Papers, Please; Game Ironis yang Adiktif

Siap menjadi petugas imigrasi dalam game ini?

Papers, Please; Game Ironis yang Adiktif

Papers, Please adalah game indie yang dibuat hanya oleh satu orang, Lucas Pope. Mantan developer dari studio kenamaan, Naughty Dog ini menggunakan pengalamannya berurusan dengan petugas imigrasi untuk membuat game bertema itu. Seperti terlihat di screenshot, kualitas grafiknya terasa kuno. Efek suaranya juga terbatas. Bahkan gameplay-nya sendiri bisa terasa monoton. Meski begitu, game ini memiliki daya tarik yang bisa memaksamu untuk terus main.

Dalam Papers, Please kamu bekerja sebagai petugas imigrasi dari negeri fiktif Arstotzka. Dari nama negeri dan seragam petugasnya, terasa sekali nuansa opresif yang kuat dari negeri Eropa Timur saat Perang Dingin. Dan memang, di negara seperti itulah tokohmu tinggal. Setelah politik isolasi panjang, Arstotzka akhirnya membuka diri terhadap pendatang negara luar, dan kamulah yang bertanggung jawab untuk menyortir mereka, memastikan yang masuk hanya orang-orang dengan persyaratan lengkap, serta mengusir mereka yang tidak memenuhi persyaratan.

Karaktermu sendiri diceritakan sudah memiliki istri dan anak, serta tinggal bersama satu kerabat. Pekerjaan barumu memastikan mereka punya tempat tinggal. Masalahnya, gaji yang dibayarkan oleh pemerintah kepadamu pun sangat sedikit. Kamu dibayar per orang yang diurus di pos setiap harinya, dan gajimu bisa dipotong untuk setiap kesalahan yang kamu perbuat. Bila kamu bekerja seadanya, hasil yang kamu peroleh hanya akan pas untuk menghidupi mereka, tak menyisakan sepeser uang pun untuk tabunganmu di masa depan.

Papers, Please; Game Ironis yang Adiktif

Semakin hari, semakin kamu akan dihadapkan pada dilema moral yang sulit. Bila pada hari-hari awal orang-orang yang ingin masuk bisa kamu usir dan tolak tanpa masalah, tergantung kualifikasi mereka, tak lama kamu akan menemukan orang yang melarikan diri bersama istrinya untuk mencari keselamatan, orang yang membutuhkan pengobatan yang ada di negerimu, dan lain-lain. Apa kamu akan mengizinkan mereka masuk, dengan risiko keluargamu bisa tidak dapat makan maupun penghangat di tengah musim dingin? Atau kamu akan tetap membantu mereka?

Gameplay Papers, Please sendiri sangat sederhana. Kamu diberi manual mengenai kualifikasi yang dibutuhkan oleh setiap calon imigran, dan kamu harus memastikan surat-surat mereka lengkap. Awalnya sih yang dibutuhkan mungkin hanya KTP, untuk penduduk asli, atau paspor untuk pendatang. Kamu hanya tinggal memastikan nama, kelamin, tinggi badan, dan foto orang-orang ini sesuai dengan surat-surat mereka. Tapi lambat laun, seiring dengan mulai munculnya teroris, penyelundup, dan orang-orang berbahaya lain, daftar kualifikasi ini kian panjang hingga mejamu bisa penuh surat-surat hanya karena mengurus satu orang.

Walau premisnya terlihat sederhana, eksekusi premis tersebut di game terasa baik sekali. Kamu akan menemukan sejumlah pengunjung dengan berbagai sifat, mulai dari menyebalkan hingga simpatik. Bukan tidak mungkin kamu akan merasa terikat dengan beberapa dari mereka. Lucunya, kamu pun bisa merasa terikat dengan keluargamu, yang bahkan hanya dicantumkan sebagai nama, tanpa foto maupun profil penampilan. Awalnya kamu mungkin hanya akan mempertahankan hidup mereka karena bisa game over jika kamu membiarkan mereka semua mati. Tapi lambat laun kamu bisa begitu peduli terhadap mereka, hingga tak heran kalau kamu selalu mengalokasikan dana untuk memastikan keluargamu tetap nyaman dan tidak sakit.

Bagian menemukan kesalahan di paspor dan KTP pelintas imigrasi pun mengasyikkan. Untuk mendapatkan ending terbaik kamu akan tertantang untuk meloloskan sebanyak mungkin orang, secepat mungkin, tapi juga dengan teliti. Lambat laun bagian gameplay ini pun akan terasa semakin mengasyikkan dengan tambahan X-Ray scanner, voice recorder, hingga senjata api yang bisa kamu keluarkan bila terjadi situasi gawat. Kamu kira orang yang ingin melintasi posmu adalah cowok hanya karena dia berjanggut? Coba tes X-Ray. Jangan kaget kalau ternyata “cowok” itu punya buah dada, sehingga kelaminnya sesuai dengan yang tercantum di paspor.

Papers, Please; Game Ironis yang Adiktif

Untuk replayability juga game ini sangat baik. Mereka yang sudah terlanjur tidak suka dengan mekanik dan grafis mungkin tidak akan memainkan game ini lama-lama. Tapi mereka yang sudah terpincut bisa mengulang-ulang setiap level hanya untuk mendapatkan akhir yang terbaik dari setiap hari. Juga ada belasan ending yang menantimu, mulai dari yang buruk hingga yang terbaik, hingga pemain bisa terdorong untuk mengumpulkan semuanya. Dan begitu kamu memperoleh salah satu ending terbaik, kamu akan disuguhi pula dengan mode endless, di mana kamu akan terus dihadapi imigran tanpa batas waktu hingga kamu melakukan cukup banyak kesalahan.

Grafis dan suara yang terbatas pun tak akan terasa sebagai hambatan buat yang terpesona oleh mekanik dan atmosfer gamenya. Malah keterbatasan grafis dan efek suara ini membangkitkan nuansa opresif dan mencekam ala Perang Dingin yang tiada duanya dan tak akan kamu temukan di game lain.

Tertarik? Papers, Please bisa diunduh dari layanan [outbound_link text="http://store.steampowered.com/app/239030/" link="Steam"]. Harganya pun murah, tak sampai seratus ribu. Jadi, siap untuk menjadi petugas imigrasi?

Artikel terkait

ARTIKEL TERBARU