Krisis Melanda Developer Crysis, Lebih dari 100 Staff Mogok Kerja

Crytek, developer yang berada di balik layar pengembangan Crysis dan Ryse dikabarkan tengah krisis. Bahkan, studio mereka yang ada di Inggris kabarnya ditinggalkan sekitar 100 staff yang mogok bekerja karena tidak menerima hak mereka.

Krisis Melanda Developer Crysis, Lebih dari 100 Staff Mogok Kerja

Salah satu studio papan atas dunia yang dikenal dengan serial Crysis dan Ryse, Crytek tengah dilanda krisis. Kabarnya, studio mereka yang ada di Inggris sudah ditinggalkan lebih dari 100 karyawannya yang mogok kerja. Penyebabnya adalah Crytek dianggap lalai dalam membayar gaji mereka selama sebulan terakhir, dimana beberapa orang hanya menerima sepertiga gaji saja, tidak mendapatkan gaji tepat pada waktunya, bahkan beberapa lagi diantara mereka tidak menerima gaji sama sekali.

Kabar krisisnya Crytek ini sendiri bermula sejak akhir Juni lalu dimana pada saat itu dikabarkan Crytek tidak bisa membayar gaji para staffnya tepat waktu. Dilansir dari Kotaku yang mengaku mendapatkan kabar dari sumber yang dekat dengan Crytek, masalah pembayaran gaji ini berimbas kepada ditundanya pengembangan beberapa game mereka selanjutnya. Ketika dikonfirmasikan, Crytek membantah anggapan bahwa mereka tengah bangkrut. Sedangkan untuk sekuel Ryse, mereka menyatakan bahwa pembatalan pengembangan sekuel Ryse lebih dikarenakan kepada konflik dengan Microsoft yang ingin memiliki franchise tersebut sepenuhnya.

Krisis Melanda Developer Crysis, Lebih dari 100 Staff Mogok Kerja Ryse, batal mendapatkan sekuel?[/caption]

Bukan hanya sekuel dari Ryse, tetapi beberapa game yang tengah dikembangkan studio mereka yang ada di Inggris plus dukungan untuk CryEngine kabarnya juga tengah dihentikan sementara. Seperti yang kita ketahui, studio Crytek Inggris yang bermarkas di Nottingham saat ini tengah mengembangkan Homefront: The Revolution yang nantinya akan dipublikasikan oleh Deep Silver. Menurut sumber tersebut, beberapa staff developer Homefront: The Revolution ini tidak dibayar sesuai dengan hak mereka. Bahkan dalam minggu ini, beberapa staff dikabarkan menuliskan surat keluhan kepada Crytek dan pulang ke rumah alias mogok bekerja. Total ada sekitar 100 orang sudah meninggalkan studio, dan mungkin jumlah tersebut akan semakin banyak mengingat Crytek masih belum lepas dari krisis tersebut.

Hal ini menimbulkan rumor, bahwa Crytek dan Deep Silver tengah bernegosiasi mengenai apa yang akan terjadi selanjutnya. Banyak staff Crytek di Inggris berharap bahwa Deep Silver bisa membeli studio tersebut, sehingga mereka bisa bekerja melanjutkan pengembangan Homefront: The Revolution. Bahkan salah satu sumber yakin kalau Deep Silver bakal melakukan hal tersebut, melanjutkan investasi untuk Homefront: The Revolution dan melanjutkan pengembangannya karena mereka tidak ingin investasi yang sudah terlanjur mereka keluarkan sebelumnya menguap sia-sia.

Krisis Melanda Developer Crysis, Lebih dari 100 Staff Mogok Kerja Menantikan nasib Homefront: The Revolution[/caption]

Baik Crytek maupun Deep Silver sendiri sampai saat ini masih belum memberikan komentar resmi, dan masih menolak anggapan bahwa Crytek mengalami kebangkrutan. Yang jelas, sampai saat ini studio Crytek yang ada di Inggris dikabarkan masih beroperasi normal dengan beberapa staff yang masih tersisa. Kita tunggu saja kelanjutan kabar ini, apakah Crytek bisa keluar dari krisis (entah dibeli oleh Deep Silver atau mendapatkan sumber dana lain) ataukah bernasib malang seperti developer-developer lain yang gulung tikar.

[Sumber: Kotaku/CVG]

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU