Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
Penilaian Film Normal, Mirip Hot Fuzz hanya Saja Kalah Kuat
Bob Odenkirk Normal. (Dok. OPE Partners, Tradecraft Productions, Le Foole Inc/Normal)
  • Film Normal dibintangi Bob Odenkirk sebagai sheriff sementara di kota kecil yang tampak tenang, namun menyimpan konspirasi kriminal dan keterlibatan mafia Jepang.
  • Normal memiliki kemiripan dengan Hot Fuzz dan Fargo, tapi dinilai kalah kuat dalam karakter, konflik, serta daya tarik keseluruhan meski tetap mengusung gaya dark comedy.
  • Dark comedy menjadi elemen paling menonjol yang membuat film ini tetap menghibur; secara keseluruhan Normal dianggap sebagai tontonan ringan dengan nilai 3 dari 5 bintang.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Duniaku.com mendapat kesempatan film Normal.

Iya, itu judulnya. Normal.

Filmnya dibintangi oleh Bob Odenkirk dan menyajikan kisah soal sheriff dari wilayah lain yang bertugas sementara di kota yang terasa biasa saja, namun ternyata ada konspirasi di dalamnya.

Seperti apa filmnya? Coba simak penilaian film Normal dari Duniaku.com di bawah ini!

Sinopsis Normal (2026)

Bob Odenkirk main sebagai Ulysses, sheriff sementara di kota kecil bernama Normal, Minnesota. Awalnya kota itu terlihat tenang dan “terlalu normal,” tapi setelah perampokan bank, dia mulai menemukan kalau seluruh kota menyimpan rahasia gelap, termasuk koneksi kriminal dan unsur mafia Jepang.

Bob Odenkirk Normal. (Dok. OPE Partners, Tradecraft Productions, Le Foole Inc/Normal)

1. Mirip Hot Fuzz, tapi kalah dalam berbagai aspek

Bob Odenkirk Normal. (Dok. OPE Partners, Tradecraft Productions, Le Foole Inc/Normal)

Normal adalah tipe film yang akan mengingatkan penonton pada banyak film lain.

Nuansa Minnesota dengan kultur “Minnesota Nice” yang menyimpan misteri kriminal jelas mengingatkan pada Fargo. Sementara sosok pria yang awalnya diremehkan namun ternyata sangat mematikan dalam situasi aksi terasa seperti versi lain dari Nobody. Bahkan secara judul pun, “Nobody” dan “Normal” sama-sama memberi kesan sesuatu yang biasa saja, padahal kenyataannya tidak.

Namun film yang paling terasa dekat bagi saya justru Hot Fuzz.

Konsep penegak hukum dari luar daerah yang datang ke kota kecil tenang, mencoba beradaptasi, lalu perlahan menyadari ada konspirasi kelam di balik wajah ramah kota itu? Itu sangat Hot Fuzz. Bahkan struktur filmnya pun terasa mirip. Paruh awal film lebih banyak menyorot keseharian Ulysses di kota Normal sebelum akhirnya “topeng” kota itu runtuh dan konflik besarnya dimulai.

Masalahnya, Normal tidak punya daya tarik sekuat Hot Fuzz, baik dari sisi karakter maupun konflik.

Ulysses masih cukup menarik, meski sulit dibandingkan dengan Nicholas Angel versi Simon Pegg. Namun karakter pendukung dan villain di Normal terasa kurang kuat dan kurang memorable. Reveal konspirasinya juga tidak memberikan efek sebesar film pembandingnya.

Kalau dibandingkan dengan Fargo, jaraknya malah terasa lebih jauh lagi. Pendekatan Normal jauh lebih condong ke action dark comedy. Bahkan dalam menyajikan kontras antara keramahan khas Minnesota dengan kekerasan brutal, film ini tetap terasa kalah tajam dibanding Fargo.

Hasil akhirnya, Normal terasa seperti film yang meminjam banyak elemen dari film-film lain… tanpa benar-benar menyamai kekuatan film-film tersebut.

2. Tapi dark comedy-nya asyik

Bob Odenkirk Normal. (Dok. OPE Partners, Tradecraft Productions, Le Foole Inc/Normal)

Meski begitu, bukan berarti saya sepenuhnya tidak menikmati film ini.

Aspek yang paling saya suka justru dark comedy-nya.

Normal dipenuhi kematian brutal dan situasi berdarah. Namun beberapa eskalasi konfliknya terjadi dengan cara yang begitu absurd hingga bioskop saat screening justru dipenuhi tawa di momen-momen tertentu.

Ada adegan yang terasa seperti slapstick kartun, misalnya orang tertimpa benda besar secara mendadak, hanya saja tanpa “fisika kartun” yang melindungi korbannya. Hasilnya jadi perpaduan komedi dan kekejaman yang anehnya malah menghibur.

Dark comedy inilah yang menurut saya menyelamatkan banyak adegan aksi di film ini. Tanpa elemen itu, beberapa adegan mungkin akan terasa generik atau bahkan canggung. Namun sentuhan humor gelapnya memberi identitas tersendiri pada Normal.

3. Patutkah ditonton?

Bob Odenkirk Normal. (Dok. OPE Partners, Tradecraft Productions, Le Foole Inc/Normal)

Kalau ditanya apakah Normal layak ditonton, saya rasa ini tipe film yang masuk kategori “harmless fun.”

Ini bukan film yang kemungkinan besar akan meninggalkan kesan mendalam. Kesan saya sendiri setelah selesai menonton ya sebatas: “lumayan.”

Namun film ini juga tidak membosankan. Setelah melewati fase “normal” di paruh awal cerita, film mulai bergerak lebih liar dan adegan aksinya cukup menghibur untuk diikuti sampai akhir.

Karena itu, saya memberi Normal nilai 3 dari 5 bintang.

Cocok untuk yang mencari film untuk hiburan singkat (hanya 91 menit), gak mikir panjang, dan juga gak terlalu membebani kepala.

Normal
2026
3/5
Directed by Ben Wheatley
ProducerDerek Kolstad, Bob Odenkirk, Marc Provissiero
WriterDerek Kolstad
Age Rating17+
GenreAksi, Kejahatan, Cerita Seru
Duration91 Minutes
Release Date16-04-2026
Themesmall town, sheriff, bank robbery, small town sheriff, corrupt mayor, secret benefactor, criminal plot, criminal conspiracy, small town minnesota
Production HouseAperture Media Partners, QWGmire, OPE Partners, Le Foole, Tradecraft
Where to WatchXXI
CastBob Odenkirk, Henry Winkler, Lena Headey, Billy MacLellan, Ryan Allen

Trailer Normal

Editorial Team

Related Article