengan zombie berlari, aksi intens, dan ancaman konstan (kesan yang memang bisa muncul dari pembukaan trailer), besar kemungkinan kamu akan kecewa dengan hasil akhirnya.
Karena We Bury the Dead bukan film tentang melawan zombie. Ia adalah film tentang duka.
2. Film yang beda dari film zombie kebanyakan

Saya pribadi cukup menikmati bagaimana We Bury the Dead mengambil banyak keputusan yang menjauhkannya dari formula film zombie pada umumnya.
Meskipun bencana di Tasmania menewaskan jumlah korban yang tak terbayangkan, dunia di luar sana tetap berjalan relatif normal. Tidak ada gambaran peradaban global yang runtuh total. Justru yang kita lihat adalah respons terorganisir: relawan dari Australia dan berbagai negara lain datang untuk melakukan hal paling mendasar dan paling manusiawi, mengumpulkan serta mengurus jasad dalam jumlah luar biasa besar.
Hal lain yang cukup mencolok adalah kompetensi pihak berwenang, khususnya militer Australia. Ketika para relawan berhadapan dengan mayat hidup, respons militer terasa cepat, efisien, dan terkontrol. Mereka juga tidak digambarkan sebagai otoritas tiran yang mengekang, melainkan sekumpulan prajurit yang benar-benar berusaha menjalankan tugas di tengah zona bencana.
Karena itulah, banyak momen paling intens justru baru muncul ketika Ava memilih memisahkan diri dan masuk ke wilayah yang belum sepenuhnya ditangani militer, demi melanjutkan pencariannya terhadap Mitch. Ketegangan lahir bukan karena dunia runtuh, melainkan karena Ava secara sadar menempatkan dirinya di luar sistem yang relatif aman.
Film ini juga memberi sorotan personal yang kuat pada Ava. Di awal, ia tampak seperti sosok istri yang berduka, dengan asumsi bahwa suaminya hampir pasti telah meninggal, dan pertanyaannya hanya tinggal apakah Mitch akan “bangkit kembali” atau tidak. Namun seiring cerita berjalan, fokus bergeser ke pergolakan batin Ava, dan perlahan muncul kesan bahwa sejak awal ia mungkin tidak sepenuhnya baik-baik saja.
Bahkan dari sisi latar, film ini terasa berbeda. Cerita membawa kita ke bagian timur Pulau Tasmania, wilayah yang jarang disorot film Hollywood. Dengan konteks ceritanya, kita diperlihatkan banyak ruang kosong: ada lanskap yang tampak indah meski sunyi, tapi ada pula area yang dipenuhi jejak kematian manusia dan hewan. Keheningan ini sering kali lebih menghantui daripada kehadiran zombie itu sendiri.
3. Daisy Ridley sukses menyajikan Ava

Bagi saya, Ava bukanlah peran yang mudah. We Bury the Dead menempatkan karakter ini sebagai pusat cerita, dan ada cukup banyak bagian film di mana kamera nyaris tidak berpaling darinya. Bahkan, terdapat segmen yang cukup panjang di mana kita hanya mengikuti Ava, tanpa dialog berarti, tanpa kehadiran karakter lain sebagai penopang emosi.
Masalahnya, Ava sendiri adalah sosok yang cenderung pendiam dan tertutup. Artinya, Daisy Ridley tidak bisa mengandalkan dialog untuk menjelaskan kondisi batin karakternya. Ia harus menyampaikan banyak hal secara subtil, lewat ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan cara Ava bereaksi terhadap situasi di sekitarnya.
Di sinilah performa Ridley terasa paling kuat. Ava tidak ditampilkan sebagai sosok stoik yang dingin tanpa ekspresi. Sebaliknya, ia terasa seperti perempuan yang sudah berada di ambang kehancuran, tetapi memaksakan diri untuk tetap tampak datar dan berfungsi di hadapan orang lain. Emosi-emosi itu biasanya baru benar-benar meledak saat Ava sendirian, ketika jeritan, ketakutan, dan frustrasi yang ia pendam akhirnya dibiarkan muncul.
Melihat Daisy Ridley menyajikan Ava sebagai sosok yang diliputi duka, rasa bersalah, dan penyesalan menjadi salah satu highlight terbesar We Bury the Dead. Tanpa performa yang sekuat ini, filmnya mungkin akan terasa hampa. Dengan Ridley di pusatnya, film ini punya jangkar emosional yang membuat pendekatan sunyi dan lambatnya tetap terasa bermakna.
4. Bukan film untuk semua orang

