Setelah penantian panjang dan beberapa kali penundaan, sejak pengumuman perdananya di tahun 2020, Pragmata akhirnya tiba. Ekspektasi tentu sangat tinggi, mengingat ini adalah taruhan besar Capcom untuk melahirkan IP baru di luar zona nyaman Resident Evil dan Monster Hunter. Beruntung, proyek ambisius ini tidak berakhir sebagai sekadar tech demo visual yang kosong, melainkan sebuah narasi sci-fi yang solid dengan sistem pertarungan yang sangat segar.
Review Pragmata, Paduan Solid Melankolia dan Aksi Taktis

1. Melankolia di Fasilitas Luar Angkasa
Berlatar di stasiun penelitian bulan yang dibangun oleh korporasi Delphi, kita mengambil peran sebagai Hugh, seorang insinyur luar angkasa yang dikirim untuk menyelidiki fasilitas yang mendadak sunyi setelah diambil alih oleh AI buas bernama IDUS. Stasiun ini secara visual sangat memukau berkat teknologi "Lunafilament" yang mampu mencetak objek secara 3D, menciptakan lingkungan surealis mulai dari laboratorium yang terbengkalai hingga rekreasi Times Square di permukaan bulan.
Di tengah distopia tersebut, Hugh bertemu dengan Diana, android berwujud anak kecil. Dinamika paternal bond di antara keduanya adalah jantung utama Pragmata. Alih-alih terasa sentimentalitas murahan, interaksi mereka terbangun secara organik. Pemain bisa beristirahat di underground shelter untuk melakukan upgrade perlengkapan dan melihat Diana menggambar dengan krayon, yang memberikan kontras hangat yang sangat dibutuhkan di tengah dinginnya ancaman kosmik.
Pada intinya, dalam premis Pragmata Capcom sepertinya semakin sadar kalau para penikmat gamenya sudah memasukin masa "dewasa", sehingga tema seperti mengasuh anak sambil menembaki robot bukanlah sesuatu yang harus dijauhi. Sebenarnya, formula ini digunakan juga di Resident Evil Requiem, terutama ketika menjalankan misi Grace.
2. Adu Kebut Hack dan Menembak
Di sinilah Pragmata paling bersinar. Capcom memperkenalkan mekanik yang mereka sebut Hack-and-Shoot. Pemain mengontrol pergerakan dan persenjataan berat Hugh, sementara Diana (yang bertengger di belakang) bertugas meretas musuh secara real-time untuk mengekspos titik lemah mereka melalui mini-game cepat.
Sebenarnya, proses menghantam kelemahan musuh hingga akhirnya musuh meledak atau menyerah ini sudah pernah diterapkan di Lost Planet. Bedanya, saat itu Capcom lebih memilih metode usang yang mengandalkan "weak point" yang memancarkan cahaya berbeda sehingga menggoda untuk ditembak.
Bagi gamer veteran yang terbiasa dengan ketatnya rotasi skill dan manajemen cooldown berlapis ala MMORPG, ritme tempur ganda ini akan terasa sangat memuaskan. Menggiring musuh-musuh berdesain mecha sambil secara simultan mengalkulasi puzzle peretasan menuntut tingkat konsentrasi dan multitasking yang tinggi. Penggunaan thruster pada suit milik Hugh juga memberikan bobot mobilitas yang taktis, berat dan teraba, namun responsif.
Pada bagian gameplay pertempuran, Pragmata ini menerapkan formula Souls-like. Jadi, setiap musuh memiliki pola serangan sendiri yang harus dihapal dan dihindari bila tidak ingin terkena damage yang fatal.
3. RE Engine yang Kembali Bersinar
Melihat dari kacamata teknis pengembangan game dan manajemen usia produk, keputusan Capcom untuk terus menyempurnakan RE Engine khusus untuk proyek ini terbayar lunas. Peluncuran Pragmata terbilang sangat mulus (bug-free) di PS5, PC, dan Xbox Series X/S. Yang paling mengejutkan, game ini mampu berjalan dengan sangat kompeten di Nintendo Switch 2 tanpa mengorbankan terlalu banyak detail geometris atau mengalami stuttering saat transisi area.
Meski begitu, game ini tidak luput dari kekurangan. Beberapa puzzle eksplorasi terkadang terasa repetitif, dan boss fight di fase late-game kurang memberikan tantangan mematikan begitu pemain sudah menguasai sinergi hacking dan shooting dengan optimal.
Kekurangan lainnya hadir dari konten yang sangat sedikit bila dibandingkan dengan game-game action sejenis. Untuk menamatkan game ini, kamu hanya membutuhkan waktu 15-18 jam saja. Untung Capcom menambahkan mode New Game Plus untuk pemain yang menginginkan tantangan lebih.
4. Kesimpulan
Secara keseluruhan, Pragmata adalah pembuktian gemilang bahwa Capcom mampu keluar dari bayang-bayang waralaba raksasa mereka untuk mengeksekusi sebuah IP baru dengan sangat percaya diri. Game ini berhasil melampaui sekadar unjuk gigi teknis dari RE Engine, dengan mengawinkan narasi sci-fi yang emosional melalui dinamika organik antara Hugh dan Diana, serta mekanik hack-and-shoot ganda yang menuntut ketangkasan taktis dan multitasking tingkat tinggi.
Meskipun terdapat sedikit repetisi pada desain puzzle dan kurva kesulitan pada pertarungan bos yang cenderung menurun di paruh akhir permainan, kelemahan minor tersebut sama sekali tidak mencederai pengalaman bermain secara utuh. Pada akhirnya, Pragmata menawarkan sebuah perjalanan melankolis di luar angkasa yang memukau dan inovatif, menjadikannya salah satu rilis paling berkesan dan wajib dimainkan pada tahun ini.
| Genre | Action |
| Developers | Capcom |
| Publisher | Capcom |
| Platform | PlayStation 5, Nintendo Switch 2, Microsoft Windows, Xbox Series X and Series S |
| Price | Rp. 779.000 |
Pragmata System Requirements
Operating System | Windows 11 (64 bit) |
|---|---|
Processor | Intel Core i5-8500 / AMD Ryzen 5 3500 |
Memory | 16 GB RAM |
GPU | NVIDIA GeForce GTX 1660 6 GB / Radeon RX 5500 XT 8 GB |
DirectX | Version 12 |
Storage | 40 GB available space |