Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
For
You

Review Film Janur Ireng, Horor Brutal dengan Penceritaan Kurang

Poster film Janur Ireng
Poster film Janur Ireng (Dok. MD Pictures/Janur Ireng)
Intinya sih...
  • Kemiskinan sebagai pemicu konflik gelap antar penguasa
  • Debut Tora Sudiro di film horor yang serius
  • Sentuhan kebrutalan ala Kimo yang lebih "pedas" daripada Sewu Dino
Disclaimer: This summary was created using Artificial Intelligence (AI)

Setelah sukses dengan Sewu Dino, akhirnya MD Pictures melanjutkan jagad cerita horror SimpleMan dengan prekuel yang mengawali semua tragedi dalam film tersebut, Janur Ireng.

Apakah isinya akan jauh lebih mengerikan dari Sewu Dino? Berikut ulasannya!

Synopsis Janur Ireng (2025)

Cerita pendahuluan tragedi Sewu Dino ini menyoroti kisah Sabdo yang awalnya hidup sederhana bersama sang adik, Intan menghadapi kenyataan mereka harus kehilangan tempat tinggal terakhir mereka akibat sebuah tragedi kebakaran. Di saat itulah, mereka tiba-tiba mendapat uluran bantuan dari Arjo Kuncoro yang mengaku sebagai paman mereka yang selama ini mencari saudaranya yang sudah lama meninggal dunia.

Keduanya pun akhirnya pindah ke kediaman Kuncoro dan mulai hidup berkecukupan. Namun setelah menghabiskan banyak waktu, Sabdo dan Intan mulai mendapati bahwa keluarga tersebut memiliki banyak keganjilan yang menjelaskan kenapa ayah mereka lebih suka memilih hidup miskin daripada tinggal bersama keluarganya sendiri. Tak sampai di situ saja, mereka juga harus terlibat dalam pertikaian berdarah antar keluarga elit yang disebut Trah Pitu.

1. Ketika kemiskinan jadi penyeret ke konflik gelap antar para penguasa

Sabdo dan Arjo berkelahi - Janur Ireng
Sabdo dan Arjo berkelahi (Dok. MD Pictures/Janur Ireng)

Salah satu elemen yang paling klasik tapi gampang dimodifikasi dalam cerita adalah faktor ekonomi tokohnya.

Di sini, saya sangat suka bagaimana Sabdo dan Intan menghadapi kondisi mereka dengan tabah. Namun mereka juga memiliki batas di mana ada suatu kejadian yang membuat mereka harus kehilangan segalanya dan menjadi benar-benar begitu rapuh.

Saking rapuhnya, mereka tak punya pilihan lain untuk ikut orang yang sudah menganggap mereka sebagai bagian dari keluarga demi bisa bertahan hidup meski tahu bahwa hal itu akan membuat mereka terjatuh ke dalam tempat yang bisa disebut neraka. Bukan cuma itu saja, saya suka penggambaran Sabdo yang awalnya begitu polos karena tak terbiasa dengan kemewahan saat diperkenalkan dengan para Trah Pitu sampai tahu kalau hampir dari mereka semua sering menusuk satu sama lain di balik layar.

2. Debut pertama Tora Sudiro di film horor yang serius

Arjo berkata pada Sabdo kalau mereka akan segera mendapat perkebunan dari Trah Pitu - Janur Ireng
Arjo berkata pada Sabdo kalau mereka akan segera mendapat perkebunan dari Trah Pitu (Dok. MD Pictures/Janur Ireng)

Membicarakan soal aktor, yang menarik dari film Janur Ireng ini adalah kemunculan Tora Sudiro sebagai sosok Arjo Kuncuro.

Seperti yang kita tahu, Tora sendiri memang punya rekam jejak yang panjang dalam dunia perfilman. Namun uniknya, ia sendiri tak pernah terlibat dalam film horor yang serius. Judul film horor yang pernah ia bintangi sebelumnya sendiri seperti Ghostbuser: Misteri Desa Penari, Kang Mak from Pee Mak, Ghostbuser: Misteri Desa Penari, dan Kang Solah from Kang Mak x Nenek Gayung bergenre horor komedi.

Jadi bisa dibilang kalau Janur Ireng adalah judul pertama yang menuntut Tora melepas topeng komediannya dan benar-benar berakting layaknya seorang bangsawan yang mengikat perjanjian dengan iblis. Menariknya, Tora Sudiro mampu menjalani peran ini dengan sangat meyakinkan. Sebagai Arjo Kuncuro, ia tampil tenang, dingin, dan berwibawa, jauh dari citra komedi yang selama ini melekat padanya. Ekspresi dan cara bicaranya sederhana, namun cukup untuk memberi kesan sosok bangsawan yang terbiasa memegang kendali dan menyimpan sisi gelap.

Justru karena dimainkan tanpa berlebihan, Arjo terasa lebih manusiawi dan mengintimidasi. Peran ini menunjukkan sisi lain Tora Sudiro sebagai aktor, membuktikan bahwa ia tak hanya piawai melucu, tetapi juga mampu menghadirkan karakter kelam dengan emosi yang tertahan dan terasa nyata.

3. Sentuhan kebrutalan ala Kimo yang lebih "pedas" daripada Sewu Dino

Sabdo membantu menyembelih kambing - Janur Ireng
Sabdo membantu menyembelih kambing (Dok. MD Pictures/Janur Ireng)

Nama Kimo Stamboel memang sudah lekat dengan gaya penyutradaraan yang tak ragu menampilkan unsur gore secara eksplisit.

Janur Ireng pun tak keluar dari jalur tersebut. Darah, tubuh yang remuk, hingga adegan brutal seperti Intan yang kerasukan Sengarturih mematahkan leher dan menusuk kepala para pembantu Kuncoro hingga adegan organ tubuh yang dijatuhkan iblis Bokolono disajikan tanpa banyak kompromi. Skalanya juga jauh lebih luas di mana bukan cuma satu atau dua orang seperti dalam Sewu Dino tapi dalam kelompok besar seperti yang kalian lihat dalam trailer filmnya.

Namun kekerasan di sini tidak sekadar sensasi. Gore digunakan sebagai bahasa visual untuk menegaskan betapa rusak dan gelapnya dunia yang dimasuki Sabdo dan Intan. Tak heran jika adegan-adegan ini justru memperkuat atmosfer kelam dan menunjukkan bahwa setiap perjanjian, kuasa, dan kemewahan dalam film ini selalu menuntut harga yang yang sering kali di luar bayangan para insan.

4. Meski punya potensi lore cerita yang luas, sayangnya tak banyak yang tersampaikan

Janur menghitam seperti judul filmnya - Janur Ireng
Janur menghitam seperti judul filmnya (Dok. MD Pictures/Janur Ireng)

Meski penokohan dan adegan-adegan berdarahnya dieksekusi dengan solid, Janur Ireng tetap memiliki sejumlah kekurangan. Salah satu yang paling terasa adalah potensi lore ceritanya yang belum tergarap maksimal.

Sebagai film pertama yang secara terang-terangan memperkenalkan Trah Pitu, salah satu daya tarik utama dalam semesta karya SimpleMan, ruang eksplorasi yang dibuka sebenarnya sangat luas. Sayangnya, film ini masih terasa menahan diri. Banyak aspek menarik yang hanya disinggung sepintas, mulai dari ciri khas tiap keluarga seperti praktik kawin sedarah dalam keluarga Kuncoro, keberadaan makhluk gaib peliharaan, hingga intrik internal di mana anggota Trah Pitu saling menyikut sekaligus bekerja sama demi satu tujuan bersama.

Akibatnya, dunia yang dibangun terasa menjanjikan, tetapi belum sepenuhnya hidup. Janur Ireng seolah baru membuka pintu, tanpa sempat mengajak penonton masuk lebih dalam ke labirin gelap yang sebenarnya sangat potensial untuk dieksplorasi.

Mungkin kekurangan film ini akan terbayar jika ternyata MD Pictures kepikiran membuat web series yang menyoroti setiap kisah para Trah Pitu dan konflik antar sesama mereka.

5. Kesimpulannya?

Sri menanyai soal asal mula tragedi ke Mbah Karsa - Janur Ireng
Sri menanyai soal asal mula tragedi ke Mbah Karsa (Dok. MD Pictures/Janur Ireng)

Bagi saya, Janur Ireng lebih terasa sebagai sebuah gerbang menuju jagat cerita SimpleMan yang berpotensi jauh lebih gelap dan kejam, baik bagi penonton film maupun pembaca thread-nya. Film ini seakan menjadi pintu pembuka, bukan puncak dari eksplorasi dunianya.

Racikan adegan-adegan berdarah khas Kimo Stamboel, ditambah penokohan yang solid, membuat pengalaman menontonnya terasa memuaskan. Namun keterbatasan format layar lebar dan durasi membuat Janur Ireng belum mampu menggali lebih dalam sisi lain dunianya, terutama budaya Trah Pitu beserta ciri khas masing-masing keluarga.

Alhasil, film ini meninggalkan kesan menjanjikan, sekaligus rasa penasaran yang belum sepenuhnya terbayar.

Mungkin sudah waktunya MD Pictures merilis web series yang menceritakan asal mula Trah Pitu dan juga cerita masing-masing setiap keluarga elit tersebut. Dari situ, barulah dunia Janur Ireng terasa lebih terbuka dari sebelumnya.

Itulah pendapat saya tentang film Janur Ireng.

Bagaimana pendapat kalian?

Janur Ireng
2025
3/5
Directed by Kimo Stamboel
Producer

Manoj Punjabi

Writer

Khalid Kashogi, SimpleMan, Kimo Stamboel

Age Rating

D 17+

Genre

supernatural horor, horor, thriller

Duration

94 Minutes

Release Date

24-12-2025

Theme

Supranatural

Production House

MD Pictures

Where to Watch

Cinema XXI, CGV Cinemas, New Star Cineplex

Cast

Rio Dewanto, Marthino Lio, Ratu Rafa, Tora Sudiro, Masayu Anastasia, Karina Suwandi, Faradina Mufti, Givina, Gisellma, Dayinta, Vincent Sanjaya

Trailer Janur Ireng (2025)

Galeri Janur Ireng (2025)

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Fahrul Razi Uni Nurullah
EditorFahrul Razi Uni Nurullah
Follow Us

Latest in Film

See More

Siapa Bayi Steve Rogers di Teaser Avengers: Doomsday? Ini Teorinya

07 Jan 2026, 17:00 WIBFilm