Untuk menekankan lagi kenapa We Bury the Dead berpotensi memecah penonton, saya rasa cukup relevan mengutip salah satu ulasan audiens bernama Andrew di Rotten Tomatoes:
“Menurut saya, ini bukan film zombie. Saya merasa aspek zombie bisa dihilangkan sepenuhnya tanpa dampak signifikan pada keseluruhan cerita. Minim adegan aksi. Akhir cerita yang dipertanyakan. Bukan film terburuk yang pernah saya tonton, dan sebenarnya ada satu aspek zombie yang menurut saya menyeramkan, tetapi sinopsisnya tampak seperti contoh pemasaran yang buruk.”
Dan ya, saya cukup yakin ini adalah tipe respons yang akan muncul dari penonton yang datang ke bioskop dengan ekspektasi keliru akibat trailer.
Seperti sudah saya singgung sebelumnya, konfrontasi dengan zombie secara mengejutkan memang tidak banyak dalam durasi sekitar 95 menit. Bahkan dalam beberapa momen pertemuan, para zombie masih berada pada tahap awal kebangkitan, mereka belum sepenuhnya agresif, lebih sering hanya berdiri atau menggertakkan gigi. Jauh dari gambaran ancaman konstan ala film zombie aksi.
Selain itu, karena cerita sepenuhnya disajikan dari sudut pandang Ava, penonton juga tidak akan mendapatkan jawaban pasti soal apa sebenarnya penyebab insiden fatal di Tasmania, atau mengapa hanya sebagian korban yang “bangkit kembali”. Informasi yang tersedia sebatas teori dan spekulasi karakter, bukan penjelasan naratif yang tuntas.
Ava dan rekannya, Clay, pun digambarkan sebagai dua orang biasa yang terjebak dalam situasi yang jauh lebih besar dari mereka, tanpa kendali, tanpa akses ke kebenaran penuh, dan tanpa kemampuan untuk benar-benar “menyelesaikan” masalah.
Karena itu, perlu ditegaskan: ini bukan film zombie horor, apalagi film zombie aksi.
We Bury the Dead adalah drama kontemplatif tentang duka, kehilangan, dan ketidakpastian yang kebetulan… punya zombie di dalamnya.
Dan bagi sebagian penonton, itu akan terasa menarik. Bagi sebagian lainnya, justru terasa mengecewakan.
5. Kesimpulan

Nilai saya untuk We Bury the Dead adalah 4 dari 5 bintang.
Saya menikmati bagaimana Daisy Ridley menghidupkan Ava sebagai jangkar emosional film ini, perjalanan di wilayah timur Tasmania yang sering terasa sunyi dan kontemplatif, serta cara film ini menempatkan duka sebagai inti cerita, bukan sekadar latar belakang horor.
Pergulatan Ava dengan kehilangan, rasa bersalah, dan pertanyaan soal kebenaran tentang hubungannya dengan Mitch menjadi benang merah yang konsisten dan kuat. Ditambah lagi, sejumlah perbedaan pendekatan dengan film zombie awam membuat pengalaman menontonnya terasa segar.
Namun seperti sudah saya bahas sejak awal, ini bukan film horor konvensional. Dan saya benar-benar berharap penjabaran di atas bisa memberi gambaran yang lebih jujur bagi kamu yang tertarik menontonnya, agar tidak masuk dengan ekspektasi yang keliru.
Secara jujur, jika film ini dipasarkan dengan penjabaran yang lebih akurat... misalnya sebagai “perjalanan sunyi seorang janda yang mencoba menemukan suaminya di tengah zona bencana”, premis itu mungkin terdengar kurang menjual bagi sebagian orang. Tapi justru itulah inti cerita yang benar-benar disajikan film ini, dan disampaikan dengan cukup efektif pula.
Sebaliknya, jika kamu datang ke bioskop dengan bayangan film ala Dawn of the Dead (2004) penuh aksi gore, zombie cepat yang terus menekan, dan intensitas tanpa henti, besar kemungkinan kamu akan merasa bosan atau kecewa.
Dan bahayanya? Saya tahu kalau kamu hanya melihat trailer, itu adalah gambaran yang bisa jadi kamu bayangkan. Padahal bukan itu isi filmnya.
We Bury the Dead adalah film tentang bertahan hidup secara emosional, bukan soal berapa banyak zombie yang bisa dijatuhkan. Dan selama kamu datang dengan ekspektasi itu, film ini punya banyak hal menarik untuk kamu nikmati.
| Producer | Kelvin Munro, Grant Sputore, Ross Dinerstein |
| Writer | Zak Hilditch |
| Age Rating | D 17+ |
| Genre | Drama |
| Duration | 95 Minutes |
| Release Date | 9-1-2026 |
| Theme | Duka, kehilangan |
| Production House | Screen Australia, Gramercy Park Media, Screenwest, The Penguin Empire |
| Where to Watch | Bioskop |
| Cast | Daisy Ridley, Mark Coles Smith, Brenton Thwaites |

















