Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari!

Membongkar rahasia kisah sukses KukuRockYou, Vandaria dan DreadOut dalam sehari!

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Konsep FIKTIF yang santai. Mirip ILK ya![/caption]

Seperti yang sudah kami beritakan sebelumnya, Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia (Kemenkominfo) bersama Duniaku.net menggelar sebuah forum industri teknokreatif yang disebut dengan FIKTIF atau Forum Industri Konten Teknokreatif Indonesia. Sebagai permulaan, dipilihlah Jogjakarta sebagai tempat penyelenggara, dimana acara ini sudah digelar di Hotel The Phoenix, Jl. Jendral Sudirman no.9 Yogyakarta pada hari Sabtu, 13 September 2014 kemarin. Dengan mengusung tema "Membawa Hak Kekayaan Intelektual Produk Konten Teknokreatif Menembus Pasar Global", FIKTIF menghadirkan beberapa pemilik Intelectual Property (IP) papan atas Indonesia seperti seperti Digital Happiness dengan DreadOut-nya, Ami Raditya dengan Vandaria-nya, dan Achmad Rofiq dari KukuRockYou. Selain tiga nama di atas, forum juga diisi oleh Hari Sungkari, yang merupakan salah satu pemerhati IP di Indonesia.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari!

Acara baru dimulai pukul 09.00, namun sejak pukul 08.00 pagi sudah tampak antrian dari para mahasiswa, game developer dan animator Jogjakarta untuk melakukan registrasi. Konsep dari acara ini dibuat sedikit santai, dimana para peserta duduk melingkari meja agar lebih memudahkan juga untuk melakukan diskusi. Untuk menunjukkan semangat nasionalisme, forum diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama. Dari pantauan Duniaku, sebagian besar peserta masih berstatus mahasiswa, yang menunjukkan bagaimana antusiasme mereka dalam menyambut event ini.

Setelah bersama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya, forum dibuka dengan sambutan dari Edy Murdiman selaku Direktur Pemberdayaan Konten Industri Informatika. Edy mengungkapkan bahwa konten digital akan tumbuh pesat seiring dengan perkembangan teknologi yang ada. Hal tersebut juga akan membuat konten teknokreatif menjadi satu aspek yang potensial dan menjanjikan di masa yang akan datang. Permasalahan yang dihadapi di Indonesia perkembangan talenta industri ini di Indonesia belum diikuti dengan kualitas produk yang masih belum bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Oleh karena itu, FIKTIF diharapkan bisa mengatasi permasalahan tersebut.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Edy Murdiman, Direktur Pemberdayaan Konten Informatika[/caption]

FIKTIF sendiri memberikan kesempatan yang besar bagi para pemilik IP, pelaku industri teknokreatif maupun bagi masyarakat yang ingin terjun dalam industri ini. Bagi pemilik IP, FIKTIF memberikan kesempatan bagi mereka untuk berbagi kisah sukses dan memperkenalkan produk mereka yang sudah berhasil menembus pasar baik lokal maupun internasional. Sedangkan bagi pelaku industri teknokreatif dan masyarakat luas, FIKTIF bisa menjadi sarana untuk saling bertemu dan membina relasi guna membuka peluang kerja sama baru. Melalui FIKTIF, pemerintah pun juga bisa mengumpulkan data terkait dengan pelaku industri teknokreatif ini.

Setelah dibuka dengan sambutan dari Edy Murdiman, pembicara pertama dari FIKTIF datang dari DGM Animation sekaligus kreator dari animasi KukuRockYou, Achmad Rofiq. Dalam presentasinya, Achmad menjelaskan "kegalauannya" dalam pencarian mengenai bagaimana dan seperti apa IP yang disukai banyak orang. Achmad menjelaskan, bahwa dirinya sudah mulai berkecimpung dalam mengembangkan IP sejak tahun 2005 lewat sebuah animasi berjudul Catatan Dian yang sempat ditayangkan di TVRI. Setelah itu, buah karya berikutnya pun juga ditayangkan oleh MNC TV berjudul Songgo Rubuh.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Achmad Rofiq[/caption]

Sayangnya, Achmad menilai stasiun TV tidak bisa memanajemen IP-IP tersebut dengan baik, sehingga gaungnya pun berhenti seiring dengan berhentinya penayangan animasi tersebut. Studio animasi juga menghadapi permasalahan lain saat akan menayangkan hasil karyanya di stasiun TV karena harus berkompetisi dengan studio yang dimiliki stasiun TV tersebut. Permasalahan tidak berhenti di situ, karena Achmad menilai animasi buatan studio milik stasiun TV tersebut memiliki tema yang sama, dan tidak ada nilai keunikan tersendiri.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari!

