Review Game House of Ashes, Judul Horor yang Menegangkan! 

Bagian dari Dark Pictures Anthology, seperti Man of Medan!

Review Game House of Ashes, Judul Horor yang Menegangkan! 

1. Cerita House of Ashes

Latar waktu game ini adalah 2003, di Irak.

Letnan Kolonel Nick King dengan teknologi satelitnya berhasil menemukan lokasi diduga persembunyian senjata pemusnah massal milik Saddam Hussein.

Dia, Rachel King - istrinya, serta beberapa anggota marinir Amerika berangkat ke lokasi tersebut.

Di sisi lain ada Salim, prajurit dari Garda Republik Irak. Yang Salim inginkan awalnya hanya merayakan ulang tahun anaknya, namun pergerakan dari militer Amerika membuat dia dipanggil bertugas lagi.

Orang-orang ini kemudian terlibat mimpi buruk yang akan menguji kemampuan mereka. Satu kesalahan keputusan bisa berakibat kematian, baik kematian orang lain atau bahkan mereka sendiri. 

House of Ashes ini adalah bagian dari Dark Pictures Anthology. Kamu mungkin sudah mendengar judul sebelumnya yaitu Man of Medan dan Little Hope.

Kalau kamu belum main game sebelumnya, apakah kamu bisa main game ini?

Jawabannya adalah ya. Cerita House of Ashes bisa dibilang berdiri sendiri. Saya menemukan referensi Little Hope di sini, tapi kamu tidak perlu memainkan game sebelumnya untuk bisa mengikuti ceritanya. 

Baca Juga: Bandai Namco Umumkan Akan Buat Patung Gundam Raksasa Lagi!

2. Multiplayer unik dari Dark Pictures Anthology ada di game ini

Multiplayer unik gaya Dark Pictures Anthology hadir lagi di House of Ashes

Kamu dapat memainkan House of Ashes sendirian atau bersama teman-teman kamu. 

Nah, untuk multiplayer, kamu bisa main offline dan online. Yang unik adalah kalau kamu main offline, kamu bahkan bisa hanya menggunakan satu controller.

Pertama-tama kamu bisa memilih pemain yang mana akan mengendalikan karakter mana. Lalu saat karakter tersebut dapat kesempatan beraksi dan mengambil keputusan, game akan memberi notifikasi giliran siapa sekarang, dan kamu bisa menyerahkan controller ke orang yang memilih atau ditunjuk mengendalikan tokoh tersebut.

Unik memang. 

Yah, kalau kamu main House of Ashes ini sendiri, bisa jadi lima karakter utama game ini akan mengambil keputusan sesuai dengan yang kamu inginkan.

Bila kamu menjalankan multiplayer dan memberi kebebasan total bagi para pemain untuk mengambil keputusan sesuai mau mereka, cerita yang tersaji bisa jadi lebih unik. Bayangkan kalau ada satu pemain yang ingin hasil terbaik tapi melakukan kesalahan saat quick time event. Ada ada pemain lain yang sengaja mengambil keputusan yang bikin konflik.

Dinamika seperti itu bisa membuat cerita lebih seru. 

3. Untuk gameplay sih ya sama seperti Dark Pictures Anthology lain

Saya sudah main Man of Medan dan Little Hope sebelum ini. 

Karenanya, saya sudah familier dengan gameplay House of Ashes.

Pada dasarnya, ada bagian eksplorasi dimana kamu bisa menggerakkan karakter untuk menjelajahi area tertentu.

Dalam kesempatan seperti itu, periksa baik-baik obyek yang bisa kamu temukan, karena siapa tahu kamu bisa menemukan petunjuk atau bahkan rahasia yang bisa berguna.

Untuk bagian aksi, nasib karaktermu biasanya ditentukan dengan quick time event.

Ada yang kamu harus menekan tombol dengan tepat sebelum waktu habis, dan jika tidak maka si karakter akan melakukan kesalahan.

Ada yang kamu harus mengarahkan target ke musuh dan menekan tombol sebelum waktu habis untuk menyerang.

Ada yang kamu harus menekan tombol mengikuti ritme detak jantung dan kalau kamu gagal maka karaktermu akan melakukan kesalahan yang bisa berujung mereka diserang.

Yang unik adalah ada beberapa bagian dimana hasilnya akan lebih baik jika kamu justru tidak menekan tombol. Biasanya ini adalah bagian dimana kamu berurusan dengan tokoh lain, bukan dengan makhluk berbahaya yang jadi ancaman kamu di sini.

Lalu dalam dialog, karaktermu akan diberi pilihan jawaban.

Pilihan jawaban ini kadang bisa menentukan bagaimana tokohmu itu bakal bersikap, dan bahkan bisa saja menentukan situasi hidup atau mati seseorang. 

Jadi ya, House of Ashes adalah jenis game dimana keberhasilan kamu dalam QTE, serta pilihan dialog dan aksi kamu, bisa menentukan siapa yang hidup dan siapa yang bakal terbunuh.

Yang jelas, kalau kamu tidak suka jenis gameplay ini dari Dark Pictures Anthology sebelumnya, maka House of Ashes tidak akan mengubah pikiranmu.

Kalau kamu tipe yang sudah familier, atau tidak keberatan dengan QTE, maka game ini siap untuk menghiburmu. 

4. Bagaimana kualitas ceritanya?

Man of Medan dan Little Hope memiliki jenis twist yang mirip. Saya sebenarnya mengira kalau House of Ashes juga akan punya twist begitu tapi ternyata game ini mengambil pendekatan beda untuk cerita.

Saya tidak bisa menjelaskan lebih jauh, tapi pemain Man of Medan dan Little Hope pasti tahu apa yang saya maksud jika memainkan game ini. 

Kalau misalnya Little Hope bisa dianggap sebagai horor psikologis yang mendekati cerita model Silent Hill, bagi saya House of Ashes ini malah lebih mirip survival horror ala film Predator.

Di film Predator, tokohnya adalah sejumlah prajurit terlatih bersenjata, yang menghadapi ancaman yang tak bisa diatasi dengan senjata mereka. Kurang lebih itu juga situasi yang dihadapi para prajurit Amerika dan Irak di game ini. 

Ini mungkin bikin horornya tidak senendang Man of Medan dan Little Hope. Meski begitu, ketegangannya tetap terasa. Terutama kalau kamu main game ini tanpa spoiler, jadi setiap keputusan bisa terasa dampaknya. 

Saya pribadi sih lebih suka pendekatan dan penjelasan horor di game ini ketimbang yang disajikan di Man of Medan dan Little Hope

Saran saya untuk menikmati cerita game ini sih: benar-benar mainkan tanpa spoiler. Untuk permainan pertamamu, gak usah incar golden ending. Biarkan saja kalau ada yang mati. 

Sensasi melihat siapa yang hidup atau mati dipengaruhi oleh keputusanmu, atau keberhasilan dan kegagalanmu dalam QTE, bisa bikin gejolak emosi unik. 

Lalu setelah kamu menyelesaikan satu kali, baru kamu mainkan lagi untuk melihat cerita yang berakhir lebih baik. 

5. Kalau soal visual versi PS4, kesan saya masih sama dengan Little Hope

Pertama-tama, versi yang saya mainkan ini versi PS4. Versi lain mungkin punya kualitas visual yang beda. 

Visual untuk House of Ashes ini... kualitasnya masih mirip-mirip dengan Little Hope.

Di sebagian adegan, kualitas visualnya bisa dibilang oke-oke saja.

Masalahnya selama saya main, termasuk di versi 1.03, saya menemukan masalah seperti visual game telat di-render di beberapa bagian.

Ada juga beberapa adegan yang seharusnya epik tapi terasa kocak karena efek visualnya terasa... murah?

Ada juga bagian ekspresi muka karakter yang kadang terasa kelewat kaku di beberapa adegan.

6. Kesimpulan?

Kalau kamu gak keberatan dengan gameplay yang sangat mengandalkan QTE, dan mencari game horor untuk kamu mainkan dalam mood Halloween, House of Ashes saya rasa lumayan.

Saya berikan game ini nilai 3,5/5. Game ini pada dasarnya masih memiliki gaya gameplay khas Man of Medan dan Little Hope, dan entah kenapa untuk PS4 masih memiliki masalah visual seperti Little Hope juga, tapi saya lebih suka pendekatan horor game ini ketimbang di dua game sebelumya.

Yang perlu kamu perhatikan juga, karena setiap keputusan kamu di game ini bisa berdampak besar, saya rekomendasikan game ini ke yang punya pemahaman bahasa Inggris baik. Karena kalau tidak, kamu bisa jadi tidak mengerti apa yang terjadi dan apa yang harus kamu lakukan.

Itu review saya soal House of Ashes. Gimana menurut kamu? Sampaikan di kolom komentar!

Baca Juga: Bandai Umumkan Proyek Gundam SEED Baru, Gundam SEED Eclipse!

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU