Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya!

Suka genre action tapi lebih suka menuangkan ide cerita lewat novel daripada komik? Bisa kok! Pelajari tips-tips berikut!

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya!

Kamu menyukai genre action dan lebih suka menuangkan ide cerita lewat novel daripada komik? Bisa kok! Pelajari tips-tips berikut, yuk!

Jika kamu termasuk penikmat komik Indonesia, sepertinya sudah tak asing jika kamu melihat screenshot komik laga bertebaran di linimasa media sosialmu.

[duniaku_baca_juga]

Komikus-komikus milenial (kelahiran 1980-2000) Indonesia memang cukup banyak menggemari genre ini, seperti Alex Irzaqi, Suryo Laksono, Is Yuniarto, bahkan Sweta Kartika. Bahkan, komikus generasi lama pun banyak yang menggeluti tema laga, seperti Harya Suraminata (Hasmi) dan Widodo Noor Slamet.

Ya, genre action adalah salah satu genre yang paling digandrungi di dunia perkomikan. Biasanya ditujukan untuk audiens laki-laki. Tipe komik seperti ini biasanya tidak berdiri sendiri, namun lebih sering dikemas dengan subgenre lain, seperti subgenre superhero, silat, atau bahkan perwayangan.

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Shonen Jump, Kompilasi Populer Komik Action di Jepang. Sumber: Reddit[/caption]

Kenapa genre action disukai? Sebagaimana orang-orang menyukai komik shonen Jepang, pada dasarnya genre action disukai karena dua hal, yakni 1) karena ceritanya berkaitan erat dengan perjuangan hidup dan 2) karena visualisasi adegan tarungnya sangat memanjakan mata.

Akan tetapi, menjadi kreator fiksi action tak terbatas pada format komik saja. Ada banyak format lain yang belum kita rambah, salah satunya adalah novel.

[read_more id="357155"]

Lihat kenyataan, tak semua orang punya kemampuan dan keinginan untuk menuangkan ide cerita ke dalam format komik. Lantas, apa yang harus kita lakukan jika ternyata kita lebih suka berkarya lewat media novel?

Jangan risau. Beberapa tips ini mungkin bisa membantu kamu menerawang kehidupan sebagai penulis novel action.

[page_break no="1" title="Novel Action Sebenarnya Sudah Ada Sejak Lama, Masalahnya ..."]

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Novel Action Legendaris, 007 (James Bond). Sumber: popculture-y[/caption]

Kamu tidak perlu khawatir. Novel action itu bukan barang baru.

Novel action adalah salah satu jenis literatur yang sudah ada sejak bertahun-tahun lamanya. Tanyakan kepada penyuka genre ini, mereka tentu akan mampu menyebutkan satu-persatu judul novel lokal maupun internasional yang mendedikasikan dirinya pada tema laga.

Dari luar negeri, kita bisa melihat judul-judul populer seperti 007 (James Bond), Jason Bourne, Harry Potter, Divergent, The Hunger Games, dan lain-lain. Semuanya termasuk novel action. Daftarnya masih panjang, yang kami sebutkan hanya segelintir saja.

Bagaimana dengan Indonesia? Oh, Indonesia juga punya novel action yang terkenal, lho. Katakanlah seperti Tujuh Manusia Harimau dan Wiro Sableng. Dua judul ini termasuk novel action Indonesia terbaik lintas zaman, bahkan di-remake ulang menjadi film modern.

Oleh karenanya, argumenmu invalid jika kamu mengatakan bahwa novel action adalah jenis fiksi yang edgy dan kurang populer.

Permasalahan novel laga yang sebenarnya bukan di ranah popularitas, tetapi jumlah penulis action milenial--khususnya dari Indonesia--yang terlihat semakin berkurang. Hal ini yang mengkhawatirkan, sebab kelestarian novel action bisa semakin tergerus dan semakin jauh tertinggal oleh genre-genre lainnya.

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Salah Satu dari Segelintir Novel Action Legendaris di Indonesia. Sumber: Bukalapak[/caption]

Hal ini selaras dengan pemaparan pada Blog Detik, yang mengatakan bahwa Indonesia memang kekurangan penulis action dan lebih fokus pada cerita-cerita personal maupun drama percintaan.

Kita, kreator Indonesia, sepertinya memang sudah saatnya mengakui bahwa kita kekurangan Montinggo Busye (Tujuh Manusia Harimau) dan Bastian Tito (Wiro Sableng) generasi baru. Dan sudah sepatutnya mengakui bahwa kita juga kekurangan Ian Fleming (James Bond) dan Robert Ludlum (Jason Bourne) versi tanah air.

[duniaku_adsense]

Dengan adanya fakta ini, kami harap kamu bisa menjadi penulis novel action milenial yang akan mengharumkan nama Indonesia suatu hari kelak. Untuk tahu lebih jauh, ayo kita lanjut ke bahasan berikutnya yang lebih serius!

[page_break no="2" title="Lebih Banyak Baca Komik Sebagai Referensi? Tak Masalah, Tetapi ..."]

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Sumber: PinArt[/caption]

"Kak, aku lebih suka baca komik, tapi pengennya bikin novel. Gimana, dong!?"

Pertanyaan di atas cukup umum kita temui di kalangan kreator milenial pemula. Kenyataan tersebut tampak ironis bagi sebagian orang. Mau bikin novel, tapi kiblatnya kok ke komik? Nggak nyambung, keleus!

Tetapi, benarkah seironis itu?

[read_more id="355811"]

Sebenarnya, mengambil komik sebagai sumber inspirasi maupun referensi bukanlah hal yang salah. Apalagi, komik masih termasuk ke dalam salah satu jenis literatur populer di industri kreatif. Tak perlu risau, pada dasarnya sumber inspirasi dan referensi itu bisa datang dari mana saja, kok.

Yang jadi masalah adalah ketika kita terlalu banyak menyuntikkan cara bercerita komik ke dalam novel. Padahal, meskipun terbilang "bersaudara", novel dan komik punya prinsip-prinsip yang berbeda. Audiensnya pun berbeda. Artinya, kamu harus sadar bahwa ada hal-hal yang tidak sama antara komik dan novel.

Bingung? Kita bikin contoh kasus saja, ya.

[duniaku_baca_juga]

Kita ambil Dragon Ball Z sebagai contoh. Komik legendaris ini banyak memasukkan adegan perkelahian antarkarakter. Bahkan, adegan pertarungan melawan satu musuh pun bisa dikemas dalam puluhan chapter. Bayangkan, puluhan chapter.

Sekarang, bayangkan jika kamu harus menerjemahkan rentetan adegan pertarungan itu ke dalam novel. Apakah audiens akan tertarik membaca kumpulan teks tentang pertukaran tinju, jurus, dan tendangan ... katakanlah sebanyak 20 halaman tanpa henti?

Secara umum, membaca adegan laga dalam bentuk teks sebanyak puluhan halaman berturut-turut akan membuat pembaca merasa kebosanan. Inilah salah satu perbedaan novel action dengan komik action yang paling siginifikan.

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Contoh Adegan Laga Sederhana dalam Novel. Sumber: Vampire Guardian Angels[/caption]

Dari penjelasan di atas, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak sama antara cara bercerita komik dan novel. Sumber referensi memang bisa dari mana saja, tetapi teknis pembuatannya tentu berbeda.


TIPS: Mengingat bahwa teknis pembuatan novel dan komik berbeda, alangkah baiknya jika para penulis muda mulai membiasakan diri membaca karya-karya literatur ringan. Kamu bisa memulainya dari jenis novel yang paling ringan seperti teenlit atau light novel.

Selain itu, kamu juga bisa melatih kemampuan menulismu secara efektif dengan membaca berita dari situs lokal ternama seperti Kompas atau Liputan 6. Jika kebetulan ceritamu termasuk cerita action, kamu bisa belajar dari berita-berita kriminal saat memaparkan kronologi kejahatan.


Semakin penasaran? Simak pembahasan selanjutnya, yuk!

[page_break no="3" title="Bikin Adegan Action di Novel Agar Bisa Semenarik Komik"]

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Sumber: One Punch Man Wikia[/caption]

Novel action termasuk unik jika dibandingkan dengan novel-novel bergenre umum lainnya. Hal ini dikarenakan adanya adegan-adegan laga pada novel action yang mudah untuk diimajinasikan, namun sulit untuk dideskripsikan.

Mungkin ini adalah salah satu alasan kenapa banyak penulis laga pemula di Indonesia yang akhirnya pindah jalur menjadi komikus. Sebab, mendeskripsikan adegan laga dalam bentuk ilustrasi memang terbilang "lebih mudah" ketimbang menggambarkannya dalam bentuk sekumpulan teks.

[read_more id="354118"]

Lantas, timbul pertanyaan: bagaimana caranya menulis adegan laga yang menarik dalam bentuk teks? Bisakah novel action mendeskripsikan adegan aksi yang sama menariknya dengan komik action?

Novel adalah lautan teks. Jika kamu menguasai banyak kosakata, menggambarkan adegan laga tentu takkan menjadi masalah. Apalagi, bahasa Indonesia kaya dengan sinonim, kamu bisa menggunakan situs seperti sinonimkata atau KBBI untuk mencari padanan kata yang tepat.

[duniaku_adsense]

Kita ke studi kasus saja, agar materi ini lebih mudah untuk dipahami.

Perhatikan potongan gambar komik Dragon Ball Z berikut:

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Sumber: target="_blank" >Youtube[/caption]

Bagaimana cara kita menggambarkan adegan seperti itu ke dalam kata-kata? Perhatikan rangkaian teks berikut:

Son Goku dan Frieza merangsek maju secara bersamaan. Mereka berlari pada kecepatan yang tak terkira. Keduanya mendekat. Hampir. Sesaat setelahnya meraung, melepas emosi sekuat tenaga.

KRAAAK! 

Son Goku dan Frieza pun saling hantam. Keduanya mengadu hasta sekuat tenaga, entakan energinya sampai terasa hingga radius ratusan meter. Rambut dan pakaian Goku berkibar, Frieza hampir terentak. Keduanya berhadapan dengan geram.

Bagaimana? Menarik, bukan? Ternyata novel action juga bisa menarik, sama seperti komik.

Singkatnya, kamu hanya perlu banyak membaca dan berlatih. Semakin kaya kosakatamu, maka akan semakin menarik saat kamu menggambarkan adegan action di dalam novel.

[page_break no="4" title="Adegan Action dalam Novel Memang Menarik, Tetapi Jangan Kebanyakan"]

Ingin Jadi Penulis Novel Action, tapi Bacanya Komik? Tetap Bisa, Ini Tipsnya! Sumber: Visme Blog[/caption]

Kalau sudah tahu caranya, menulis adegan action dalam novel memang terasa menarik. Akan tetapi, kamu juga perlu berhati-hati. Adegan action dalam novel tetap harus proporsional, jangan sampai kebanyakan.

Sebagaimana yang telah kami jelaskan pada subbab nomor 2, kemungkinan besar pembaca akan merasa kebosanan jika kamu menyuntikkan adegan perkelahian, kejar-kejaran, atau tembak-tembakan yang terlalu panjang.

[duniaku_baca_juga]

Sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Harvard, membaca itu memang membakar kalori lebih banyak daripada menonton televisi. Konsentrasi yang dibutuhkan untuk memproses kumpulan teks lebih tinggi, berbeda saat kita melihat kumpulan gambar.

Itulah kenapa kondisi psikologis pembaca komik dan pembaca novel berbeda. Ini yang harus kamu perhatikan. Kita tidak bisa menyamakan cara bercerita komik dengan cara bercerita novel.

[duniaku_adsense]

Lantas, jika kita tidak bisa membuat adegan perkelahian terlalu panjang, apa yang harus kita lakukan agar novel action yang kita buat tetap bisa menarik?

Beberapa tips berikut mungkin bisa membantu kamu:

  1. Kamu tidak perlu menggambarkan adegan perkelahian secara keseluruhan, tetapi bisa dengan mengambil poin-poin penting atau terseru pada bagian itu. Sehingga, novelmu tetap bisa fokus ke cerita walaupun mengandung adegan action yang alot.

  2. Kamu juga bisa mengikuti metode novel Wiro Sableng, di mana adegan action-nya seringkali diselingi dengan percakapan antarkarakter. Sehingga, cerita dan adegan laga bisa tetap seimbang.

Dengan beberapa tips di atas, semoga penjelasan kami bisa membantu kamu maju selangkah demi selangkah menjadi penulis novel action Indonesia. Tak perlu bercita-cita jadi best seller dulu, deh. Yang penting, berkarya saja dulu.

Semangat!

Diedit oleh Fachrul Razi

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU