Disutradarai oleh Ryan Adriandhy dan diadaptasi dari buku karya Reda Gaudiamo, Na Willa mencoba membawa penonton kembali ke masa kecil melalui perspektif seorang anak perempuan berusia lima tahun bernama Willa. Ceritanya berlatar Surabaya pada era 1960-an, masa ketika kehidupan masih sederhana dan dunia anak dipenuhi rasa ingin tahu yang tidak pernah habis.
Film ini tidak dibangun dengan konflik besar sebagaimana drama keluarga pada umumnya. Justru sebaliknya, cerita bergerak dari kejadian-kejadian kecil: bermain di gang, bertemu teman, bertanya banyak hal kepada orang tua, hingga mencoba memahami dunia yang terasa begitu luas bagi seorang anak. Willa melihat semua itu dengan cara yang polos dan jujur, sebuah perspektif yang jarang benar-benar digarap serius dalam film keluarga Indonesia.
Pendekatan ini membuat Na Willa terasa seperti kumpulan fragmen kenangan masa kecil. Tidak selalu dramatis, tetapi penuh detail kecil yang terasa personal. Film ini seolah mengajak penonton dewasa untuk kembali mengingat masa ketika dunia terasa sederhana, namun penuh misteri.
