Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Install

CapCut Gelar AI Content Fest 2026! Ini Sorotannya!

CapCut Gelar AI Content Fest 2026! Ini Sorotannya!
CapCut AI Content Fest 2026. Fotografer: Fahrul Nurullah
  • CapCut menggelar puncak AI Content Fest 2026 di Jakarta sebagai kompetisi dan festival film pendek berskala nasional.
  • Sepuluh karya kreator dari berbagai daerah diputar di CGV Grand Indonesia dan dinilai oleh lima pelaku industri kreatif.
  • Bayu karya Ilham Setyawan meraih penghargaan Best Story sekaligus Best AI Micro Film.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Apakah kamu ingin menonton AI microfilm kreator Indonesia?
Share Article

Jakarta, Duniaku.com - CapCut menggelar puncak AI Content Fest 2026 pada Jumat (11/9/2026). Kompetisi dan festival film pendek berskala nasional ini menjadi ajang untuk merayakan kreativitas sekaligus talenta para kreator Indonesia.

Mengusung tema “Small Stories. Big Screen. One Nation”, festival ini membawa 10 karya terpilih dari kreator berbagai daerah di Indonesia ke layar lebar CGV Grand Indonesia, Jakarta.

  1. 1. Mengangkat Beragam Cerita dari Kreator Indonesia

    Suasana acara CapCut AI Content Fest 2026 yang berlangsung dalam dokumentasi fotografer Fahrul Nurullah.
    CapCut AI Content Fest 2026. Fotografer: Fahrul Nurullah

    Sepuluh karya yang tampil di AI Content Fest 2026 menghadirkan cerita dengan latar belakang, pengalaman, dan karakter yang beragam. Masing-masing karya membawa pendekatan berbeda dalam menggambarkan cerita dan perspektif dari berbagai bagian Indonesia.

    Dalam proses pengembangannya, para finalis memanfaatkan berbagai solusi kreatif dari CapCut, termasuk CapCut Video Studio dan fitur-fitur berbasis AI di dalam aplikasi, untuk mengeksplorasi ide, visual, hingga bentuk penyampaian cerita mereka.

    Perjalanan kreatif para finalis sebelumnya juga diperkenalkan kepada audiens melalui kampanye online CapCutFilmNaikLayar.

    Pada acara puncak, setiap film diputar secara bergiliran di layar lebar. Setelah itu, karya-karya tersebut mendapat penilaian dan tanggapan langsung dari lima pelaku industri kreatif, yaitu Angga Dwimas Sasongko, Mouly Surya, Upie Guava, Dinda Prasetyo, dan Gustav Anandhita.

    Sesi ini memberikan kesempatan bagi para finalis untuk memperkenalkan karya mereka kepada audiens yang lebih luas sekaligus mendapatkan perspektif langsung dari para profesional industri, mulai dari ide, visual, hingga penyampaian cerita.

    “Kami ingin kreator melihat CapCut bukan sekadar sebagai alat untuk menyunting video, tetapi sebagai ruang untuk mengeksplorasi ide dan membawa kreativitas mereka lebih jauh. Lewat berbagai fitur kreatif, termasuk fitur berbasis AI, kami ingin membantu kreator mencoba format, visual, dan cara bercerita yang lebih ambisius—termasuk bagi mereka yang ingin berkembang ke ranah film dan hiburan. Harapannya, semakin banyak ide yang sebelumnya terasa sulit diwujudkan dapat berkembang menjadi karya yang siap dinikmati audiens,” tambah Jessica Wowor, Head of Content Operations, CapCut Indonesia.

  2. 2. Daftar Pemenang AI Content Fest 2026

    Gelaran acara puncak CapCut AI Content Fest 2026 yang berlangsung di CGV Grand Indonesia (ScreenX), Jakarta, pada Kamis (11/9/2026) (dok. Ca
    Gelaran acara puncak CapCut AI Content Fest 2026 yang berlangsung di CGV Grand Indonesia (ScreenX), Jakarta, pada Kamis (11/9/2026) (dok. Capcut Indonesia)

    Adapun para pemenang yang diumumkan pada malam tersebut adalah:

    - Student Awards: Gerilya karya Yovan Arya Nugraha (Bogor)

    - Most Popular AI Microfilm: Selamat Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 karya Indrawan Agung (Bekasi)

    - Special Selection Award: DARI TANAH UNTUK INDONESIA karya Adams Taufik (Bandung)

    - Best Story: Bayu karya Ilham Setyawan (Semarang)

    - Best Visual: Bulan Tiga Belas karya Bobi Brilyan Bastenjar (Tangerang Selatan)

    - Jury's Special Mention: Hutang Toko Budi karya I Gede Wahyu Diatmika (Bali)

    - Next Icon Award: Baleo karya Cahyadi Widianto (Banten)

    - Best AI Micro Film: Bayu karya Ilham Setyawan (Semarang)

  3. 3. Showcase Menarik untuk Director Mode di CapCut Video Studio

    Visual untuk acara CapCut AI Content Fest 2026, dengan kredit fotografi tercantum atas nama Fahrul Nurullah.
    CapCut AI Content Fest 2026. Fotografer: Fahrul Nurullah

    Menurut saya, screening ini juga menjadi showcase yang menarik untuk melihat potensi Director Mode di CapCut Video Studio dalam menerjemahkan ide kreator menjadi sebuah microfilm.

    Yang menarik bukan sekadar kemampuan menghasilkan satu-dua klip AI yang terlihat keren, tetapi bagaimana teknologi tersebut bisa digunakan untuk menyusun berbagai adegan sehingga terasa sebagai bagian dari satu karya yang utuh.

    Dan... yeah, dari sisi visual, saya cukup terkesan dengan konsistensi dan kontinuitas antarscenenya.

    Karakter, suasana, kostum, serta berbagai elemen visual relatif terasa seperti berasal dari film yang sama. Hal ini menarik karena salah satu hal yang cukup mudah ditemukan dalam AI short film adalah perubahan detail karakter atau elemen visual secara tiba-tiba ketika berpindah dari satu adegan ke adegan berikutnya.

    Sebagai orang yang cukup familiar dengan AI shorts yang berseliweran di media sosial, saya sendiri awalnya punya ekspektasi yang cukup spesifik: visual yang sangat realistis, tetapi karakter bisa tiba-tiba berubah detail, kontinuitas semakin berantakan ketika ceritanya semakin panjang, atau interaksi dua karakter dalam satu frame mulai memperlihatkan kejanggalan visual.

    Karena itu, melihat microfilm yang mampu mempertahankan kontinuitas tersebut terasa cukup menarik. Memang belum sempurna, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa AI video mulai bergerak dari sekadar “menghasilkan klip keren” menuju kemampuan untuk membantu kreator membuat cerita dengan sejumlah adegan yang saling terhubung.

    Menariknya lagi, proses ini juga tetap membutuhkan waktu dan perhatian dari kreatornya. Salah satu kreator bahkan menyebut bahwa proses pembuatan karyanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu.

    Hal ini menjadi pengingat bahwa hasil AI microfilm yang terlihat polished bukan selalu berarti semuanya terjadi dalam satu kali klik. Ada proses memilih output, melakukan revisi, mengatur adegan, mengedit, dan memastikan hasil akhirnya tetap terasa sebagai satu karya.

    Dengan kata lain, AI memang bisa memperluas kemampuan produksi seorang kreator, tetapi sentuhan kreator tetap menjadi bagian penting dalam membuat hasil akhirnya terasa seperti film, bukan sekadar kumpulan klip AI.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More