- Rute: LRT Bekasi Barat – Dukuh Atas, dan sebaliknya.
- Durasi perjalanan sekitar 46 menit.
- Game yang digunakan adalah Elden Ring dan Wuthering Waves.
- Selama pengujian, saya lebih sering bermain sambil berdiri dibanding duduk.
- Permainan dilakukan non-stop hingga sampai stasiun terakhir.
Mencoba MSI Claw 8 EX AI+! Performa Kuat, dan... Nyaman di Tangan?

- Redaksi Duniaku.com mencoba MSI Claw 8 EX AI+ sebagai handheld gaming berbasis Windows.
- Perangkat diuji saat commuting di LRT Jabodebek dengan Elden Ring dan Wuthering Waves.
- Pengalaman penggunaan mencakup gaming, hiburan, serta menulis dan mengedit melalui Windows Mode.
Redaksi Duniaku.com mendapat kesempatan memainkan MSI Claw 8 EX AI+.
Gimana kesan kami soal device ini?
Mari kita bedah!
Table of Content
1. Tentang MSI Claw, terutama Claw 8 EX AI+

MSI Claw merupakan lini handheld gaming berbasis Windows dari MSI. Berbeda dengan konsol seperti Nintendo Switch yang memiliki ekosistem game tersendiri, MSI Claw pada dasarnya adalah sebuah PC Windows berukuran handheld. Artinya, pengguna dapat mengakses berbagai launcher PC seperti Steam, Xbox Game Pass, Epic Games Store, Battle.net, hingga aplikasi Windows lain layaknya sebuah laptop atau desktop.
MSI Claw 8 EX AI+ menjadi model terbaru dalam lini tersebut. Perangkat ini mengusung layar sentuh berukuran 8 inci dan ditenagai prosesor Intel Core Ultra terbaru dengan grafis Intel Arc terintegrasi. Kombinasi tersebut membuatnya mampu menjalankan berbagai game PC modern, mulai dari judul AAA seperti Elden Ring hingga game live service seperti Wuthering Waves.
Namun, seperti perangkat handheld Windows lainnya, daya tarik MSI Claw tidak hanya terletak pada kemampuannya menjalankan game. Karena menggunakan sistem operasi Windows, perangkat ini juga dapat difungsikan sebagai PC portabel untuk berbagai kebutuhan lain, seperti menjelajah web, menonton video, mengakses layanan streaming, hingga menjalankan aplikasi produktivitas ringan saat bepergian.
Dengan kata lain, MSI Claw 8 EX AI+ bukan sekadar konsol gaming yang bisa memainkan game PC. Ia adalah sebuah komputer Windows berukuran handheld yang kebetulan memiliki kontrol fisik lengkap layaknya controller konsol. Hal inilah yang membuat pengalaman penggunaannya berbeda dibanding memainkan game di smartphone maupun konsol portabel tradisional.
2. Kekuatan Intel Arc G3 Extreme

Salah satu daya tarik terbesar MSI Claw 8 EX AI+ adalah penggunaan Intel Arc G3 Extreme, yang memang dirancang khusus untuk handheld gaming.
Intel merancang arsitektur ini untuk menghadirkan keseimbangan antara performa grafis, efisiensi daya, dan pengendalian suhu pada perangkat berukuran ringkas seperti handheld PC.
Intel juga membekalinya dengan teknologi seperti XeSS 3, yang menggabungkan AI Super Resolution, Multi-Frame Generation, dan optimasi latensi untuk membantu meningkatkan frame rate sekaligus menjaga respons kontrol tetap cepat.
Namun, semua itu tentu akan terasa percuma kalau pengalaman bermainnya tidak ikut meningkat.
Selama beberapa pekan menggunakan MSI Claw 8 EX AI+, saya justru merasakan manfaatnya lewat pengalaman bermain sehari-hari.
Game-game yang saya gunakan sebagai pengujian, seperti Elden Ring, Wuthering Waves, hingga Cyberpunk 2077, dapat dijalankan dengan lancar. Memang, untuk default beberapa game akan menyesuaikan pengaturan grafis secara otomatis agar performa tetap optimal, tetapi menurut saya kompromi tersebut masih sangat masuk akal untuk sebuah perangkat handheld.
3. Diuji dengan LRT Stress Test

