Review Code Vein: Imut Seperti Anime, "Menyiksa" Seperti Dark Souls!

Bahkan film pembukanya dibuat oleh Ufotable loh!

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, "Menyiksa" Seperti Dark Souls!

Sejak dulu kita mengenal Bandai Namco sebagai publisher game yang memegang lisensi game-game dari IP anime populer, sebut saja seperti Dragon Ball, One Piece, dan Naruto. Rasanya tidak mengherankan jika akhirnya mereka memberikan nuansa anime kepada game flagship yang mereka kembangkan sendiri, Code Vein yang dirilis akhir September 2019 ini.

Code Vein sendiri banyak disebut gamer sebagai Dark Souls versi anime. Sebuah justifikasi yang tidak berlebihan, karena game ini pun memiliki tingkat kesulitan yang cukup "menyiksa" ala Dark Souls, berdarah-darah, namun di beberapa bagian juga mengangkat sisi anime yang "imut" dan penuh warna.

Setelah mencoba demonya secara langsung di markas Bandai Namco bulan April lalu, akhirnya penulis mencicipi secara langsung versi penuh dari game-nya. Berikut impresinya!

1. Kisah vampir di dunia pasca-kiamat

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, Menyiksa Seperti Dark Souls!dok. Bandai Namco

Kisah dari Code Vein sendiri mengambil latar waktu dunia pasca-kiamat. Dikisahkan ada organisasi yang menamakan dirinya Vein dan berisi para Revenant. Revenant ini dulunya adalah manusia, namun kali ini mereka harus bertahan hidup dengan menyerap blood beads, sebuah item yang berisi darah.

Apabila mereka kehabisan blood beads, maka mereka bisa berubah menjadi monster-monster menakutkan bernama The Lost. Awalnya tugasmu hanyalah mencari persediaan  blood beads secukupnya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, ada hal yang lebih kompleks lain yang menanti untuk diselesaikan dalam petualanganmu.

Kisahnya cukup sederhana, mudah diikuti, dan gaya penceritaannya mengadopsi banyak nuansa anime. Jika kamu pernah menonton film pembuka yang dirilis Bandai Namco beberapa waktu lalu, film ini pun dibuat oleh studio animasi Ufotable. 

2. Menyiksa, tapi tidak "sekejam" Dark Souls

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, Menyiksa Seperti Dark Souls!dok. Bandai Namco

Sebenarnya penulis bukan seorang gamer yang hobi "menyiksa diri" dengan memainkan game-game yang memiliki tingkat kesulitan tinggi seperti Dark Souls atau Sekiro. Nah, tingkat kesulitan Code Vein ini sendiri sebenarnya bisa dibilang cukup "menyiksa". Apalagi, Bandai Namco hanya menyediakan satu tingkat kesulitan saja, sehingga tewas bisa jadi "kebiasaan" bagi kamu yang tidak terbiasa dengan game-game yang sulit.

Apa yang membuat Code Vein susah? Pertama, karaktermu bisa dibilang cukup "lemah" di hadapan musuh-musuhmu. Di level-level awal, bahkan dengan empat atau lima kali tebasan, karaktermu akan tewas. Musuh pun sebenarnya juga bisa dikalahkan hanya dengan beberapa kali tebas (plus bantuan AI rekanmu), sehingga ketepatan waktu untuk menyerang dan menggunakan dodge jadi nilai penting untuk sukses dalam sebuah pertarungan.

Kedua, jarak checkpoint (dalam game ini disebut dengan Mistle) yang cukup jauh. Mistle adalah satu-satunya tempat untuk "beristirahat", menyimpan data, mengisi HP dan mempelajari skill baru. Jadi, jika kamu tidak segera menemukan Mistle baru saat HP mu menipis, maka siap-siap saja kembali ke Mistle sebelumnya saat kamu tewas.

Oiya, saat kamu tewas dan hidup kembali, semua lawan dalam area tersebut akan muncul kembali seperti sedia kala!

Meskipun susah, tapi penulis menganggap tingkat kesulitannya tidak setinggi Dark Souls atau Bloodborne. Sepertinya lewat Code Vein ini, Bandai Namco ingin menjembatani para gamer kasual (atau penggemar anime) yang ingin meningkatkan kemampuan dalam memainkan game-game susah, sebelum memainkan Dark Souls (yang notabene juga dipublikasikan Bandai Namco).

Baca Juga: Kami Mencoba Demo Code Vein, "Dark Souls" Rasa Anime. Berikut Impresi Kami!

3. Dampak Blood Code yang signifikan dalam pertarungan

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, Menyiksa Seperti Dark Souls!dok. Bandai Namco

Blood Code adalah sistem class dalam Code Vein. Kamu bisa mempelajari banyak Blood Code, akan tetapi hanya bisa memasang satu Blood Code saja dalam satu waktu. Masing-masing Blood Code memiliki satu set skill (atau disebut Gift) yang bisa kamu pelajari dan gunakan dalam pertarungan. 

Kamu bisa mengganti-ganti Blood Code kapan pun kamu mau, tidak melulu di Mistle atau di base. Dan efek mengganti-ganti Blood Code ini sangat terasa saat melawan musuh tertentu, sehingga strategimu dalam menentukan Blood Code yang tepat (plus melengkapi Blood Code rekan AI-mu) sangat penting untuk memenangkan pertarungan. 

