Review Detroit: Become Human: Saat Robot dan Manusia Hidup Berdampingan di Masa Depan

Film interaktif yang mungkin pas untuk mengisi waktu ngabuburitmu nih!

Review Detroit: Become Human: Saat Robot dan Manusia Hidup Berdampingan di Masa Depan

David Cage is back! Yap, setelah sukses dengan judul-judul seperti Heavy Rain dan Beyond Two Souls, David Cage bersama Quantic Dream kini merilis kisah hubungan Android dan manusia lewat Detroit: Become Human. Apakah game ini semenarik judul-judul game David Cage sebelumnya? Simak review Detroit: Become Human di sini!

Sinopsis

Detroit: Become Human mengambil setting di masa depan di mana Android sudah bisa diperjual belikan secara bebas untuk membantu pekerjaan manusia. Kamu akan memainkan peran dari sudut pandang tiga robot Android yang berbeda.

Pertama ada Connor, purwarupa Android detektif yang mendapat tugas untuk melacak dan melumpuhkan Android-android yang berbuat salah dan menyimpang dari tugas aslinya. Lalu ada Kara, Android wanita yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga sebuah keluarga yang kacau. Dan terakhir ada Markus, Android yang dimiliki oleh seorang seniman tua untuk membantu dan merawatnya di usianya yang sudah senja.

Gameplay

Review Detroit: Become Human: Saat Robot dan Manusia Hidup Berdampingan di Masa Depan

Bagi kamu yang suka memainkan game-game dari Quantic Dream, maka kamu tidak akan asing dengan gameplay dari game ini. Game ini mengusung genre interactive story, di mana kamu tidak akan banyak direpotkan oleh aksi menekan tombol. Kamu bisa fokus untuk menikmati cerita, mengambil keputusan untuk menentukan jalan cerita yang akan kamu telusuri selanjutnya, sembari memecahkan misteri-misteri di setiap chapter yang ada.

Dalam sebuah dialog, kamu akan mendapatkan beberapa pilihan respon yang harus kamu berikan untuk lawan bicaramu. Terkadang kamu juga akan menemui beberapa Quick Time Event, di mana kamu harus menekan serangkaian tombol sebelum waktu habis.

Review Detroit: Become Human: Saat Robot dan Manusia Hidup Berdampingan di Masa Depan

Terdapat satu elemen baru yang cukup unik, di mana Android akan masuk dalam mode "detektif". Kamu bisa memindai lingkungan untuk mencari petunjuk sebelum mengambil keputusan. Setelah menemukan semua petunjuk, kamu bisa mengeksekusi mode "reconstruct" untuk melakukan rekonstruksi kejadian yang terjadi berdasarkan petunjuk-petunjuk  yang sudah kamu temukan tadi.

Jangan terkecoh dengan kota Detroit yang tampak luas, karena game ini tidak memperbolehkanmu untuk mengeksplorasi lingkungan sebebas mungkin. Hanya ada beberapa jalur saja yang bisa kamu lewati untuk menuju ke bagian kisah selanjutnya.

Banyak cabang kisah, gak cukup main sekali!

Review Detroit: Become Human: Saat Robot dan Manusia Hidup Berdampingan di Masa Depan

Sebagai film interaktif, tentu Detroit: Become Human tidak menyediakan satu jalur kisah dan satu ending saja. Dalam satu chapter, kamu bisa menemukan beberapa jalan yang bisa kamu ambil, yang nantinya akan berdampak signifikan terhadap kelanjutan kisah dan juga ending yang bakal kamu dapat.

Game ini juga menyediakan sebuah fitur flowchart yang transparan, dimana kamu bisa melihat jalur yang sudah kamu buka, ataupun belum. Dengan mengetahui jalur kisah yang belum dibuka, tentu hal ini bisa membuat penasaran untuk memainkan ulang satu chapter, guna membuka jalur tersebut.

Oiya, tidak ada save point di sini. Akan tetapi, kamu bisa menyimpan progress setelah satu chapter usai, dan mengulang chapter tersebut kapan saja. Kamu juga bisa memilih untuk tidak menyimpan progress tersebut jika kamu hanya ingin coba-coba saja.

Untuk satu kali menamatkan game ini, kamu membutuhkan waktu kurang lebih 10 hingga 11 jam. Namun penulis jamin, kamu tidak akan cukup memainkannya sekali!

Bagaimana dengan elemen lainnya? Lanjut baca review Detroit: Become Human di halaman selanjutnya!

Grafis dan animasi yang memukau

Review Detroit: Become Human: Saat Robot dan Manusia Hidup Berdampingan di Masa Depan

Bisa dibilang, grafis dan animasi yang ditampilkan oleh game ini sangat memukau. Kamu bisa melihat detail tiap karakter, bahkan hingga detail kerusakan Android di beberapa chapter. Detail lingkungan juga digarap dengan baik, dan menambah nuansa kelam yang ditampilkan mayoritas kisah di game ini.

Animasi karakter juga dipoles dengan baik. Meskipun Android di sini sudah bertingkah dan membantu layaknya manusia, namun kamu bisa melihat bahwa animasi pergerakan mereka kadang masih "patah-patah" layaknya robot. Grafis dan animasi ini cukup nyaman di mata untuk dinikmati sebagai sebuah film.

Terlalu "film", lupa menjadi "game"

Review Detroit: Become Human: Saat Robot dan Manusia Hidup Berdampingan di Masa Depan

Namanya juga film interaktif, jadi porsi "menonton" lebih banyak dibandingkan porsi "bermain" game. Namun sayang, sebagai sebuah film, kisah yang ditampilkan kurang menyentuh dan kurang misterius. Di banyak chapter, kamu akan banyak melihat kisah disampaikan secara langsung oleh karakter, bukan saat kita mengalami kisah tersebut. Sehingga banyak kisah yang mudah ditebak, hanya dengan mengamati dialog antara karakter playable dengan NPC.

Lupa menjadi game? Yap, game ini sangat kurang elemen "bermain" game-nya. Tidak ada pemecahan teka-teki yang terlalu rumit dan menguras otak. Tidak banyak kombo penekanan tombol, terutama saat satu Android mengabaikan perintah yang diberikan kepada mereka. Sehingga game ini sedikit kehilangan unsur fun-nya.

Kesimpulan

Detroit: Become Human sebenarnya film interaktif yang menarik, semenarik Beyond Two Souls ataupun Heavy Rain. Namun kisah yang kurang kuat dan dalam membuat film interaktif tidak sebagus dua judul yang saya sebutkan tersebut. Bagi penggemar film interaktif sih game ini cukup worth untuk mengisi waktu ngabuburitmu.

Skor: 7/10

Diedit oleh Doni Jaelani

Artikel terkait

Latest