Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

Ulasan Film Resident Evil (2026), Gimana RE Ketika Diolah Zach Cregger?

7 min read
Ulasan Film Resident Evil (2026), Gimana RE Ketika Diolah Zach Cregger?
(Dok. Sony Pictures/Resident Evil)
  • Resident Evil arahan Zach Cregger mengikuti Bryan, kurir medis yang terjebak dalam perjuangan bertahan hidup.
  • Visual area bersalju, audio, dan desain body horror menjadi bagian yang paling memikat dalam film ini.
  • Film berdurasi sekitar 90 menit ini memadukan homage gameplay dengan interpretasi cerita dan infected yang lebih bebas.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah pendekatan Zach Cregger cocok untuk Resident Evil?
Share Article

Zach Cregger sebelumnya memukau saya lewat Barbarian dan Weapons. Dua film tersebut bukan hanya menyeramkan, tetapi juga punya cara menarik untuk memainkan ekspektasi penonton.

Nah, saya sudah mendapatkan kesempatan untuk menonton lebih dulu Resident Evil.

Bagaimana jadinya waralaba horor legendaris ini ketika diolah oleh Zach Cregger?

  1. Sinopsis Resident Evil (2026)

    Dalam cerita yang sepenuhnya baru, Resident Evil mengikuti Bryan (Austin Abrams), seorang kurir medis yang tanpa sengaja mendapati dirinya terjebak dalam perjuangan bertahan hidup penuh aksi ketika sebuah malam yang mengerikan berubah menjadi kekacauan.

    Resident Evil
    2026
    4/5
    Directed by Zach Cregger
    Producer

    Robert Kulzer, Roy Lee, Miri Yoon, Asad Qizilbash, Carter Swan

    Writer

    Shay Hatten, Zach Cregger

    Age Rating

    17+

    Genre

    Kengerian, Cerita Seru, Cerita Fiksi

    Duration

    90 Minutes

    Release Date

    16-09-2026

    Theme

    outbreak, survival, zombie, based on video game, survival horror, reboot, zombie apocalypse, body horror, zombie horror

    Production House

    Constantin Film, Subconscious, Vertigo Entertainment, Davis Films, Columbia Pictures

    Where to Watch

    XXI, CGV

    Cast

    Austin Abrams, Zach Cherry, Kali Reis, Paul Walter Hauser, Johnno Wilson

  2. Trailer Resident Evil (2026)

    Galeri Resident Evil (2026)

  3. 1. Visual dan suara adalah hal yang paling membekas

    Tangkapan layar resmi film Resident Evil (2026) dari Constantin Pictures dan Sony Pictures Releasing.
    Screenshot Resident Evil (2026). (Dok. Constantin Pictures, Sony Pictures Releasing/Resident Evil (2026)

    Berbeda dari game-nya, Raccoon City dan area sekitarnya terlihat lebih modern dalam film ini. Ketika Bryan tiba di wilayah tersebut, suasananya bahkan sedang diselimuti salju.

    Saya tidak akan heran kalau perubahan ini sebagian memang dilakukan Cregger demi menciptakan visual yang lebih mencekam.

    Lanskap salju yang sunyi, hanya diterangi cahaya merah lampu mobil. Sebuah rumah peternakan yang terlihat kosong di tengah hamparan putih. Jalanan sepi yang diapit pepohonan. Kota yang kini hanya diisi monster.

    Ada banyak imaji dalam film ini yang langsung menempel di kepala saya.

    Dan jangan lupakan suaranya.

    Erangan ganjil para monster, ditambah musik yang mencekam dan terkadang terasa menekan, mampu membantu film berpindah dari adegan yang kocak ke situasi intens dengan cukup mulus.

    Saya masih memperdebatkan beberapa aspek visual film ini. Tidak semua efek visualnya juga cocok dengan selera saya. Entah ini hanya perasaan saya atau bukan, tetapi efek visual terasa sedikit kurang meyakinkan ketika film memasuki beberapa bagian di area akhir.

    Namun secara keseluruhan?

    Audio dan visual Resident Evil berhasil memikat saya.

  4. 2. Body horror-nya sakit, dalam arti yang positif

    Screenshot 2026-05-01 094849.png
    (Dok. Sony Pictures/Resident Evil)

    Zach Cregger mengolah konsep infeksi dalam film ini dengan cara yang berbeda dari apa yang biasa kita lihat di Raccoon City era Resident Evil 2 atau Resident Evil 3.

    Para infected, misalnya, tidak semuanya bergerak seperti zombie klasik. Banyak yang mampu berlari, sementara beberapa karakteristik mereka justru mengingatkan saya pada jenis B.O.W. yang muncul di game-game Resident Evil dengan latar di luar Raccoon City.

    Dampaknya, kita memang tidak mendapatkan beberapa monster "favorit" yang mungkin diharapkan penggemar.

    Bahkan zombie standar di film ini pun terasa berbeda.

    Tapi kualitas body horror-nya?

    Saya takjub.

    Cregger dan tim benar-benar punya visi yang "sakit-sakit sedap" dalam menggambarkan tubuh manusia yang terinfeksi. Ada desain makhluk yang bukan hanya grotesk, tetapi juga benar-benar menjijikkan dengan cara yang efektif.

    Dan ini sampai membuat saya berpikir:

    "Wow. Apa pun respons publik terhadap film ini, saya ingin Capcom meniru konsep monster seperti ini. Melawan makhluk-makhluk tersebut dengan mekanik game rasanya bakal seru."

    Menurut saya, itu salah satu pujian terbesar yang bisa saya berikan kepada desain monster sebuah film Resident Evil.

  5. 3. Komedi? Ternyata masih ada

    Tangkapan layar dari film Resident Evil (2026) produksi Constantin Pictures dan distribusi Sony Pictures Releasing.
    Screenshot Resident Evil (2026). (Dok. Constantin Pictures, Sony Pictures Releasing/Resident Evil (2026)

    Sebelumnya, Zach Cregger mengaku kepada The Hollywood Reporter bahwa audiens dalam test screening menyukai filmnya, tetapi mereka juga merasa filmnya lucu.

    Cregger bahkan mengaku sudah mencoba menghapus sebanyak mungkin unsur humor dari film.

    Tapi rupanya, saat screening, penonton masih tetap tertawa.

    Sebagian besar humor tersebut sebenarnya cukup kelam karena muncul dari reaksi Bryan terhadap absurditas di sekelilingnya.

    Dan itu masuk akal.

    Bryan pada dasarnya adalah manusia biasa tanpa pelatihan tempur. Jadi ketika ia berhadapan dengan situasi yang semakin tidak masuk akal, reaksinya terkadang jauh lebih manusiawi dibandingkan karakter-karakter Resident Evil yang sudah terbiasa menghadapi B.O.W.

    Namun ada pula beberapa bagian yang memang terasa seperti humor yang lebih murni.

    Menurut saya, elemen yang berpotensi paling membelah penonton justru adalah komedi gelap yang muncul dari kesalahan atau keputusan bodoh karakter.

    Saya bisa membayangkan ada penonton yang menerimanya karena merasa, "Ya, manusia biasa memang bisa panik dan melakukan kesalahan dalam situasi seperti ini." Bahkan bisa menertawakannya sebagai dark comedy.

    Tapi saya juga bisa membayangkan penonton lain yang justru kesal dan berpikir, "Ya ampun, bodoh banget sih."

    Dan saya rasa kedua reaksi tersebut sama-sama masuk akal.

  6. 4. Bagaimana film ini dibandingkan dengan game-nya?

    Tangkapan layar promosi film Resident Evil (2026) dari Constantin Pictures dan Sony Pictures Releasing.
    Screenshot Resident Evil (2026). (Dok. Constantin Pictures, Sony Pictures Releasing/Resident Evil (2026)

    Hmm.

    Ini bagian yang menarik.

    Saya merasa Cregger mengambil pendekatan seperti ini:

    "Saya akan memberikan kalian easter egg dan homage terhadap game-nya, tetapi saya tetap akan membawa visi saya sendiri."

    Salah satu hal yang membuat saya terhibur adalah bagaimana unsur survival horror dari game terasa diterjemahkan ke film.

    Senjata bisa kehabisan peluru. Bahkan dalam beberapa bagian, film ini terasa lebih sadis daripada game karena amunisi cadangan tidak ada.

    Perhatikan juga urutan senjata Bryan.

    Dimulai dari handgun, kemudian shotgun yang awalnya kosong dan mengharuskannya mencari amunisi terlebih dahulu, sebelum akhirnya beralih ke submachine gun.

    Handgun, shotgun, lalu senjata yang lebih berat.

    Urutan seperti ini terasa sangat familiar bagi pemain Resident Evil.

    Ada pula referensi kecil seperti First Aid Spray yang muncul di latar. Benda itu bahkan hanya menjadi easter egg karena Bryan tidak mengambilnya.

    Tapi yang benar-benar membuat saya kagum adalah bagaimana film ini memainkan perspektif kamera.

    Ada beberapa momen yang terasa seperti persektif third-person view dalam game, bahkan ada bagian tertentu yang transisi ke first-person.

