Ryumon merasakan dorongan saat menjadi monster (Dok. One Punch Man Webcomic)
Jika ditanya alasan mengapa Ryumon tetap sadar meski telah menjadi monster, maka kasus Sweet Mask bisa dijadikan patokan.
Seperti yang diketahui, monster dalam One Punch Man umumnya lahir dari manusia yang terdorong emosi ekstrem hingga melampaui batas. Biasanya, dorongan tersebut berasal dari emosi negatif seperti amarah, kebencian, atau dendam terhadap orang lain.
Namun, dalam beberapa kasus unik, transformasi justru dipicu oleh dorongan yang tidak sepenuhnya mengarah pada kebencian terhadap manusia lain. Sweet Mask, misalnya, berubah karena kebencian mendalam terhadap dirinya sendiri terutama terhadap wajah aslinya. Dari situ, ia memperoleh kemampuan yang memungkinkan dirinya mempertahankan “citra ideal” yang ia dambakan.
Hal serupa dapat dilihat pada Ryumon. Meski memiliki latar belakang sebagai yakuza, ia justru digerakkan oleh rasa keadilan yang sangat kuat. Dorongan ini begitu ekstrem hingga memicu perubahan wujudnya menjadi monster. Namun berbeda dengan monster pada umumnya, motivasi Ryumon tidak berakar pada kebencian terhadap manusia lain.
Karena itulah, Ryumon tetap mempertahankan kesadarannya. Ia tidak sepenuhnya dikuasai oleh dorongan destruktif, melainkan oleh keyakinan yang ia anggap sebagai “keadilan”. Dalam konteks ini, kondisinya lebih mendekati Sweet Mask di mana transformasi tidak serta-merta menghapus identitas dan kesadaran diri.
Itulah penjelasan kenapa Ryumon tetap waras meski menjadi monster.
Bagaimana menurut kalian?
Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime-manga, film, game, dan gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:
Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku
Tele: https://t.me/WargaDuniaku