Yuji Itadori (dok. MAPPA/ Jujutsu Kaisen)
Dari luar, peran Markas Besar Jujutsu memang terkesan sah-sah saja. Namun, pada kenyataannya mereka bahkan layak dianggap sebagai musuh terselubung bagi penyihir itu sendiri. Hal ini dibuktikan dengan beberapa keputusan buruk dan tergesa-gesa yang pernah mereka ambil, berikut ini contohnya:
Setelah insiden menelan jari Sukuna, Yuji langsung dijatuhi hukuman mati. Alasannya memang masuk akal, karena khawatir jika sewaktu-waktu Sukuna berhasil mengambil alih tubuh Yuji dan mengancam keamanan dunia jujutsu.
Bahkan, kekacauan di Shibuya pun dianggap sebagai tanggung jawab Yuji. Jadi, ketika Gojo disegel, petinggi langsung memerintahkan eksekusi terhadapnya.
Nasib malang Yuji lebih dulu diderita oleh Yuta. Dia dianggap berbahaya karena terikat dengan Rika Orimoto, sang Ratu Kutukan yang kekuatannya setara kutukan tingkat spesial.
Keberadaan Yuta dianggap terlalu berbahaya. Jadi, lantaran takut pada kekuatan baru yang melampaui batas, petinggi menganggap satu-satunya jalan hanyalah dengan menyingkirkan Yuta,
Kepala Sekolah SMA Jujutsu Tokyo, Masamichi Yaga, memiliki kemampuan untuk menciptakan mayat terkutuk. Petinggi takut jika suatu saat Yaga akan berkhianat dan melawan balik dengan pasukan mayat ciptaannya.
Yaga juga dianggap bertanggung jawab atas Insiden Shibuya karena hubungannya dengan Gojo dan Geto. Dia pun dijatuhi hukuman mati.
Terlepas dari jasa Gojo sebagai penyihir terkuat, para petinggi sebenarnya menyembunyikan niat untuk menyingkirkan pemimpin salah satu dari Tiga Klan Besar tersebut. Ketika Kenjaku berhasil menyegel Gojo, maka celah untuk merealisasikan niat itu pun terbuka.
Petinggi memutuskan bahwa Gojo terlibat dalam Insiden Shibuya. Oleh karena itu, siapa pun yang berusaha untuk membebaskannya dianggap sebagai pengkhianat.