5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

Mulai dari Hitman hingga Resident Evil, semua film yang dibuat berdasarkan video game selalu berakhir mengecewakan, apa alasannya?

5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu MengecewakanPara penggemar film selalu dapat mengandalkan Hollywood untuk mewujudkan mimpi mereka. Hollywood selalu dapat mengadaptasi materi apapun menjadi sebuah film blockbuster, baik itu berupa komik, novel, serial TV, dan bahkan mitologi kuno. Walaupun kelihatannya para studio besar di Hollywood telah memiliki pengetahuan untuk mengubah apapun menjadi sebuah film yang sukses, ternyata mereka masih belum dapat mengubah satu hal menjadi sebuah film yang pantas untuk disaksikan, yaitu adaptasi sebuah video game.

5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

[read_more id="249479"]

Hampir semua film yang dibuat berdasarkan video game mendapatkan kritik yang cukup negatif serta rating yang sangat menyedihkan. Hal ini memang mengherankan, apalagi mengingat hampir semua game sudah memiliki cerita yang sangat menarik untuk di adaptasi menjadi sebuah film layar lebar, namun, mengapa studio film tersebut gagal melakukan hal ini? Inilah 5 alasan mengapa film adaptasi video game selalu mengecewakan!


[page_break no="1" title="Mereka Melupakan Poin Utama dari Game Tersebut"]


5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

[read_more id="249566"]

Hingga saat ini, sudah ada dua film yang mencoba untuk memperkenalkan Agent 47 kedalam layar lebar, dan kedua film tersebut sangat tidak pantas untuk disaksikan para penggemar serial gamenya. Film Hitman pada tahun 2008 dan reboot-nya di tahun 2015 Hitman: Agent 47 telah mencoba untuk memperkenalkan pembunuh berdarah dingin tersebut kepada penggemar film, namun, mereka melupakan poin terpenting dari game tersebut ke dalam film mereka. Para penggemar gamenya pasti tahu bahwa Hitman adalah sebuah game stealth, dan adegan action hanya diperlukan saat situasi tertentu seperti saat Agent 47 harus melarikan diri.

5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu MengecewakanKedua film tersebut telah menampilkan karakter 47 sebagai seorang pembunuh yang tidak ragu untuk menembak orang lain, dan kesalahan terbesar dari kedua film tersebut adalah lupa untuk menambahkan aspek stealth kedalam ceritanya. Film adaptasi sebuah video game seharusnya lebih mengetahui tentang material yang akan mereka gunakan sebagai referensi dan menggunakannya untuk membuat sebuah film daripada menjual sebuah film action dengan cerita yang tidak masuk akal.


[page_break no="2" title="Mereka Mengubah Terlalu Banyak Hal dari Material Aslinya"]


5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

Para penggemar serial Resident Evil pasti sudah memahami bahwa ada dua versi dari cerita game tersebut, yaitu versi serial game dan filmnya. Film pertamanya memang sudah cukup berhasil untuk mengikuti alur cerita game dengan menempatkan karakternya dalam lokasi tertutup yang dipenuhi oleh banyak zombie. Namun, kelanjutan filmnya semakin menjauh dari cerita survival horror seperti gamenya dan lebih mengutamakan adegan action Milla Jovovich, mereka bahkan tidak ragu untuk mengubah kepribadian karakter dari game seperti Chris Redfield untuk menyesuaikannya dengan adaptasi filmnya.

5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

[read_more id="248468"]

Perubahan memang tidak dapat dihindari jika kita harus mengadaptasi sesuatu menjadi sebuah film layar lebar, tapi film Resident Evil buatan Paul W.S. Anderson telah menjadi sebuah film yang bahkan tidak lagi dapat dinikmati oleh para penggemar game survival horror tersebut. Film adaptasi seharusnya lebih memercayai apa yang membuat game tersebut disukai sebelum membuat sebuah film.


