Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Vision di VisionQuest Episode 7
  • Episode 7 VisionQuest mengungkap Dr. Phineas Horton sebagai pencipta J.I.M. pada 1939, dengan J.I.M. dan Vision memakai wajahnya sebagai model fisik.
  • Saat menelusuri source code untuk memulihkan identitas dan ingatannya, Vision bertemu Phineas serta J.I.M., dua figur penting dalam sejarah awal teknologi Synthetic Man.
  • Kisah Phineas dan J.I.M. mencerminkan konflik Vision terhadap emosi dan kehilangan; setelah memahaminya, Vision menerima kembali identitasnya sebagai dirinya yang sebenarnya.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Episode 7 VisionQuest menghadirkan kejutan menarik ketika Vision menjelajahi ingatan dan asal-usul kecerdasan buatannya. Dalam perjalanan tersebut, ia bertemu dengan dua sosok dari masa lalu, yaitu J.I.M. dan penciptanya, Dr. Phineas Horton.

Hal yang langsung mencuri perhatian adalah penampilan ketiganya yang sangat mirip. Vision, J.I.M., dan Phineas Horton bahkan diperankan oleh aktor yang sama, Paul Bettany. Namun, kemiripan ini ternyata bukan sekadar keputusan visual untuk serial tersebut.

Ada penjelasan menarik di baliknya.

1. Phineas Horton Adalah Model Fisik Vision dan J.I.M.

Phineas Horton di VisionQuest Episode 7

Dalam episode 7, terungkap bahwa Dr. Phineas Horton merupakan ilmuwan yang menciptakan J.I.M. atau Joule Individual Machine pada 1939. Ia merancang Synthetic Man tersebut sebagai pengganti putranya, James, yang telah meninggal dunia.

Menariknya, J.I.M. dibuat dengan penampilan yang menyerupai Phineas Horton sendiri. Hal serupa juga berlaku pada Vision. Penampilan fisik Vision ternyata menggunakan Phineas sebagai model dasarnya.

Dengan demikian, kemiripan wajah Vision dan J.I.M. bukan kebetulan. Keduanya memang berasal dari desain yang sama, yaitu sosok Phineas Horton.

2. Vision Bertemu dengan Dua Leluhurnya Saat Menjelajahi Source Code

Human Torch di serial VisionQuest (dok. Marvel Television)

Pertemuan Vision dengan Phineas dan J.I.M. terjadi ketika ia memasuki bagian terdalam dari source code miliknya. Ia melakukan perjalanan tersebut untuk menemukan kembali identitas dan ingatan yang hilang setelah tubuhnya dibangun ulang.

Dalam perjalanan itu, Vision bertemu dengan beberapa representasi dari masa lalunya, termasuk Ultron dan Original Vision. Namun, pertemuannya dengan Phineas dan J.I.M. menjadi bagian penting karena keduanya mewakili generasi awal teknologi Synthetic Man.

Phineas merupakan pencipta J.I.M., sedangkan J.I.M. adalah salah satu pendahulu teknologi yang memungkinkan terciptanya Vision. Keduanya membantu Vision memahami bahwa dirinya merupakan bagian dari sejarah panjang kecerdasan buatan di MCU.

3. Kemiripan Mereka Juga Menggambarkan Konflik Identitas Vision

adegan dalam serial VisionQuest (dok. Disney+/VisionQuest)

Kemiripan fisik ketiga karakter ini ternyata memiliki makna yang lebih dalam. Phineas menciptakan J.I.M. karena tidak mampu menerima kehilangan putranya. Ia berharap bisa menciptakan sosok pengganti yang sempurna, tetapi justru berusaha membatasi kemampuan J.I.M. untuk merasakan emosi manusia.

J.I.M. sendiri ingin merasakan cinta dan menjalani kehidupan layaknya manusia. Namun, emosi yang terlalu kuat membuat sistem mekanisnya mengalami gangguan hingga tubuhnya terbakar dan menewaskan Phineas.

Konflik tersebut menjadi cerminan perjalanan Vision. Ia selama ini berusaha menghindari rasa sakit akibat kehilangan Wanda dan Billy karena takut emosi tersebut akan menghancurkan dirinya.

Setelah memahami kisah J.I.M., Vision akhirnya menerima bahwa dirinya tidak bisa memisahkan identitasnya dari pengalaman dan rasa kehilangan yang pernah dialaminya. Ia pun kembali mengakui dirinya sebagai Vision yang sebenarnya.

Dengan demikian, kemiripan wajah Vision, J.I.M., dan Phineas bukan hanya menghubungkan ketiganya secara visual. VisionQuest menggunakan hubungan tersebut untuk menggambarkan bagaimana kesalahan seorang pencipta bisa diwariskan kepada ciptaannya, sekaligus bagaimana generasi berikutnya dapat belajar dari kesalahan tersebut.

Curated For You

Editorial Team

Related Article