Untuk pengujian MSI Claw 8 EX AI+... tentu sebagian saya lakukan di rumah, kantor, maupun di tempat nongkrong seperti kafe.
Tapi di Duniaku.com, kami punya satu pengujian sederhana yang hampir selalu dilakukan ketika mendapat handheld gaming untuk diulas: LRT Stress Test.
Konsepnya sederhana. Saya menggunakan handheld tersebut seperti yang kemungkinan besar akan dilakukan banyak pengguna di Indonesia, yaitu saat perjalanan menggunakan transportasi umum.
Dalam kasus MSI Claw 8 EX AI+, saya menggunakannya saat commuting menggunakan LRT Jabodebek, yang berarti sebagian besar waktu perangkat dimainkan sambil berdiri di tengah keramaian jam pulang kantor.
Pengujian dilakukan dengan skenario berikut:
Alasan memilih pengujian ini cukup sederhana. Handheld gaming bukanlah perangkat yang hanya digunakan di rumah. Justru salah satu daya tarik utamanya adalah bisa dimainkan di perjalanan, baik saat menjadi penumpang kendaraan pribadi maupun transportasi umum.
Karena itu, bermain selama hampir satu jam di LRT mampu menguji banyak aspek sekaligus, mulai dari ergonomi, suhu perangkat, konsumsi baterai, hingga kenyamanan memainkan game dalam kondisi yang jauh dari ideal.
4. Keunggulan yang langsung terasa: nyaman di tangan

Hal pertama yang langsung saya sadari saat menggenggam MSI Claw 8 EX AI+ adalah ukurannya.
Dibanding handheld gaming pada umumnya, perangkat ini memang terasa besar. Saat saya sandingkan dengan Nintendo Switch standar, panjang bodinya terlihat jauh lebih besar.
Namun ukuran besar tersebut ternyata tidak membuat perangkat ini melelahkan untuk digunakan.
Justru sebaliknya. Meski dimainkan selama hampir satu jam di dalam LRT, tangan saya tidak cepat pegal. Saya rasa hal ini dipengaruhi oleh dua faktor utama.
Pertama adalah distribusi bobotnya yang terasa seimbang. Kedua adalah desain grip yang cukup menonjol. Bentuknya mengingatkan saya pada controller konsol, bukan handheld yang bagian belakangnya cenderung datar.
Alhasil, MSI Claw 8 EX AI+ terasa seperti memegang sebuah controller berukuran besar yang kebetulan memiliki layar 8 inci di bagian tengah.
Efeknya sangat terasa ketika memainkan game yang membutuhkan kontrol presisi.
Di Elden Ring, satu tombol yang salah ditekan bisa berujung kematian. Sementara di konten endgame Wuthering Waves, pemain dituntut terus melakukan dodge, swap karakter, hingga mengeluarkan skill dalam tempo cepat.
Selama pengujian, analog, trigger, maupun tombol-tombolnya terasa nyaman digunakan. Dipadukan dengan sedikit haptic feedback di momen-momen tertentu, pengalaman bermain terasa semakin imersif.
Yang paling penting, kenyamanan tersebut tetap terjaga bahkan setelah hampir satu jam dimainkan sambil berdiri di transportasi umum.
5. Pujian ekstra untuk kualitas controller-nya

Bagi saya, kualitas sebuah controller justru paling mudah diuji menggunakan game yang sudah sangat saya kenal.
Dalam kasus MSI Claw 8 EX AI+, dua game yang saya gunakan adalah Elden Ring dan Wuthering Waves. Keduanya sudah saya mainkan selama ratusan jam. Saya sudah berada di tahap muscle memory sudah sangat terasah.
Kalau ada delay input, analog yang kurang presisi, atau tombol yang terasa kurang responsif, biasanya saya langsung menyadarinya.
Karena itulah saya cukup terkesan selama menggunakan MSI Claw 8 EX AI+. Saat menghadapi boss atau musuh tangguh di Elden Ring maupun mencoba menuntaskan konten endgame Wuthering Waves, saya tidak pernah merasa sedang "melawan" controllernya.
Salah satu momen yang paling membuktikan hal tersebut adalah ketika menghadapi Crucible Knight di area tersembunyi Stormveil Castle.
Muscle memory yang selama ini terbentuk saat bermain di PS5 terasa berpindah begitu saja ke handheld ini. Saya masih bisa melakukan manuver yang biasa saya lakukan, termasuk mengaktifkan Bloody Slash pada timing yang sangat sempit hingga serangan saya mengenai lawan sementara ayunan pedang Crucible Knight melintas tepat di atas kepala karakter.
Bagi pemain Elden Ring, momen seperti ini membutuhkan pembacaan animasi lawan, timing input yang presisi, sekaligus kepercayaan penuh terhadap kontrol yang digunakan. Saya bisa melakukannya tanpa merasa perlu beradaptasi dengan perangkat baru.
Pengalaman serupa juga saya rasakan di Wuthering Waves.
Saat mencoba Tower of Adversity, saya tetap bisa menjalankan rotasi tim yang terdiri dari Lupa, Brant, dan Galbrena dengan mulus. Ultimate, skill, basic attack, swap karakter, hingga dodge presisi dapat dilakukan secara beruntun tanpa terasa ada input yang tertinggal ataupun terlambat.
Pada akhirnya, pujian terbesar yang bisa saya berikan justru bukan karena controller MSI Claw 8 EX AI+ memiliki fitur tertentu, melainkan karena saya hampir lupa sedang menggunakan perangkat baru. Muscle memory yang sudah terbentuk selama bermain di platform lain langsung terasa "nyambung", dan menurut saya itu menjadi salah satu indikator terbaik bahwa analog, tombol, trigger, serta ergonominya memang bekerja dengan sangat baik.
6. Keunggulan lain: baterai kuat dan bodi tetap adem

Selain ergonomi, daya tahan baterai juga menjadi aspek penting bagi sebuah handheld gaming.
Dalam pengujian menggunakan Elden Ring, baterai MSI Claw 8 EX AI+ berkurang sekitar 30% selama perjalanan dari Bekasi Barat menuju Dukuh Atas yang berlangsung sekitar 46 menit.
Artinya, jika berangkat dengan baterai penuh, perangkat ini masih menyisakan sekitar 70% saat tiba di tujuan.
Hasil tersebut cukup meyakinkan untuk penggunaan sehari-hari. Bahkan jika digunakan saat perjalanan pergi dan pulang kantor, pengguna masih memiliki sisa daya yang cukup sebelum akhirnya perlu mencari colokan listrik.
Hal lain yang cukup mengesankan adalah suhu perangkat.
Selama beberapa pekan penggunaan, MSI Claw 8 EX AI+ konsisten terasa adem di tangan. Hal ini kemungkinan didukung oleh sistem pendingin dual fan dan dual heat pipe yang digunakan MSI.
Menariknya, kondisi tersebut tetap saya rasakan ketika perangkat digunakan dalam situasi yang kurang ideal, seperti bermain sambil berdiri di dalam LRT yang sedang ramai. Selama sesi bermain Elden Ring maupun Wuthering Waves, performanya tetap stabil tanpa membuat area grip terasa panas.
7. Lancar Menjalankan Beragam Game Demanding Saat Ini

Kalau bicara soal performa, MSI Claw 8 EX AI+ jelas bukan handheld yang bisa dianggap remeh.
Selama masa review, perangkat ini mampu menjalankan beragam game modern dengan lancar. Mulai dari Wuthering Waves yang cukup menuntut performa, hingga Cyberpunk 2077 yang selama ini hampir selalu dijadikan tolok ukur untuk menguji kemampuan perangkat gaming.
Performa tersebut tentu didukung oleh prosesor Intel Core Ultra dengan grafis Intel Arc Graphics. Selama bermain, saya tidak pernah merasa perangkat ini kewalahan menjalankan game-game yang saya coba.
Tentu saja, seperti perangkat gaming lain, beberapa game akan menyesuaikan pengaturan grafis secara otomatis agar pengalaman bermain tetap optimal. Dalam beberapa kasus, resolusi atau preset grafis memang tidak selalu berada di pengaturan tertinggi. Namun menurut saya, kompromi tersebut masih sangat masuk akal untuk sebuah perangkat dengan ukuran seperti ini.
Yang menarik, justru setelah mencoba berbagai game AAA, saya merasa kemungkinan besar handheld seperti ini akan lebih sering saya gunakan untuk memainkan game yang lebih ringan tetapi punya replay value tinggi.
Game seperti Darkest Dungeon atau Slay the Spire, misalnya, terasa sangat cocok dimainkan saat perjalanan jauh atau commuting. Keduanya tidak terlalu membebani perangkat, tetapi tetap mampu menghabiskan waktu berjam-jam tanpa terasa.
Unit review yang saya gunakan juga dibekali kapasitas penyimpanan yang besar, sehingga saya bisa memasang cukup banyak game sekaligus tanpa harus terus-menerus menghapus dan mengunduh ulang.
Pada akhirnya, kesan yang paling sering muncul selama menggunakan MSI Claw 8 EX AI+ adalah sederhana: rasanya seperti membawa sebuah PC gaming ke dalam genggaman tangan.
Tentu tidak ada yang bisa memastikan sampai kapan perangkat ini akan terus mampu mengikuti tuntutan game AAA yang akan hadir beberapa tahun ke depan. Namun jika melihat performanya saat ini, MSI Claw 8 EX AI+ masih meninggalkan kesan yang sangat positif.
8. Bukan Hanya Gaming, Entertainment pun Nyaman

Salah satu keuntungan menggunakan handheld berbasis Windows adalah fungsinya tidak berhenti sebagai perangkat gaming.
Ketika tidak sedang bermain, saya bisa langsung berpindah ke mode Windows untuk membuka browser, menonton YouTube, menikmati Netflix, atau mengikuti livestream favorit seperti menggunakan sebuah PC biasa.
Layarnya yang berukuran 8 inci membuat pengalaman menonton terasa lebih nyaman dibanding smartphone. Memang ukurannya belum sebesar tablet, tetapi justru berada di posisi yang menurut saya cukup ideal: masih mudah dibawa ke mana-mana, tetapi menawarkan area layar yang jauh lebih lega dibanding ponsel.
Kalau kamu sudah memiliki tablet, fungsi ini mungkin memang terasa sedikit tumpang tindih. Namun bagi pengguna yang sehari-harinya hanya mengandalkan smartphone dan PC, MSI Claw 8 EX AI+ bisa menjadi perangkat tengah yang cukup menarik.
Saya sendiri sempat beberapa kali menggunakan perangkat ini bukan untuk bermain game, melainkan sekadar menikmati konten video ketika sedang bersantai.
Daya tahan baterainya juga membuat fungsi tersebut terasa praktis. Selama perangkat ini sanggup menemani sesi bermain Elden Ring selama perjalanan tanpa buru-buru mencari charger, tentu menonton film, serial, atau livestream bukanlah tantangan yang berarti.
9. Kalau dipakai kerja gimana?

Karena berbasis Windows lucunya kamu memang bisa saja menggunakan MSI Claw untuk beberapa pekerjaan. Yang sudah saya coba adalah menulis dan edit artikel.
Lucunya sebagian tulisan di artikel ini memang saya tulis dengan keyboard layar sentuh MSI Claw.
Jadi saya bisa memakai Windows Mode untuk masuk ke web browser. Dari sana saya bisa mengakses CMS Duniaku.com dan Google Drive. Dan dari sana nulis dan edit artikel pun jadi bisa dilakukan.
Bahkan kalau saya perlu misalnya screenshot image, saya bisa melakukannya dengan mudah dengan fitur screenshot yang, sebenarnya, dirancang untuk menangkap layar game.
Perlu buka banyak tab untuk referensi? Tiba-tiba RAM kuat yang bisa diandalkan untuk Cyberpunk2077 membuat kegiatan itu lebih mudah.
Kalau ada skenario dimana kamu perlu membuka layanan AI, mengakses dan menggunakan Chat GPT via web browser atau menggunakan Copilot yang sudah terinstall pun mudah.
Saya masih lebih suka kerja via PC tentu tapi lucu memang MSI Claw bisa dipakai nulis dan edit.
10. Kesimpulan

MSI Claw 8 EX AI+ meninggalkan kesan yang sangat positif selama saya menggunakannya.
Performanya mampu menjalankan koleksi game saya tanpa banyak kompromi. Mulai dari game AAA seperti Elden Ring dan Cyberpunk 2077, hingga game live service seperti Wuthering Waves dapat dimainkan dengan nyaman. Di sisi lain, game-game yang mungkin tidak terlalu menuntut spesifikasi tetapi sangat cocok dimainkan saat bepergian, seperti Darkest Dungeon, Hades, maupun Slay the Spire, juga terasa seperti pasangan yang pas untuk handheld ini.
Namun kalau ditanya apa yang paling membuat saya terkesan, jawabannya justru bukan performanya.
Yang paling saya ingat adalah betapa nyamannya perangkat ini digunakan.
Saya bisa memainkan Elden Ring hampir satu jam sambil berdiri di LRT tanpa tangan cepat pegal. Saya masih bisa mengandalkan muscle memory saat menghadapi Crucible Knight. Saya juga bisa menikmati rotasi cepat di endgame Wuthering Waves tanpa merasa sedang beradaptasi dengan controller baru.
Di luar gaming, MSI Claw 8 EX AI+ juga menunjukkan sisi lain yang tidak saya duga. Layarnya nyaman digunakan untuk menonton YouTube maupun streaming, sementara sistem operasi Windows membuatnya bisa berubah menjadi PC kecil ketika saya perlu membuka browser, mengakses CMS Duniaku.com, hingga menulis sebagian artikel ini.
Pada akhirnya, saya merasa MSI Claw 8 EX AI+ bukan hanya sebuah handheld gaming yang mampu menjalankan game AAA.
Perangkat ini terasa seperti sebuah PC Windows berukuran kecil yang kebetulan sangat nyaman digunakan untuk bermain game.
Dan justru itulah yang paling membekas selama masa review. Saya datang dengan ekspektasi menguji seberapa kuat MSI Claw 8 EX AI+, tetapi pulang dengan kesan bahwa kekuatan terbesarnya bukan hanya soal performa, melainkan seberapa mudah perangkat ini masuk ke aktivitas sehari-hari… mulai dari commuting, menikmati hiburan, hingga sesekali membantu menyelesaikan pekerjaan.















