Di era di mana film laga modern kerap terjebak pada penggunaan CGI yang berlebihan atau ambisi membangun semesta sinematik yang kelewat rumit, kemunculan sebuah karya yang murni mengandalkan baku hantam praktis selalu menjadi angin segar. Kita merindukan intensitas pertarungan jarak dekat yang brutal, koreografi mematikan yang dieksekusi dengan presisi, dan tentu saja, dampak fisik yang terasa nyata menembus layar. Tahun ini, dahaga tersebut akhirnya dijawab lunas. Melalui The Furious, sutradara sekaligus maestro stunt Kenji Tanigaki menyajikan sebuah surat cinta yang beringas bagi para penikmat sinema aksi bela diri murni. Mari kita bedah mengapa sajian adrenalin ini layak mendapat sorotan utama.
Ulasan Film The Furious, Aksi Brutal dengan Koreografi Terbaik Dekade Ini

1. Sebuah Cerita Klasik Mengenai Pencarian Keluarga yang Hilang
The Furious berpusat pada Wang Wei (Xie Miao), seorang pekerja serabutan yang hidup tenang bersama putrinya, Rainy (Yang Enyou), setelah kematian sang istri. Masa lalunya yang sengaja dikubur terpaksa digali kembali ketika Rainy diculik oleh sindikat perdagangan manusia yang dikendalikan oleh pengusaha licik, Paklong (Joey Iwanga).
Melalui investigasi jurnalis Matia (Yanin Vismitananda), terungkap bahwa sindikat ini menargetkan anak-anak dari komunitas marjinal dan dilindungi oleh oknum aparat. Dalam misinya, Wang beraliansi dengan suami Matia, Navin (Joe Taslim), yang juga turun ke jalanan demi mencari sang istri yang tiba-tiba menghilang di tengah penyelidikan.
2. Aksi Kinetik dan Eksekusi Pertarungan Jarak Dekat
Begitu insiden penculikan bergulir, narasi The Furious langsung tancap gas bergerak lurus tanpa kompromi. Keputusan sutradara untuk memfokuskan cerita pada kiasan one-man army memang berpotensi terasa repetitif, namun kekhawatiran itu berhasil ditepis oleh penampilan prima Xie Miao. Ia tampil luar biasa ekspresif meski berakting tanpa dialog. Penyampaian emosi sang karakter mulai dari kepanikan seorang ayah hingga ketakutan yang mencekam tereksekusi sama briliannya dengan manuver fisik maut yang ia pamerkan di layar.
Dari segi koreografi, setiap lingkungan pertarungan didesain sedemikian rupa agar terasa hidup dengan secara cerdik memanfaatkan berbagai objek di sekitar sebagai senjata mematikan. Mekanik pertarungannya pun terasa sangat brutal dan berbobot; setiap pukulan mendarat keras, sang jagoan bisa babak belur, dan pengadegannya tidak segan menampilkan tingkat gore yang memuaskan layaknya sebuah film slasher. Menyaksikan deretan pertempuran di dalam The Furious seolah mengingatkan kita pada sebuah kombinasi epik: kelincahan akrobatik dan eksploitasi properti ala film-film klasik Jackie Chan, kedinamisan ilmu bela diri dari waralaba Ip Man, dan tentu saja, kebrutalan yang lugas dari The Raid.
Menariknya, film ini tahu persis kapan harus menurunkan tensinya. Di sela-sela gempuran aksi gila yang menguras adrenalin tersebut, naskahnya menyisipkan elemen detektif ringan ketika karakter utamanya berupaya melacak jejak anak-anak yang hilang. Penyelidikan investigatif singkat ini bukan sekadar pengisi durasi, melainkan berhasil memberikan ruang bernapas yang sangat krusial bagi penonton, sekaligus menjaga ritme cerita agar tidak terasa melelahkan dari awal hingga akhir.
3. Sinergi Solid dan Emosional dengan Joe Taslim
Kehadiran Joe Taslim sebagai Navin memberikan nyawa tambahan yang sangat signifikan di tengah brutalnya parade aksi film ini. Sebagai karakter yang sama-sama dimotivasi oleh keputusasaan untuk menyelamatkan orang yang dicintai, Navin menjadi cermin emosional bagi Wang Wei. Jika Xie Miao memerankan Wang dengan pendekatan layaknya bintang era film bisu yang lebih banyak mengandalkan gestur fisik dan keheningan, Taslim mengisi ruang tersebut dengan penampilan yang lebih berlapis dan secara mengejutkan sangat menyentuh.
Interaksi antara Navin dan Wang selalu berhasil memompa energi naratif setiap kali tempo mulai terasa menurun atau terjebak dalam rutinitas pertarungan. Keduanya tidak hanya menampilkan sinergi aksi memanjakan mata saat harus melumpuhkan musuh bersama-sama, tetapi juga membangun kedalaman simpati terhadap perjuangan mereka. Performa cemerlang ini bukan sekadar pamer ketangkasan bela diri, melainkan kembali menegaskan bahwa Joe Taslim adalah aktor yang sangat underrated dengan jangkauan dramatis mumpuni. Penampilannya di sini menjadi argumen kuat mengapa ia sudah sepantasnya mendapatkan tawaran porsi karakter yang lebih besar dan kompleks di lanskap sinema laga internasional.
4. Titik Lemah: Subplot Mentah dan Antagonis Super Klise
Sayangnya, fondasi kokoh pada karakter utama tidak diimbangi oleh jajaran pendukungnya. Barisan antagonis jatuh pada jebakan klise yang terlalu dikarikaturkan, sementara subplot mengenai konflik internal keluarga Paklong terasa sangat mentah.
Upaya film untuk menyisipkan kritik mengenai korupsi sistemik di tubuh kepolisian juga dieksekusi dengan dialog yang kaku. Aparat penegak hukum digambarkan secara hitam-putih entah sebagai penjahat super atau pahlawan tanpa cacat moral. Eksekusi babak penutupnya pun sedikit kehilangan pijakan, murni karena paruh pertama film sudah mematok standar adrenalin yang terlampau tinggi.
Terlepas dari beberapa hambatan di sektor narasi pendukung, sangat jarang ada film aksi berdurasi hampir dua jam di era modern yang bisa melaju seefisien ini. The Furious membuktikan bahwa premis yang sederhana dapat dieksekusi menjadi tontonan luar biasa di tangan sineas yang memahami esensi koreografi laga, sekaligus mengukuhkan Kenji Tanigaki sebagai salah satu sutradara master di genre ini.
Sinopsis The Furious (2026)
Wang Wei (Xie Miao) adalah seorang pria pekerja serabutan yang mencoba menjalani kehidupan yang tenang dan sederhana bersama putri tunggalnya, Rainy (Yang Enyou), setelah kepergian sang istri. Namun, sisa-sisa masa lalu yang berusaha ia kubur rapat-rapat terpaksa digali kembali ketika ketenangan hidupnya direnggut paksa. Rainy tiba-tiba diculik oleh sebuah sindikat perdagangan manusia kejam yang beroperasi di bawah kendali seorang pengusaha licik bernama Paklong (Joey Iwanga).
Dalam upaya putus asanya melacak keberadaan sang anak, Wang menemukan fakta kelam berkat bantuan investigasi dari seorang jurnalis bernama Matia (Yanin Vismitananda). Sindikat tersebut ternyata secara sistematis menargetkan anak-anak dari komunitas marginal dan dilindungi oleh jaringan oknum aparat korup. Di tengah pencarian, Wang bertemu dan akhirnya beraliansi dengan suami Matia, Navin (Joe Taslim), yang juga rela mempertaruhkan nyawa demi menyelamatkan keluarganya dari cengkeraman sindikat yang sama.
Didorong oleh keputusasaan dan kasih sayang, Wang dan Navin harus menembus gelapnya dunia kriminal bawah tanah yang mematikan. Mengandalkan insting bertahan hidup dan kemampuan bela diri tingkat tinggi, Wang menjelma menjadi mesin petarung yang tak terhentikan. Keduanya harus menerjang lorong-lorong sempit dan markas penjahat, menghadapi gelombang musuh tanpa ampun demi membawa pulang anak-anak mereka dengan selamat.
| Producer | Bill Kong Chi-Keung, Frank Hui, Tam Chi-San |
| Writer | Shum Kwan-Sin, Frank Hui, Mak Tin-Shu, Lei Zhilong |
| Age Rating | 17+ |
| Genre | Aksi, Kejahatan, Cerita Seru |
| Duration | 113 Minutes |
| Release Date | 17-06-2026 |
| Theme | martial arts, kung fu, rescue mission, police corruption, child kidnapping, missing wife, relentless vengeance, dynamic duo |
| Production House | Edko Films, XYZ Films, Zhejiang Hengdian Film Production |
| Where to Watch | Cinema XXI, CGV, Cinepolis |
| Cast | Xie Miao, Joe Taslim, Yang Enyou, Yayan Ruhian, JeeJa Yanin |