Resident Evil (dok. Sony Pictures Releasing/Resident Evil)
Nah, ini yang perlu dipahami kalau kita membicarakan angka Rotten Tomatoes.
Salah satu salah kaprah terbesar mengenai Tomatometer adalah menganggap angka tersebut sebagai nilai rata-rata kualitas film, seperti nilai ujian 0–100.
Padahal bukan begitu cara kerjanya.
Tomatometer menunjukkan persentase review kritikus yang dikategorikan Fresh atau positif, bukan rata-rata skor yang diberikan semua kritikus.
Jadi angka 96% tidak berarti: “Rata-rata kritikus memberikan Resident Evil nilai 9,6/10.”
Bukan begitu cara mainnya.
Untuk nilai Resident Evil (2026), ini artinya sekitar 96% review yang dihitung Rotten Tomatoes masuk kategori Fresh.
Karena itu, dua film sama-sama bisa mendapatkan 90% Tomatometer tetapi memiliki rata-rata rating kritikus yang berbeda.
Misalnya, sebuah film bisa mendapatkan banyak nilai 3/5 atau 6/10 dan tetap menghasilkan Tomatometer tinggi selama mayoritas review tersebut dikategorikan Fresh.
Jadi cara yang lebih tepat membaca angka 96% ini adalah: mayoritas yang sangat besar dari kritikus yang masuk ke agregator Rotten Tomatoes memberikan respons positif terhadap film ini.
Resident Evil (2026) ini kalau kamu cek Tomatometer-nya, kamu akan mendapati bahwa rata-rata dari review dengan skor adalah 7.8/10.
Dan itu sendiri sudah cukup menarik.
Apalagi kalau kita mengingat sejarah film Resident Evil di layar lebar.
The Final Chapter hanya mendapatkan 39%.
Welcome to Raccoon City mendapatkan 30%.
Sementara Resident Evil (2026) sekarang berada di 96%.
Apakah angka ini otomatis berarti Resident Evil (2026) adalah film yang “96% bagus”?
Tidak.
Tapi apakah ini menunjukkan bahwa film tersebut mendapatkan respons kritikus yang luar biasa positif untuk ukuran adaptasi video game?
Nah itu benar.
Dan melihat bagaimana perjalanan film Resident Evil di layar lebar selama ini, angka tersebut memang cukup mengejutkan.