Rekomendasi 6 Manga Fighting dengan Pendekatan yang Gak Mainstream!

- Enam manga fighting dipilih karena menawarkan pendekatan berbeda dari formula protagonis underdog yang berkembang menjadi petarung hebat.
- Teppu, Shamo, dan Shigurui menghadirkan pertarungan melalui tokoh atau situasi yang jauh dari kesan heroik.
- Holyland dan All-Rounder Meguru menekankan realisme teknis, sementara Baki memadukan seni bela diri dengan imajinasi absurd.
Manga fighting biasanya punya formula yang cukup familiar.
Ada protagonis yang awalnya diremehkan, kemudian berlatih, bertemu rival, menghadapi lawan yang semakin kuat, dan perlahan menjadi petarung hebat. Tentu ada banyak variasi, tetapi pola tersebut sudah menjadi bagian dari daya tarik genre ini.
Namun, beberapa manga fighting justru menarik karena memilih pendekatan yang berbeda.
Ada yang menjadikan karakter utama sebagai sosok yang sama sekali tidak heroik. Ada yang melihat bela diri bukan sebagai jalan menuju kehidupan yang lebih baik, melainkan sesuatu yang justru bisa memperburuk seseorang. Ada pula yang begitu serius dengan realismenya sampai satu pukulan sederhana terasa seperti hasil perhitungan yang rumit.
Apa saja manga fighting dengan pendekatan yang gak mainstream?
Ini beberapa pilihannya!
Table of Content
1. Teppu

(Dok. Oota Moare, Kodansha/Teppu) Teppu adalah apa yang terjadi kalau tokoh utamanya bukan sang underdog, melainkan si genius yang problematik.
Tokoh utama Teppu adalah Natsuo Ishidou. Ia adalah gadis yang sangat berbakat dalam olahraga.... dan juga arogan serta cukup sadis.
Alih-alih berjuang demi keadilan, persahabatan, atau pengembangan diri, Natsuo terjun ke dunia Mixed Martial Arts (MMA) karena satu alasan yang sangat personal: ia ingin menghancurkan Yuzuko Mawatari, rivalnya yang ceria dan justru benar-benar mencintai olahraga tersebut.
Kalau memakai formula manga fighting yang lebih umum, mungkin Yuzuko-lah yang akan menjadi protagonisnya.Ia punya kecintaan terhadap olahraga, semangat bertanding, dan keinginan untuk berkembang. Natsuo justru lebih cocok menjadi rival atau bahkan antagonis.
Teppu membalik formula tersebut.
Hasilnya adalah manga fighting yang menarik bukan karena kita mengikuti seorang underdog yang berusaha menjadi juara, melainkan karena kita melihat seorang talenta luar biasa berusaha menemukan apa arti pertarungan baginya—meski motivasinya sejak awal jauh dari heroik.
2. Shamo

(Dok. Izo Hashimoto, Akio Tanaka, Kodansha/Shamo) Ryo Narushima dikirim ke fasilitas pembinaan setelah pada usia 16 tahun ia membunuh ayah dan ibunya sendiri.
Kejahatannya, ditambah kondisi fisiknya yang memang lemah, membuat Ryo menjadi bulan-bulanan di tempat tersebut. Namun kemudian ia menerima pelatihan karate dari Kenji Kurokawa.
Ryo mulai mampu membela dirinya dari para pelaku kekerasan.
Sampai di sini, premisnya mungkin terdengar seperti kisah redemption klasik.
Masalahnya? Tidak begitu.
Ketika keluar dari penjara, Ryo justru menjadi sosok yang semakin mengerikan.
Shamo mengambil gagasan bahwa bela diri dapat membentuk seseorang menjadi lebih kuat, lalu bertanya: bagaimana kalau orang yang menjadi lebih kuat itu bukan orang baik?
Karate tidak otomatis membuat Ryo menjadi manusia yang lebih baik. Kemampuan tersebut justru menjadi alat baru yang dapat ia gunakan dalam kehidupan yang semakin gelap.
Dengan begitu, Shamo tidak memperlakukan martial arts sebagai jalan menuju kedisiplinan dan pengembangan diri saja. Dalam konteks Ryo, kekuatan fisik justru bisa memperbesar sisi buruk seseorang.
Dan itu membuat perjalanan Ryo terasa jauh berbeda dari protagonis manga fighting pada umumnya.
3. Shigurui: Death Frenzy

(Dok. Takayuki Yamaguchi, Akita Shoten/Shigurui: Death Frenzy) Biasanya, manga fighting dengan kemampuan berpedang masih memberikan batas tertentu dalam menggambarkan kehancuran tubuh.
Shigurui tidak terlalu peduli dengan batas tersebut.
Manga ini menggambarkan pertarungan dengan tingkat kekerasan dan cedera yang sangat brutal. Tubuh manusia bukan sekadar alat untuk melakukan aksi keren, tetapi sesuatu yang benar-benar bisa hancur akibat pertarungan.
Dan yang membuat Shigurui semakin berbeda adalah cara manga ini memandang pertarungan itu sendiri.
Manga fighting arus utama sering menggambarkan pertarungan sebagai sesuatu yang mulia: kesempatan untuk menguji kemampuan, mengembangkan diri, atau membuktikan tekad.
Shigurui justru melihatnya sebagai tragedi yang menyiksa dan menghancurkan manusia.
Dua tokoh utamanya, Fujiki Gennosuke dan Irako Seigen, terikat oleh persaingan yang semakin brutal. Turnamen yang mereka ikuti bukan terasa seperti panggung untuk menentukan siapa pendekar terkuat, melainkan sesuatu yang perlahan-lahan menghancurkan mereka.
Ditambah lagi, semua itu terjadi dalam lingkungan sosial yang keras dan penuh aturan, kehormatan, serta kekuasaan.
Hasilnya adalah manga samurai yang membuat pertarungan terasa bukan heroik, melainkan mengerikan.
4. Holyland

(Dok. Kouji Mori, Hakusensha/Holyland) Kalau banyak manga fighting berusaha membuat pertarungan semakin spektakuler, Holyland justru punya pendekatan yang lebih membumi.
Manga karya Kouji Mori ini berfokus pada seni bela diri yang relatif realistis, psikologi pertarungan jalanan, serta analisis teknis mengenai bagaimana berbagai gaya bertarung bekerja.
Dan yang menarik, Holyland bisa membuat sesuatu sesederhana “memukul dengan benar” terasa sangat signifikan.
Realisme ini juga memberikan bobot pada setiap pertarungan.
Yuu Kamishiro tidak bisa sekadar mengandalkan kekuatan protagonis untuk menghadapi semua lawan. Ketika ia berhadapan dengan seseorang yang menggunakan karate, misalnya, pendekatan yang dibutuhkan bisa berbeda dibandingkan ketika ia menghadapi petarung dengan latar belakang gulat.
Jarak, posisi, timing, pengalaman, kondisi psikologis, dan gaya bertarung lawan semuanya dapat mengubah jalannya pertarungan.
Dengan kata lain, Holyland membuat pembaca memperhatikan bagaimana seseorang bertarung, bukan hanya siapa yang menang.
Dan justru karena tidak ada banyak jurus super, satu keputusan teknis yang tepat bisa terasa sangat memuaskan.
5. All-Rounder Meguru

cover dari manga All Rounder Meguru (dok. Hiroki Endo, Kodansha/All Rounder Meguru) Kalau Holyland menarik karena realisme pertarungan jalanannya, All-Rounder Meguru membawa pendekatan realistis tersebut ke dunia MMA amatir.
Manga ini menyoroti dunia MMA dari sudut pandang yang cukup teknis, termasuk latihan, persiapan pertandingan, pengaturan berat badan, serta bagaimana berbagai disiplin bela diri saling berhadapan di dalam satu arena.
Yang menarik, kemenangan dalam All-Rounder Meguru sering terasa sebagai hasil dari memahami matchup, bukan karena protagonis tiba-tiba mendapatkan jurus baru.
Petarung dengan latar belakang tertentu akan memiliki kelebihan sekaligus kelemahan tertentu. Menghadapi striker jelas membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan menghadapi grappler.
Bahkan proses menjadi petarung sendiri terasa penting.
6. Baki

Baki Hanma (dok. TMS Entertainment/Baki) Yang bagi saya lucu dari Baki?
Ini adalah salah satu judul manga fighting paling legendaris. Dengan status seperti itu, kamu mungkin mengira elemen-elemen Baki bakal banyak ditiru oleh manga fighting lain.
Tapi Baki masih terasa gila sampai sekarang.
Bedanya dengan serial yang menggunakan tembakan energi, sihir, atau kekuatan supernatural secara terang-terangan, Baki sering memperlakukan kemampuan yang sebenarnya sudah mustahil sebagai hasil dari latihan fisik ekstrem, anatomi, dan penguasaan seni bela diri.
Masalahnya, hasil akhirnya bisa sangat absurd.
Karakter-karakternya dapat melakukan hal-hal yang jelas sudah melampaui batas kemampuan manusia, tetapi manga tetap berusaha memberikan penjelasan pseudo-ilmiah atau filosofis mengenai bagaimana hal tersebut bisa terjadi.
Di sinilah daya tarik Baki.
Manga ini mengambil berbagai gaya bertarung nyata, anatomi tubuh, sejarah, serta filosofi seni bela diri, kemudian mencampurnya dengan imajinasi yang sama sekali tidak mengenal rem.





