[page_break no="3" title="Mereka Tidak Bekerjasama dengan Tim yang Tepat untuk Membuat Sebuah Film"]


5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

Jika kamu tidak mengetahui apapun tentang video game, lebih baik kamu menghindari kesempatan untuk membuat sebuah film adaptasi game tersebut. Hal ini kelihatannya tidak begitu diperhatikan oleh para studio besar di Hollywood, karena mereka terus-menerus menugaskan sutradara yang tidak mengetahui apapun tentang dunia game dan memberikan mereka kesempatan untuk bereksperimen. Salah satu contohnya adalah Uwe Boll, sutradara yang bertanggung jawab atas film seperti House of the Death, Alone in the Dark, dan BloodRayne. Jika kamu tidak mengetahui beberapa judul tersebut, maka lebih baik jika kamu tidak mencari tahu.

5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu MengecewakanWalaupun memiliki kesempatan untuk membuat sebuah film dengan kualitas serta material yang sangat bagus, kesempatan tersebut selalu disia-siakan karena mereka tidak menggunakan sutradara yang tepat untuk membuat sebuah film dengan kualitas yang pantas untuk dinikmati para penggemar game. Kita tidak meminta sutradara kelas atas seperti Zack Snyder atau Christopher Nolan untuk membuat sebuah film, tapi setidaknya pergunakanlah sutradara dengan kemampuan yang tepat.


[page_break no="4" title="Mereka Terlalu Memanfaatkan Satu Hal untuk Filmnya"]


5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

[read_more id="248505"]

Jika kamu sudah pernah menyaksikan film Doom pada tahun 2005 yang menampilkan aktor terkenal seperti Karl Urban dan The Rock, maka kamu pasti tahu bahwa bagian paling bagus dalam film itu adalah adegan FPS yang hanya muncul dalam sebagian kecil film tersebut. Satu-satunya hal yang membuat semua orang antusias untuk menyaksikan film Doom adalah karena adanya adegan FPS tersebut, dan mereka terlalu memanfaatkan satu adegan untuk menjual film dengan kualitas yang sebenarnya tidak begitu bagus.

Teknik seperti ini juga digunakan dalam film Hitman: Agent 47 yang menambahkan berbagai adegan action ke dalam film mereka sehingga film tersebut menjadi sangat membosankan untuk disaksikan. Sebuah game dapat dikatakan menarik jika mereka memiliki berbagai macam aspek yang membuat game tersebut pantas untuk diingat seperti karakter, cerita, atau gameplay. Seharusnya mereka lebih memperhatikan semua hal tersebut dalam membuat sebuah film adaptasi, sehingga film mereka tidak akan terlihat datar dan membosankan.


[page_break no="5" title="Mereka Mengutamakan Penampilan daripada Isi"]


5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu Mengecewakan

Siapapun yang pernah menyaksikan film Max Payne di tahun 2008 pasti akan memahami maksud dari kalimat di atas. Film yang menampilkan Mark Wahlberg dan Mila Kunis ini memang memiliki visual yang sangat memukau, namun, penulisan cerita dan eksekusi dari filmnya sangat mengecewakan sehingga banyak orang mengatakan bahwa film tersebut sangat membosankan.

5 Alasan Film Adaptasi Video Game Selalu MengecewakanTim produksi film Max Payne terlalu banyak menghabiskan waktu untuk membuat efek CGI dan berharap orang tidak memperhatikan alur cerita membosankan yang telah mereka buat, sayangnya hal tersebut tidak berhasil. Video game AAA memang selalu mempunyai visual yang sangat menarik, namun, mereka hanyalah sebuah cara untuk menyampaikan sebuah cerita, Hollywood seharusnya menyadari hal ini.

Itulah 5 alasan yang selalu membuat film adaptasi video game memiliki hasil akhir yang sangat mengecewakan. Apakah kamu memiliki pendapat sendiri mengapa film adaptasi video game selalu memiliki hasil akhir yang sangat tidak pantas untuk disaksikan? Atau kamu mengetahui sebuah judul film yang dapat membuktikan bahwa Hollywood ternyata sudah berhasil untuk membuat sebuah film adaptasi game yang menarik? Berikan pendapatmu dikomentar yah!

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU