Review The Dark Tower: Sebuah Kisah Western dengan Sentuhan Fantasi yang Hambar

Bagaimana kualitas dari film The Dark Tower? Baca saja review ini!

Review The Dark Tower: Sebuah Kisah Western dengan Sentuhan Fantasi yang Hambar

Review The Dark Tower: Sebuah Kisah Western dengan Sentuhan Fantasi yang HambarAkhirnya film yang merupakan adaptasi novel terkenal kembali terjun dalam ketatnya dunia perfilman internasional. Akankah sebuah perpaduan yang terdiri dari genre western, fantasi dan fiksi ilmiah ini mampu memikat hati penonton seperti yang tergambar dalam trailernya?

[duniaku_baca_juga]

Seolah tak ingin kalah dengan The Magnificent Seven yang sukses mempopulerkan genre western kembali ke bioskop, Columbia Pictures kini mempersembahkan sebuah adaptasi dari novel karangan Stephen King yang berjudul The Dark Tower.

Sayangnya, meskipun sering mendapatkan promosi dan trailer yang begitu memukau, film The Dark Tower malah mendapat kritik negatif dari para kritikus film. Kamu bisa melihat kumulasi review di Rotten Tomatoes, IMDB dan Metacritic.com. Tak tanggung-tanggung, rating yang diberikan pun sangat buruk pada minggu pertamanya.

Ingin tahu kenapa film yang menjadi ekspetasi banyak orang malah mendapat nilai rapor merah di mata para pecinta film? Simaknya ulasannya di bawah ini!

SinopsisReview The Dark Tower: Sebuah Kisah Western dengan Sentuhan Fantasi yang Hambar

[duniaku_adsense]

The Dark Tower bercerita tentang seorang anak remaja bernama Jake Chamber yang mengalami permasalahan dengan psikologisnya semenjak kepergian sang ayah. Dia terus mendapat gambaran aneh mengenah berbagai macam hal aneh seperti seorang pria berpakaian hitam, menara kegelapan dan yang terakhir, seorang gunslinger.

Semula orang tuanya, yaitu Laurie dan Lon, ayah tiri Jake mengira anak lelaki tersebut hanya mengalami trauma biasa akibat kesedihannya semenjak kematian ayah kandungnya. Namun Jake terus menyangkal dan mencoba memberitahu bahwa di dunia lain terdapat sebuah bencana besar yang siap menghancurkan dunia.

Akhirnya, Jake pun memutuskan kabur dan menuju ke sebuah rumah tua yang di dalamnya terdapat mesin misterius yang mengantarnya ke dunia lain. Di situlah, Jake bertemu Roland, sang Gunslinger terakhir.

Aksi yang Standar dengan Formula Lama

Ada beberapa alasan mengapa penulis mengatakan bahwa The Dark Tower tak menawarkan aksi yang sanggup memukau para penonton selama pemutarannya. Pertama, aksi tembak-menembak yang disajikan memakai format lama yang pastinya sering dipakai di film aksi: jagoan utama sering luput dari serangan para kroco dan sering menembak tepat sasaran.

Kedua, hampir tak ada aksi baru yang belum terpikirkan oleh para penonton sebelumnya alias masih fresh. Seluruh pola pertarungan yang penulis tonton hampir tertebak dengan tepat sebelum pengeksekusian. Intinya, tak ada adegan spektakuler yang sanggup memanjakan mata dalam The Dark Tower. Semuanya serba klise dan membosankan.

Bahkan suatu adegan yang terdapat dalam trailer, di mana Roland menembak hanya dengan bermodal instingnya belaka juga tidak banyak membantu membuat penonton berdecak kagum dan terkesan. Hampir tak ada scene-scene memorable yang seharusnya menjadi daya tarik film ini.

Plot yang Terburu-buru dan Datar tanpa Pengembangan yang Berarti

Merangkum materi novel ke dalam satu film bukanlah perkara mudah. Banyaknya cerita yang harus dibawakan dalam skenario film dan keterbatasan durasi tentu saja berefek pada kecepatan plot cerita yang disajikan dalam film ini.

Pada menit-menit pertama penayangannya saja, The Dark Tower mulai terasa terburu-buru dalam memaparkan setiap pengenalan karakternya. Semua tokoh yang muncul terkesan hanya muncul dan berlalu begitu saja tanpa kejelasan berarti. Bahkan kematian para karakter sampingan pun tak berefek sedikitpun ke cerita.

Premis ceritanya juga tak ada kejelasan sampai akhir. Apa motif sang antagonis berbuat seperti itu? Apa keuntungan yang didapat jika sang antagonis berhasil menjalankan niatnya? Semua hal tersebut tak terjelaskan sampai akhir.

Yang jelas, antagonis berbuat begitu karena ia jahat. Sang jagoan hanya bertugas mencegah niat sang penjahat. Itulah formula yang diterapkan sutradara Nikolaj. Parahnya lagi, eksekusi akhir klimaks ceritanya berkesan deus ex machina.

Caranya pun terbilang klise : Sang jagoan yang hampir kalah oleh penjahat mendapat ilham untuk menang dengan cara yang tak terduga. Padahal kalau dari bukunya saja The Dark Tower memiliki potensi cerita epik yang sanggup menyaingi Lord of The Ring. Sayangnya dari awal sampai akhir, film besutan Nikolaj Arcel tak memiliki pengembangan cerita yang berarti dan berkesan datar.


Masih banyak lagi aspek film ini yang harus dibenahi sutradaranya. Apa saja bagian-bagian yang harus dikoreksi dari film ini? Klik halaman selanjutnya!

Pendalaman Karakter yang Kurang Maksimal dan Berkesan Tempelan

[duniaku_adsense]

Elemen inilah yang paling banyak menyumbang nilai merah pada The Dark Tower. Selain tiga tokoh utama : Roland, Jake dan Walter, hampir semua tokoh sampingan tak ada yang terlihat “hidup”.

Para karakter tersebut baik kubu protagonis dan antagonis seolah hanya diprogramkan untuk mendukung tokoh utama dan menjegal antagonisnya. Begitu mereka mati, ya sudah. Tak ada yang peduli lagi. Untungnya, kekurangan tersebut tertutupi akting yang memukau dari Idris Elba dan Matthew McConaughey.

Idris mampu memerankan peran seorang gunslinger dengan bagus, baik dari sikapnya maupun gerak-geriknya sebagai seorang “prajurit”. Hanya saja, saat melakoni adegan beradaptasi dengan kehidupan dunia modern, Idris mulai kehilangan sentuhannya.

Berbeda dengan Matthew yang membawakan peran Walter dengan gemilang. Ia berhasil menghidupkan sosok penjahat yang pantas ditakuti dan tak bodoh seperti stereotip penjahat mainstream pada umumnya. Berkat totalitas Matthew dalam menjiwai karakter Walter inilah yang banyak menolong The Dark Tower tak harus bernasib sama dengan Emoji Film.

Efek Visual yang Serba Tanggung

Untuk efek visual, The Dark Tower juga sepertinya perlu pembenahan jika memang beruntung untuk segera menelurkan sekuelnya. Banyak yang mengatakan bahwa The Dark Tower hanyalah film fantasi kelas B dari aspek ini.

Perkataan tersebut benar adanya. Penulis sempat heran saat melihat kemunculan para monster bawahan Walter yang tak ada kesan mengerikannya sama sekali akibat pengolahan CGI yang kurang maksimal. Kasarnya, para monster pion antagonis utama ini seperti kebanyakan makhluk kroco yang kita jumpai pada film-film yang rilis pada tahun 90an.

Verdict Level : Protect Arra’s Smile/10

[read_more id="Catat Tanggalnya! Ini Dia Jadwal Rilis Film Beyond Skyline!"]

Penulis menganggap The Dark Tower memiliki potensi cerita epik yang mampu memukau berbagai kalangan. Film ini juga terkesan cukup berani menerapkan konsep multisemesta ala MCU dengan gabungan genre western, supernatural dan scifi dalam satu konsep yang belum terpikirkan banyak orang.

Sayangnya, The Dark Tower memiliki banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan akibat banyaknya kritik negatif yang ditujukan oleh para pecinta film. Mulai dari masalah plot, pendalaman karakter, efek visual dan lain-lain.

Akhir kata: jangan buang karakter cerita begitu saja, terutama yang secantik Arra.

Kabar Gembira untuk Kita Semua!

Eits, ternyata The Dark Tower sudah mendapatkan lampu hijau untuk adaptasi serial televisinya. Sejak September 2016 lalu, serial televisi The Dark Tower sudah dijadwalkan akan tayang pada 2018 mendatang dengan duo aktor utama : Idris dan Taylor. Seri ini dibuat untuk mengisi latar belakang filmnya sendiri berdasarkan beberapa seri novelnya.

Konon serial televisinya sendiri berperan untuk menjelaskan berbagai premis cerita yang belum dijelaskan di filmnya. Bahkan jika serial televisinya sukses, besar kemungkinan The Dark Tower akan mendapatkan sekuel filmnya.

Berharap saja, Idris Elba bisa kembali bermain sebagai Roland, lengkap dengan topi koboi tentunya.

Diedit oleh Fachrul Razi

Artikel terkait

Latest