5 Film Adaptasi Game Terbaik di Layar Lebar! Resident Evil?

- Adaptasi game layar lebar dinilai semakin menunjukkan potensi setelah sejarah hasil yang beragam.
- Pilihan film mencakup pendekatan yang aman untuk keluarga, aksi cheesy, hingga pengembangan konsep game yang lebih dramatis.
- Sonic the Hedgehog 3 menempati posisi pertama karena mengembangkan cerita tanpa kehilangan inti dari game-nya.
Pernah ada masa ketika mendapatkan film adaptasi game yang “lumayan” saja sudah terasa seperti sebuah prestasi.
Maklum, sejarah adaptasi game ke layar lebar cukup panjang dengan hasil yang... yah, beragam.
Namun beberapa tahun terakhir, adaptasi game justru semakin menunjukkan potensinya. Di dunia serial TV, kita sudah melihat The Last of Us, Fallout, hingga animasi seperti Arcane yang membuktikan bahwa materi game bisa diterjemahkan dengan sangat baik ke medium lain.
Lalu bagaimana dengan film layar lebar?
Setelah cukup banyak menonton adaptasi game, berikut lima pilihan saya sejauh ini!
Table of Content
5. The Super Mario Bros. Movie (2023)

The Super Mario Bros. Movie (2023) Ada beberapa aspek dari The Super Mario Bros. Movie yang menurut saya terasa terlalu aman.
Pendekatan tersebut juga membuat saya sedikit khawatir setelah melihat bagaimana sekuelnya dikembangkan. Rasanya, pendekatan yang sangat aman ini masih akan menjadi bagian dari identitas film-film Mario ke depannya.
Namun, harus diakui: secara visual film ini cantik.
Dan justru karena pendekatannya relatif aman, The Super Mario Bros. Movie menjadi film yang sangat mudah dinikmati keluarga. Penonton yang tumbuh bersama game Mario bisa menemukan banyak hal yang familiar, sementara anak-anak yang belum terlalu mengenal gamenya tetap bisa menikmati petualangannya.
Sebagai adaptasi yang ingin memperkenalkan dunia Mario ke penonton seluas mungkin, pendekatan tersebut memang masuk akal.
4. Mortal Kombat (1995)

Sub Zero dan Liu Kang di Mortal Kombat 1995. (The Hollywood Reporter) Mau tahu yang kocak?
Untuk waktu yang sangat lama, bagi saya inilah film adaptasi game terbaik.
Apakah cheesy? Oh, jelas.
Apakah terasa punya keterbatasan budget? Memang.
Tapi justru di situlah daya tariknya.
Setelah Street Fighter (1994) terasa mengambil begitu banyak kebebasan dari materi gamenya, Mortal Kombat terasa lebih memiliki jiwa game yang diadaptasinya.
Film ini berhasil menyeimbangkan tiga hal yang sebenarnya tidak mudah digabungkan: cerita yang sederhana, aksi yang solid, dan kadar cheesy yang justru menjadi bagian dari pesonanya.
Hasilnya memang bukan film Mortal Kombat yang sempurna.
Tapi untuk waktu yang lama, ketika membicarakan film adaptasi game yang terasa seperti game-nya, film ini adalah salah satu contoh pertama yang muncul di kepala saya.
3. Exit 8

cuplikan dalam film Exit 8 (dok. Story Inc./Exit 8) Ini pilihan yang mungkin bisa gak terduga kalau kamu gak ngikutin game dan film Jepang.
Exit 8 mengambil konsep dasar game-nya (sebuah lorong stasiun yang terus berulang dan kadang diisi berbagai anomali yang harus disadari pejalan) lalu mengembangkannya menjadi film dengan karakterisasi yang jauh lebih kuat.
The Lost Man, The Walking Man, dan The Boy masing-masing memberikan dinamika tersendiri terhadap perjalanan di lorong tersebut.
Yang menarik, film ini juga membuat lorong tersebut terasa jauh lebih kejam.
Dalam game, tantangannya adalah mengamati apakah ada sesuatu yang berubah dari satu putaran ke putaran berikutnya. Dalam film, anomali tersebut tidak hanya menjadi gangguan visual, tetapi juga dapat menyerang karakter secara mental dan personal dengan mengeksploitasi masalah mereka.
Alhasil, konsep loop yang sederhana tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih dramatis dan emosional.
Ini mungkin bukan adaptasi game yang paling obvious untuk masuk daftar seperti ini.
Tapi justru karena berhasil memperluas konsep sederhana dari game tanpa kehilangan identitas dasarnya, Exit 8 menurut saya layak mendapatkan tempat di sini.
2. Resident Evil (2026)

cuplikan trailer Resident Evil 2026 (dok. Columbia Pictures/Resident Evil) Ini film yang menarik.
Sebagai adaptasi Resident Evil, kita bisa berdebat panjang mengenai pendekatannya.
Di satu sisi, film ini memperkenalkan karakter baru, mengambil banyak kebebasan terhadap lore, dan tidak terlalu berusaha memasukkan karakter-karakter ikonik dari game.
Di sisi lain?
Film ini justru berhasil menerjemahkan bahasa visual dan bahkan beberapa mekanik survival horror dari game ke layar lebar dengan sangat menarik.
Penggunaan perspektif kamera yang mengingatkan pada game, keterbatasan amunisi, progresi senjata, sampai berbagai detail kecil seperti First Aid Spray dan typewriter membuat pengalaman menonton terasa seperti melihat bahasa Resident Evil diterjemahkan ke medium film.
Ditambah dengan visual dan desain suara yang sangat berkesan, film ini terasa sebagai salah satu adaptasi game layar lebar yang paling menarik secara teknis dan visual.
Tentu saja, bukan berarti semuanya sempurna. Pendekatan Cregger terhadap lore Resident Evil masih bisa diperdebatkan, dan ada beberapa bagian film yang menurut saya tidak sekuat bagian lainnya.
Tapi justru itu yang membuat film ini menarik untuk dibahas.
Dia mungkin tidak selalu terasa seperti adaptasi lore Resident Evil yang paling setia, tetapi cukup sering terasa seperti adaptasi dari pengalaman memainkan Resident Evil.
1. Sonic the Hedgehog 3

cuplikan film Sonic the Hedgehog 3 (dok. Paramount Pictures/Sonic the Hedgehog 3) Bagi saya, posisi ini agak lucu kalau mengingat bagaimana perjalanan film Sonic dimulai.
Proyek film pertamanya sempat mendapatkan kritik habis-habisan gara-gara desain awal Sonic. Bahkan setelah desainnya diperbaiki, konsep dasarnya sendiri sebenarnya cukup berisiko: karakter video game berinteraksi langsung dengan dunia dan aktor live-action.
Namun trilogi ini justru terasa semakin solid seiring berjalannya waktu.
Jim Carrey sebagai Dr. Eggman sudah mencuri perhatian sejak film pertama. Kemudian film-film berikutnya semakin berani memperluas dunia Sonic, termasuk menghadirkan karakter seperti Shadow the Hedgehog.
Yang paling saya suka adalah bagaimana film-film tersebut bisa menambahkan berbagai karakter dan mengembangkan cerita tanpa kehilangan inti dari game-nya.
Sonic the Hedgehog 3 khususnya terasa seperti film yang membuat cerita sendiri, memberikan interpretasi baru terhadap karakter, dan tetap mempertahankan elemen yang membuat Sonic terasa seperti Sonic.
Dan setelah melihat bagaimana proyek ini awalnya hampir menjadi bahan lelucon karena desain Sonic, bisa sampai ke titik seperti ini terasa sebagai pencapaian yang luar biasa.