Salah satu kombinasi Blood Code yang jadi favorit penulis di awal-awal permainan adalah Blood Code fighter yang dipadu dengan Blood Bode astrea milik Mia. Karena Mia memiliki serangan jarak jauh, maka kamu bisa menunggunya menyerang musuh dari jauh sebelum mendaratkan serangan bertubi-tubi dari jarak dekat.

Selain strategi dalam menentukan Blood Code yang cocok, kamu juga dituntut untuk memiliki senjata dan armor (Blood Veil) yang bisa digunakan untuk Blood Code yang kamu pilih. Jadi kamu tidak bisa secara "dadakan" untuk berganti Blood Code sekalipun kamu bisa melakukannya kapan saja selama permainan.

4. Rekan AI yang sangat membantu

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, Menyiksa Seperti Dark Souls!dok. Bandai Namco

Seperti yang sudah saya sebutkan di awal, kamu akan ditemani oleh AI dalam petualanganmu. Beruntung di tengah "menyiksanya" dunia Code Vein, rekan AI-mu sangat bisa diandalkan dalam game ini. Mereka bisa saja memberikan serangan pembuka yang bisa membuat musuh dalam kondisi stagger, sehingga bisa kamu habisi dengan beberapa kali tebasan. Penulis juga merasa AI-nya kali ini jauh lebih pintar dibandingkan versi demonya.

Game ini juga memungkinkanmu untuk memanggil temanmu dalam periode singkat jika kamu bermain secara online. Jujur, penulis masih belum sempat mencoba fitur ini tapi tentu saja, dibantu oleh teman yang sudah kita percaya kemampuannya akan jauh lebih "berguna" dalam permainan dibandingkan jika dibantu oleh AI.

Tapi tenang saja, meskipun tidak memiliki teman untuk membantu, dengan AI pun kamu bisa -setidaknya melalui beberapa boss awal dengan cukup mudah.

5. Perilaku musuh yang cukup mudah ditebak

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, Menyiksa Seperti Dark Souls!dok. Bandai Namco

Apa yang membuat tingkat kesulitan Code Vein lebih mudah dibandingkan Dark Souls adalah karena pergerakan musuh yang cukup mudah diprediksi. Sangat jarang ada musuh yang akan menghampirimu dengan cepat untuk menginisiasi pertarungan. Bahkan ada juga musuh yang baru akan menyerangmu jika mereka sudah terkena satu tebasan.

Sama halnya dengan boss. Kamu hanya butuh waktu beberapa saat saja untuk mempelajari pergerakannya sebelum bisa mulai menyerang dan menghabisinya. Atau yang gampang sih, kamu cukup melihat dulu bagaimana AI rekanmu melawannya (dengan konsekuensi dia akan tewas duluan, hehe) sebelum kamu mulai mengatur strategi untuk mengalahkannya.

6. Kustomisasi karakter yang sangat dalam

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, Menyiksa Seperti Dark Souls!dok. Bandai Namco

Jika kamu merasa cukup "lelah" dalam melawan musuh-musuh yang ada di game ini, cobalah untuk mengeksplorasi kustomisasi karakternya. Untuk sebuah game dengan tingkat kesulitan super seperti Code Vein, cukup terkejut juga melihat bagaimana Bandai Namco memberikan perhatian yang sangat besar terhadap fitur ini. Bahkan mereka juga sempat mengadakan kontes kustomisasi karakter di media sosial saat merilis demonya dulu.

Kamu bisa mengkustomisasi banyak hal, mulai dari wajah, ukuran tubuh, hingga aksesoris yang digunakan. Bahkan jika kamu cukup kreatif, kamu bisa mereplikasi karakter-karakter top dari game-game lain atau dari anime. Kapan lagi kan bertualang di dunia pasca kiamat dengan ditemani waifu atau husbando-mu?

7. Kesimpulan

Review Code Vein: Imut Seperti Anime, Menyiksa Seperti Dark Souls!dok. Bandai Namco

Sepertinya misi Bandai Namco untuk menjembatani penggemar anime dan gamer kasual dengan game-game hardcore lewat Code Vein ini bisa dibilang cukup berhasil. Game ini menghadirkan tingkat kesulitan yang tinggi, namun masih dalam tahap wajar sehingga tidak membuat gamer kasual melempar kontroler karena frustasi. 

Game ini juga menghadirkan nuansa dungeon crawler. Akan tetapi sayangnya, pertarungannya terkesan repetitif dan minim hal yang baru saat kamu masuk ke satu tempat yang sama untuk kedua kalinya. Kontrol juga terkesan sedikit kaku saat pertama kali memainkannya, dan butuh sedikit waktu untuk beradaptasi karena terkadang muncul delay antara penekanan tombol dengan aksi yang muncul di layar.

Akan tetapi bagi kamu para penggemar anime, kerasnya "kehidupan" di dunia Code Vein bakal terasa sedikit "tersegarkan" dengan kehadiran beberapa fan service yang ada. Yap, bukan hanya kamu bisa membuat karakter sesuai keinginanmu, akan tetapi beberapa NPC juga hadir memanjakan mata. Di saat dunia sudah kiamat, ternyata masih banyak juga orang-orang yang berpakaian minim di Code Vein...

Tidak pede main Dark Souls, Bloodborne, Sekiro atau semacamnya? Coba dulu main Code Vein!

Baca Juga: Review FIFA 20: Seperti Dua Game dalam Satu Paket!

Artikel terkait

Latest