Walaupun eksperimen J.I.M. dianggap gagal, penelitian Phineas Horton tidak sepenuhnya sia-sia. Ia berhasil mengembangkan source code yang menjadi dasar bagi perkembangan kecerdasan buatan generasi berikutnya.
Dalam VisionQuest, dijelaskan bahwa Dr. Josephine Carrington menggunakan source code Horton untuk mengembangkan penelitian AI bersama tim Markridge Biotech. Carrington bahkan memindai pola pikirnya sendiri untuk menyempurnakan teknologi tersebut.
Penelitian Markridge Biotech kemudian menghasilkan arsitektur kecerdasan buatan yang lebih stabil. Teknologi ini akhirnya dijual kepada Stark Industries dan menjadi fondasi bagi sejumlah AI yang dikenal dalam MCU.
Dengan demikian, J.I.M. memiliki hubungan tidak langsung dengan perkembangan teknologi yang digunakan Tony Stark. Eksperimen awal Phineas Horton menjadi bagian dari sejarah panjang penciptaan kecerdasan buatan, termasuk sistem yang membantu berbagai teknologi Stark.
Keberadaan J.I.M. juga memperkuat tema utama VisionQuest, yaitu batas antara mesin dan kehidupan. Ia merupakan bukti bahwa kemampuan berpikir dan merasakan emosi adalah dua hal berbeda, sesuatu yang harus dipahami sebelum manusia benar-benar bisa menciptakan kehidupan sintetis.