    Ada satu momen di area bersalju, sekitar sepuluh menit setelah film dimulai, yang menurut saya secara visual terasa seperti cutscene game yang tiba-tiba berubah menjadi gameplay third-person.

    Sebagai orang yang sudah memainkan Resident Evil dari game pertama hingga Resident Evil Village, momen seperti itu terasa sangat memuaskan.

    Di sisi lain, untuk unsur cerita dan penyajian para infected, Cregger jelas mengambil interpretasi yang jauh lebih bebas.

    Dan ini adalah bagian yang menurut saya bisa diterima oleh sebagian penonton, tetapi mungkin sulit diterima oleh sebagian penggemar lainnya.

    Termasuk saya.

  7. 5. 90 menit yang menarik

    Tangkapan layar Resident Evil (2026) dengan kredit Constantin Pictures dan Sony Pictures Releasing sebagai distributor.
    Screenshot Resident Evil (2026). (Dok. Constantin Pictures, Sony Pictures Releasing/Resident Evil (2026)

    Resident Evil hanya memiliki runtime sekitar 90 menit.

    Dan bagi saya, Cregger memanfaatkan durasi tersebut dengan sangat baik.

    Temponya terasa cepat.

    Saya bahkan sempat memastikan waktunya dengan melihat arloji, dan sekitar sepuluh menit setelah film dimulai, kita sudah mulai memasuki situasi ganjil yang dialami Bryan.

    Yang lebih saya kagumi adalah bagaimana Cregger menjaga tensi bahkan ketika Bryan sedang sendirian.

    Film tidak selalu membutuhkan monster berlari ke arah kamera untuk membuat kita merasa ada sesuatu yang salah.

    Namun durasi pendek ini juga punya konsekuensi.

    Bagian ending-nya berpotensi menjadi sesuatu yang love it or hate it.

    Saya sendiri berada di kubu: "Saya suka idenya, tetapi eksekusinya terasa kurang kuat untuk menutup puluhan menit yang sebelumnya begitu seru."

    Jadi bagi saya, masalahnya bukan pada keberanian film mengambil keputusan di bagian akhir.

    Justru saya suka bahwa Cregger berani mengambil keputusan tersebut.

    Saya hanya berharap payoff-nya bisa sedikit lebih kuat.

  8. 6. Lucunya, bahkan saya sendiri punya dua pendapat soal film ini

    Tangkapan layar dari film Resident Evil (2026) produksi Constantin Pictures dan distribusi Sony Pictures Releasing.
    Screenshot Resident Evil (2026). (Dok. Constantin Pictures, Sony Pictures Releasing/Resident Evil (2026)

    Saya sudah memainkan Resident Evil sejak game pertamanya, di era PlayStation 1, hingga Resident Evil Village.

    Dan pengalaman itu membuat film ini menjadi sesuatu yang cukup unik bagi saya.

    Saya pernah mendengar istilah "divisive movie". Tapi ini mungkin pertama kalinya saya merasa sebuah film divisif bahkan di dalam diri saya sendiri.

    Kalau saya melihat Resident Evil sebagai: "Film survival body horror Zach Cregger yang menggunakan Resident Evil sebagai fondasi dan memberikan banyak homage terhadap gamenya," maka saya melihat sebuah film 90 menit yang solid, menarik, dan punya kualitas body horror yang sangat mengesankan, meskipun ending-nya kurang sepenuhnya kena kepada saya.

    Namun kalau saya mencoba menilainya sebagai: "Film adaptasi Resident Evil," perasaan saya menjadi lebih rumit.

    Film ini jelas punya visi untuk menerjemahkan sejumlah unsur gameplay Resident Evil ke layar lebar. Bahkan beberapa momen visualnya terasa seperti game yang hidup di depan mata.

    Tetapi pada saat yang sama, penyajian cerita, karakter, dan para infected begitu berbeda dari gambaran Resident Evil yang sudah saya kenal sehingga terkadang saya kesulitan merasakan bahwa saya sedang menonton sebuah film Resident Evil.

    Dan mungkin itulah kesimpulan paling jujur yang bisa saya berikan. Saya suka filmnya. Saya hanya masih tidak yakin saya suka film ini sebagai sebuah film Resident Evil.

    Pada akhirnya, saya memberikan Resident Evil 4 dari 5 bintang.

    Ada banyak bagian film yang menurut saya benar-benar kuat. Visualnya memikat, desain body horror-nya luar biasa, survival horror-nya terasa, dan Cregger berhasil mempertahankan tempo yang membuat 90 menit terasa cepat.

    Hanya saja, kalau ada penggemar Resident Evil yang merasa kurang cocok dengan arah yang diambil film ini?

    Saya pun bisa memahami alasannya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More