Bob Odenkirk Normal. (Dok. OPE Partners, Tradecraft Productions, Le Foole Inc/Normal)
Normal adalah tipe film yang akan mengingatkan penonton pada banyak film lain.
Nuansa Minnesota dengan kultur “Minnesota Nice” yang menyimpan misteri kriminal jelas mengingatkan pada Fargo. Sementara sosok pria yang awalnya diremehkan namun ternyata sangat mematikan dalam situasi aksi terasa seperti versi lain dari Nobody. Bahkan secara judul pun, “Nobody” dan “Normal” sama-sama memberi kesan sesuatu yang biasa saja, padahal kenyataannya tidak.
Namun film yang paling terasa dekat bagi saya justru Hot Fuzz.
Konsep penegak hukum dari luar daerah yang datang ke kota kecil tenang, mencoba beradaptasi, lalu perlahan menyadari ada konspirasi kelam di balik wajah ramah kota itu? Itu sangat Hot Fuzz. Bahkan struktur filmnya pun terasa mirip. Paruh awal film lebih banyak menyorot keseharian Ulysses di kota Normal sebelum akhirnya “topeng” kota itu runtuh dan konflik besarnya dimulai.
Masalahnya, Normal tidak punya daya tarik sekuat Hot Fuzz, baik dari sisi karakter maupun konflik.
Ulysses masih cukup menarik, meski sulit dibandingkan dengan Nicholas Angel versi Simon Pegg. Namun karakter pendukung dan villain di Normal terasa kurang kuat dan kurang memorable. Reveal konspirasinya juga tidak memberikan efek sebesar film pembandingnya.
Kalau dibandingkan dengan Fargo, jaraknya malah terasa lebih jauh lagi. Pendekatan Normal jauh lebih condong ke action dark comedy. Bahkan dalam menyajikan kontras antara keramahan khas Minnesota dengan kekerasan brutal, film ini tetap terasa kalah tajam dibanding Fargo.
Hasil akhirnya, Normal terasa seperti film yang meminjam banyak elemen dari film-film lain… tanpa benar-benar menyamai kekuatan film-film tersebut.