Dari pencarian selama beberapa tahun mengenai seperti apa IP yang digemari, akhirnya dia membuat KukuRockYou yang menampilkan kisah seekor ayam bekisar bernama Jagur yang berprofesi sebagai penyanyi rock. Untuk mengembangkan animasi yang ditayangkan setiap hari Minggu pukul 09.00 pagi ini, DGM Animation bekerja sama Gramedia. Bahkan, Achmad mengungkapkan bahwa Nickelodeon juga tertarik untuk membawa KukuRockYou ke pasar internasional dengan nama Rocky Rock Star. Di akhir presentasinya, Achmad memberikan sebuah kesimpulan, bahwa IP yang baik adalah mengajari penggemarnya untuk mencintai karakter yang dibawakan, dan hal tersebut ingin dia lakukan lewat KukuRockYou ini.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Ami Raditya[/caption]

Pembicara kedua dalam forum ini adalah Ami Raditya, kreator dari Vandaria. Ami menjelaskan Vandaria sebelumnya hanyalah proyek iseng-iseng yang akhirnya tumbuh dan berkembang lewat komunitas. Dari kumpulan cerita pendek di majalah Ultima, akhirnya Vandaria pun hadir dalam multiproduk, mulai dari Trading Card Game Vandaria Wars, beberapa novel hingga game. Ami sendiri mengaku cukup lama membiarkan Vandaria tertidur. Namun sejak kembali dari BlizzCon tahun 2010 dan mendapatkan banyak ilmu dari Blizzard, akhirnya Ami memutuskan untuk membangkitkan kembali Vandaria. Dengan genre Vandaria yang high fantasy, salah satu pelajaran yang didapat Ami dari Blizzard adalah pentingnya membuat lore yang kuat sebagai landasan dunianya. Lore inilah yang menjadi kekuatan utama Blizzard di industri game dan pop culture hanya dengan tiga judul saja, yaitu Warcraft, Starcraft dan Diablo.

Karena berkembang lewat komunitas, novel Vandaria pun ditulis oleh penulis yang berbeda-beda namun masih dalam satu dunia yang sama, yang mana penulisnya pun juga datang dari komunitas itu sendiri. Sejak membangkitkan kembali Vandaria sejak kepulangan dari BlizzCon, total Vandaria sudah menelurkan sepuluh novel, dan novel kesebelasnya sendiri, Winterflame akan dirilis bulan Oktober mendatang. Winterflame sendiri juga menandai perubahan strategi Vandaria, dari merilis banyak produk bertubi-tubi dan berharap ada satu produk yang menjadi hit di pasaran, menjadi merilis satu produk yang benar-benar matang melalui Winterflame ini. Untuk mengembangkan Winterflame ini, Vandaria yang kali ini juga menggandeng Artoncode bahkan menghabiskan waktu satu tahun hanya untuk memperbaiki lore dan dunia Vandaria sehingga lebih matang lagi. Kerja sama dengan Artoncode yang notabene adalah salah satu developer game di Indonesia membuat Winterflame juga akan memiliki game mobile-nya yang akan dirilis pada Game Developer Conference bulan Maret 2015 mendatang.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari!

Mengenai genre high fantasy yang diusung, Vandaria bukannya tidak pernah mengangkat unsur lokal. Ami mengungkapkan bahwa Vandaria juga pernah mengangkat beberapa elemen lokal dalam salah satu ekspansi Vandaria Wars. Namun Ami mengaku, industri di Indonesia belum siap untuk menerima unsur-unsur lokal tersebut, dan ditunjukkan dengan penjualan ekspansi tersebut yang kurang memuaskan dibandingkan ekspansi lainnya. Di akhir presentasi, Ami mengungkapkan bahwa salah satu nilai lebih dari IP Vandaria ini adalah nilai moral yang disampaikan. Di setiap karya yang dihasilkan, sebisa mungkin karakter yang ditampilkan memiliki nilai moral yang bisa disampaikan dan menjadi contoh bagi para penikmatnya.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Mencicipi DreadOut[/caption]

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Mencicipi versi game dari Winterflame[/caption]

Setelah dua pembicara pertama, acara dihentikan sejenak untuk makan siang. Saat jeda ini, peserta bisa langsung mencicipi game Winterflame dan juga DreadOut di booth yang sudah disediakan. Saat jeda ini pula, Duniaku juga sempat bertemu dengan beberapa punggawa game developer Jogjakarta seperti Agate Jogja, Amagine Interactive, Creacle Studio dan Hinocyber.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Beberapa punggawa developer game Jogja yang hadir di FIKTIF[/caption]

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Rachmad Imron[/caption]

Pasca jeda, acara kembali dilanjutkan dengan hadirnya Rachmad Imron, punggawa dari Digital Happiness sekaligus produser dari DreadOut. Rachmad sendiri menjelaskan kisah pengembangan DreadOut, yang sudah mengalami banyak iterasi baik dari segi genre, penampilan karakter utama, hingga nama dan logo dari DreadOut sendiri. Untuk genre, genre DreadOut sendiri berubah-ubah dari game kasual, FPS, action, hingga akhirnya didapatkan genre seperti yang kita temui sekarang ini. Begitu juga dengan Linda sang karakter utama. Sebelumnya, Linda juga sempat hadir dengan penampilan yang berbeda dari yang kita kenal sekarang, salah satunya adalah mengenakan headset selama berpetualang. Untuk nama dan logo sendiri, mereka juga mencoba berbagai nama dan logo sebelum menjadi DreadOut dengan logo seperti yang kita kenal sekarang.

