5 Aplikasi yang Ngetren di Dekade 2010an tapi Kini Sudah Tidak Ada

- Dekade 2010-an melahirkan banyak aplikasi populer seperti Yahoo! Messenger, Path, BBM, Vine, dan Google+ yang sempat jadi bagian penting kehidupan digital pengguna.
- Setiap aplikasi memiliki keunikan tersendiri, mulai dari fitur chat real-time, konsep pertemanan eksklusif, hingga video pendek enam detik yang memicu kreativitas pengguna.
- Persaingan ketat dan perubahan tren membuat kelima aplikasi tersebut kehilangan popularitasnya dan resmi ditutup antara tahun 2017 hingga 2019.
Dekade 2010-an adalah masa yang menarik bagi perkembangan internet dan media sosial. Saat itu, banyak aplikasi yang sempat menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari. Ada yang digunakan untuk mengobrol dengan teman, berbagi foto, hingga membuat video pendek jauh sebelum format tersebut menjadi tren global.
Namun dunia teknologi bergerak sangat cepat. Sejumlah aplikasi yang dulu begitu populer kini sudah ditutup dan hanya tersisa sebagai kenangan bagi para penggunanya.
Berikut beberapa aplikasi yang sempat berjaya di era 2010-an, tetapi kini sudah tidak lagi beroperasi.
1. Yahoo! Messenger

Yahoo! Messenger sebenarnya sudah aktif sejak 2008. Karenanya bagi pengguna internet generasi 2000-an hingga awal 2010-an, Yahoo! Messenger atau YM mungkin menjadi salah satu aplikasi chat paling ikonik.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna mengobrol secara real-time, mengirim file, melakukan voice call, hingga memasang status yang bisa dilihat teman-teman dalam daftar kontak. Banyak orang juga masih mengingat berbagai fitur khasnya, seperti emoticon klasik, suara notifikasi yang unik, hingga fitur "Buzz!" yang sering digunakan untuk mengganggu teman yang sedang online.
Meski sempat menjadi raksasa komunikasi digital, popularitas Yahoo! Messenger terus menurun setelah munculnya berbagai pesaing seperti WhatsApp, LINE, dan Facebook Messenger. Yahoo akhirnya menutup layanan Yahoo! Messenger pada tahun 2018.
2. Path
Sebelum Instagram menjadi platform dominan seperti sekarang, Path sempat menjadi media sosial favorit banyak pengguna smartphone.
Keunikan Path terletak pada konsep pertemanan yang lebih eksklusif. Pengguna hanya bisa memiliki jumlah teman terbatas sehingga interaksi terasa lebih personal dibanding media sosial lain yang berorientasi pada jumlah followers.
Path juga terkenal karena tampilannya yang elegan dan berbagai fitur menarik seperti berbagi lokasi, aktivitas membaca, mendengarkan musik, hingga tidur. Bagi banyak pengguna, Path terasa seperti buku harian digital yang hanya dibagikan kepada lingkaran pertemanan terdekat.
Sayangnya, popularitas Path terus menurun seiring semakin kuatnya dominasi Instagram, Facebook, dan platform lain. Layanan ini akhirnya ditutup pada tahun 2018.
3. BlackBerry Messenger (BBM)

Pada masa kejayaan ponsel BlackBerry, BBM merupakan salah satu alasan utama banyak orang membeli perangkat tersebut.
BBM menghadirkan pengalaman berkirim pesan instan yang saat itu terasa revolusioner. Pengguna bisa mengetahui apakah pesan sudah terkirim atau sudah dibaca melalui indikator "D" dan "R", fitur yang kini menjadi hal biasa di berbagai aplikasi chat modern.
PIN BBM juga menjadi bagian dari budaya digital saat itu. Tidak sedikit orang yang bertukar PIN layaknya bertukar nomor telepon.
Ketika popularitas BlackBerry mulai menurun, BBM sempat mencoba bertahan dengan hadir di Android dan iOS. Namun langkah tersebut tidak cukup untuk menghadapi persaingan dari WhatsApp, LINE, Telegram, dan aplikasi lain. Layanan BBM untuk konsumen akhirnya resmi ditutup pada tahun 2019.
4. Vine
Sebelum TikTok dan Instagram Reels mendominasi internet, Vine sudah lebih dulu memperkenalkan konsep video pendek yang sangat singkat.
Aplikasi ini memungkinkan pengguna mengunggah video berdurasi enam detik yang diputar secara berulang. Keterbatasan durasi tersebut justru mendorong kreativitas para kreator konten.
Banyak meme internet dan komedian online yang lahir dari Vine. Bahkan sejumlah kreator yang kini terkenal memulai karier mereka melalui platform tersebut.
Meski memiliki pengaruh besar terhadap budaya internet modern, Vine kesulitan menemukan model bisnis yang berkelanjutan. Platform milik Twitter tersebut akhirnya ditutup pada tahun 2017.
Sekarang video-video hits terbesar dari Vine malah tersaji sebagai kompilasi di TikTok oleh berbagai akun.
5. Google+

Ketika Google meluncurkan Google+, banyak pihak menganggapnya sebagai penantang serius Facebook.
Platform ini menawarkan berbagai fitur menarik, salah satunya adalah Circles yang memungkinkan pengguna mengelompokkan kontak ke dalam kategori tertentu sehingga lebih mudah mengatur siapa yang bisa melihat sebuah unggahan.
Google+ juga sempat terintegrasi dengan berbagai layanan Google lainnya, membuat banyak pengguna internet setidaknya pernah memiliki akun di platform tersebut.
Namun meski didukung oleh salah satu perusahaan teknologi terbesar di dunia, Google+ kesulitan membangun komunitas yang aktif. Pengguna memang memiliki akun, tetapi tidak selalu menggunakannya secara rutin.
Google akhirnya mengumumkan penutupan layanan konsumen Google+ pada tahun 2019, mengakhiri perjalanan salah satu eksperimen media sosial terbesar dalam sejarah internet.














