Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Siapa J.I.M.? Synthetic Man Pertama di MCU!
Human Torch di serial VisionQuest (dok. Marvel Television)
  • VisionQuest memperkenalkan J.I.M. atau Joule Individual Machine, ciptaan Phineas Horton yang disebut Synthetic Man pertama dengan kecerdasan, kesadaran mandiri, serta kemampuan berpikir dan merasakan emosi.
  • J.I.M. dinonaktifkan setelah emosinya membuat sistem mekanisnya bekerja berlebihan, memicu kebakaran. Vision tidak mengalami kegagalan serupa karena dibantu Mind Stone memahami pikiran dan perasaan.
  • Meski gagal, source code Horton dikembangkan Josephine Carrington dan Markridge Biotech, lalu dijual ke Stark Industries sebagai fondasi arsitektur AI yang mendukung teknologi Tony Stark.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

VisionQuest memperkenalkan informasi baru mengenai sejarah kecerdasan buatan di Marvel Cinematic Universe (MCU).

Salah satu yang menarik adalah J.I.M., singkatan dari Joule Individual Machine, sosok yang disebut sebagai Synthetic Man pertama.

Karakter ini ternyata punya hubungan penting dengan perkembangan teknologi AI yang digunakan Tony Stark, termasuk sistem kecerdasan buatan yang dikenal para penggemar MCU. Siapa sebenarnya J.I.M. dan mengapa keberadaannya penting?

1. J.I.M. Adalah Synthetic Man Pertama Ciptaan Phineas Horton

Kostum Jim Hammond Human Torch di Captain America. (Dok. Marvel Studio/Captain America: The First Avenger)

J.I.M. merupakan singkatan dari Joule Individual Machine. Ia diciptakan oleh ilmuwan Phineas Horton, sosok yang dijuluki sebagai kakek dari perkembangan robotika.

Dalam VisionQuest, J.I.M. diperkenalkan sebagai Synthetic Man pertama yang memiliki kecerdasan dan kesadaran mandiri. Ia bukan sekadar mesin yang menjalankan instruksi, melainkan makhluk buatan yang mampu berpikir dan merasakan emosi.

Karakter ini juga berkaitan dengan Jim Hammond, sosok Human Torch pertama dalam komik Marvel. Namun, MCU lebih menekankan identitasnya sebagai Synthetic Man dan eksperimen awal dalam menciptakan kecerdasan buatan.

Menariknya, J.I.M. sebenarnya sudah pernah mendapat petunjuk kemunculannya dalam Captain America: The First Avenger. Dalam adegan Stark Expo tahun 1943, terdapat demonstrasi sebuah robot yang disebut Synthetic Man. VisionQuest kemudian memberikan identitas dan latar belakang lebih jelas terhadap sosok tersebut.

2. J.I.M. Gagal karena Tidak Bisa Memproses Emosi

Human Torch di serial VisionQuest (dok. Marvel Television)

Meskipun menjadi pencapaian besar dalam perkembangan teknologi, eksperimen J.I.M. ternyata memiliki kelemahan mendasar. Sistem pikirannya tidak mampu memproses kompleksitas emosi seperti manusia.

Vision menjelaskan bahwa ketika J.I.M. merasakan emosi yang terlalu kuat, sistem mekanis dalam tubuhnya mengalami gangguan. Proses tersebut membuat mesin internalnya bekerja terlalu cepat hingga sel suryanya kelebihan oksigen dan memicu kebakaran.

Dengan kata lain, J.I.M. mengalami kehancuran karena tidak mampu mengendalikan perasaannya sendiri. Tommy Shepherd bahkan menyimpulkan bahwa J.I.M. meninggal karena terlalu banyak merasakan sesuatu.

Vision kemudian menjelaskan bahwa dirinya memiliki keunggulan yang tidak dimiliki J.I.M., yaitu Mind Stone. Batu tersebut membantunya memahami kompleksitas pikiran dan perasaan, sehingga ia tidak mengalami kegagalan serupa.

J.I.M. akhirnya dinonaktifkan setelah serangkaian insiden kebakaran. Kisahnya menjadi pengingat bahwa menciptakan kecerdasan buatan yang mampu berpikir belum tentu berarti berhasil menciptakan makhluk sintetis yang mampu memahami emosi.

3. Source Code J.I.M. Menjadi Fondasi AI Stark Industries

J.I.M di MCU VisionQuest

Walaupun eksperimen J.I.M. dianggap gagal, penelitian Phineas Horton tidak sepenuhnya sia-sia. Ia berhasil mengembangkan source code yang menjadi dasar bagi perkembangan kecerdasan buatan generasi berikutnya.

Dalam VisionQuest, dijelaskan bahwa Dr. Josephine Carrington menggunakan source code Horton untuk mengembangkan penelitian AI bersama tim Markridge Biotech. Carrington bahkan memindai pola pikirnya sendiri untuk menyempurnakan teknologi tersebut.

Penelitian Markridge Biotech kemudian menghasilkan arsitektur kecerdasan buatan yang lebih stabil. Teknologi ini akhirnya dijual kepada Stark Industries dan menjadi fondasi bagi sejumlah AI yang dikenal dalam MCU.

Dengan demikian, J.I.M. memiliki hubungan tidak langsung dengan perkembangan teknologi yang digunakan Tony Stark. Eksperimen awal Phineas Horton menjadi bagian dari sejarah panjang penciptaan kecerdasan buatan, termasuk sistem yang membantu berbagai teknologi Stark.

Keberadaan J.I.M. juga memperkuat tema utama VisionQuest, yaitu batas antara mesin dan kehidupan. Ia merupakan bukti bahwa kemampuan berpikir dan merasakan emosi adalah dua hal berbeda, sesuatu yang harus dipahami sebelum manusia benar-benar bisa menciptakan kehidupan sintetis.

Curated For You

Editorial Team

Related Article