Mengenai pandangannya terhadap IP sendiri, Rachmad mengungkapkan bahwa IP bisa dibagi-bagi ke dalam berbagai bentuk. Selain dalam bentuk game, IP juga bisa berbentuk produk teknokreatif seperti Oculus dan aplikasi instant messaging WhatsApp. Di game sendiri, IP juga bisa dibagi-bagi lagi dalam dua bentuk. Ada IP yang berdasarkan judul seperti Final Fantasy, ada juga IP yang berbasis karakter seperti Lara Croft dan Mario Bros. Rachmad juga memberikan tips bagi yang ingin mengembangkan IP-nya sendiri berdasarkan pengalaman pribadinya. Sebelum membuat sebuah IP, seseorang harus mengetahui lebih dulu apa yang disukai dan dicintainya, lantas menggabungkannya. Dia mengambil contoh pengalaman pribadi, dimana Rachmad memang menyukai bermain game horror dan lebih menyukai wanita yang menjadi protagonis utama. Untuk itu akhirnya dia membuat DreadOut dengan karakter utama Linda ini.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari!

Di akhir presentasi, Rachmad mengungkapkan rencana selanjutnya dari DreadOut yang diproyeksikannya menjadi sebuah franchise. Selain game, DreadOut juga muncul dalam bentuk komik yang sudah dirilis beberapa bulan yang lalu. Selain komik, saat ini DreadOut juga tengah melakukan negosiasi dengan satu pihak untuk mewujudkannya dalam sebuah film layar lebar. Terakhir, bersamaan dengan Halloween nantinya Digital Happiness juga akan membuka sebuah online store yang akan menjual berbagai pernak pernik khas DreadOut.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Hari Sungkari[/caption]

Pembicara terakhir yang mengisi sesi FIKTIF kali ini adalah Hari Sungkari, salah satu pemerhati IP di Indonesia. Hari membeberkan banyak hal mengenai hak atas kekayaan IP yang ditinjau dari bentuknya, mulai dari Hak Cipta (Copyright), Paten (Patent), Desain Industri (industrial Design), Merk Dagang (Trademark) dan Layout Design untuk Integrated Circuit. Tujuan dari adanya hak atas kekayaan IP ini adalah untuk menyeimbangkan dua hal, yaitu memberikan insentif kepada kreator untuk hasil karyanya, sekaligus juga untuk memberikan akses publik yang luas.

Durasi untuk hak atas IP ini juga bermacam-macam tergantung bentuknya. Untuk Copyright, durasinya adalah 50 tahun sejak diumumkan atau 50 tahun setelah kreatornya meninggal. Yang termasuk dalam Copyright ini adalah berbagai macam karya seni, software, desain, dan juga termasuk game. Selanjutnya untuk Paten, durasinya bisa sepuluh atau dua puluh tahun sejak didaftarkan. Yang termasuk dalam paten ini adalah penemuan produk atau sebuah proses yang menawarkan sebuah inovasi dan karakteristik baru dari yang sudah ada. Desain Industri, meliputi desain dan estetika baik untuk produk dua dimensi maupun tiga dimensi yang diproduksi secara masal dilindungi selama sepuluh tahun. Untuk Trademark, durasinya sepuluh tahun dan bisa diperpanjang, berbeda dengan yang lainnya. Yang termasuk Trademark biasanya adalah nama brand, termasuk desain logonya. Di akhir presentasi, Hari mengungkapkan bahwa satu produk bisa memiliki lebih dari satu hak atas IP. Contohnya dalam sebuah smartphone, Copyright bisa digunakan untuk melindungi software atau OS yang ada di dalamnya, Desain Industri untuk melindungi bentuk dan detail fisik dari Smartphone, dan Trademark untuk merk-nya.

Liputan FIKTIF: Membongkar Rahasia Sukses Properti Intelektual dalam Sehari! Sampai jumpa di FIKTIF selanjutnya![/caption]

Forum diakhiri dengan foto bersama pembicara dengan para peserta dan panitia di panggung. Meskipun forum sudah ditutup, namun Duniaku melihat masih banyak peserta yang tetap tinggal di dalam hall untuk berdiskusi dengan para pembicara. FIKTIF sendiri menurut rencana akan diadakan secara rutin, bukan hanya di Jogjakarta saja tetapi di kota-kota lain di Indonesia. Sampai jumpa di FIKTIF kota selanjutnya!

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU