CapCut AI Content Fest 2026. Fotografer: Fahrul Nurullah
Menurut saya, screening ini juga menjadi showcase yang menarik untuk melihat potensi Director Mode di CapCut Video Studio dalam menerjemahkan ide kreator menjadi sebuah microfilm.
Yang menarik bukan sekadar kemampuan menghasilkan satu-dua klip AI yang terlihat keren, tetapi bagaimana teknologi tersebut bisa digunakan untuk menyusun berbagai adegan sehingga terasa sebagai bagian dari satu karya yang utuh.
Dan... yeah, dari sisi visual, saya cukup terkesan dengan konsistensi dan kontinuitas antarscenenya.
Karakter, suasana, kostum, serta berbagai elemen visual relatif terasa seperti berasal dari film yang sama. Hal ini menarik karena salah satu hal yang cukup mudah ditemukan dalam AI short film adalah perubahan detail karakter atau elemen visual secara tiba-tiba ketika berpindah dari satu adegan ke adegan berikutnya.
Sebagai orang yang cukup familiar dengan AI shorts yang berseliweran di media sosial, saya sendiri awalnya punya ekspektasi yang cukup spesifik: visual yang sangat realistis, tetapi karakter bisa tiba-tiba berubah detail, kontinuitas semakin berantakan ketika ceritanya semakin panjang, atau interaksi dua karakter dalam satu frame mulai memperlihatkan kejanggalan visual.
Karena itu, melihat microfilm yang mampu mempertahankan kontinuitas tersebut terasa cukup menarik. Memang belum sempurna, tetapi setidaknya menunjukkan bahwa AI video mulai bergerak dari sekadar “menghasilkan klip keren” menuju kemampuan untuk membantu kreator membuat cerita dengan sejumlah adegan yang saling terhubung.
Menariknya lagi, proses ini juga tetap membutuhkan waktu dan perhatian dari kreatornya. Salah satu kreator bahkan menyebut bahwa proses pembuatan karyanya membutuhkan waktu sekitar satu minggu.
Hal ini menjadi pengingat bahwa hasil AI microfilm yang terlihat polished bukan selalu berarti semuanya terjadi dalam satu kali klik. Ada proses memilih output, melakukan revisi, mengatur adegan, mengedit, dan memastikan hasil akhirnya tetap terasa sebagai satu karya.
Dengan kata lain, AI memang bisa memperluas kemampuan produksi seorang kreator, tetapi sentuhan kreator tetap menjadi bagian penting dalam membuat hasil akhirnya terasa seperti film, bukan sekadar kumpulan klip AI.