Review Peaky Blinders The Immortal Man, Akhir Sunyi Shelby

- Film Peaky Blinders: The Immortal Man melanjutkan kisah Thomas Shelby di era Perang Dunia II, saat ia kembali ke Birmingham untuk menghadapi ancaman Nazi dan masa lalunya sendiri.
- Cerita berfokus pada tema warisan dan konsekuensi hidup Tommy, menampilkan sisi personal serta hubungan keluarga yang terdampak oleh keputusan-keputusan masa lalunya.
- Dengan nuansa visual khas namun lebih tenang, film ini menonjolkan akting emosional Cillian Murphy yang menggambarkan Thomas Shelby sebagai sosok lelah dan reflektif.
Setelah perjalanan panjang dari serial Peaky Blinders, kisah Thomas Shelby akhirnya berlanjut dalam format film lewat The Immortal Man.
Dengan latar perang dan ancaman yang lebih besar, film ini terasa seperti klimaks dari semuanya. Tapi alih-alih hanya fokus pada konflik besar, cerita justru mengarah ke sesuatu yang lebih personal: warisan, trauma, dan konsekuensi hidup Tommy.
Tapi apakah film ini benar-benar jadi penutup yang memuaskan untuk kisah Thomas Shelby?
Table of Content
Sinopsis Peaky Blinders: The Immortal Man
Peaky Blinders: The Immortal Man mengikuti lanjutan kisah Thomas Shelby setelah serial Peaky Blinders berakhir. Film ini mengambil latar Birmingham pada tahun 1940, saat Perang Dunia II sedang berlangsung dan Inggris berada dalam tekanan besar.
Thomas Shelby yang awalnya hidup dalam pengasingan dipaksa kembali ke kota yang dulu ia tinggalkan setelah putranya, Duke, terlibat dalam rencana berbahaya yang berkaitan dengan konspirasi Nazi.
Tommy harus menghadapi masa lalunya sekaligus menyelamatkan keluarga dan negara dari ancaman yang semakin memburuk.
1. Skala Cerita Lebih Besar, Tapi Lebih Personal

Di atas kertas, Peaky Blinders: The Immortal Man memang terasa seperti bakal jadi cerita yang lebih besar. Latar perang bikin konfliknya nggak lagi cuma soal geng di Birmingham, tapi sudah menyentuh hal yang lebih luas dan berbahaya.
Tapi menariknya, film ini nggak terlalu fokus ke situ.
Ceritanya justru lebih banyak ngulik sisi personal Thomas Shelby, mulai dari masa lalu, trauma, sampai hubungan dengan keluarganya, terutama generasi berikutnya yang ikut terdampak dari keputusan-keputusan dia.
Hasilnya jadi agak beda dari yang dibayangkan. Skalanya memang lebih besar, tapi yang terasa justru emosinya lebih dekat dan lebih personal.
2. Cerita tentang Warisan, Bukan Sekadar Kelanjutan

Film ini terasa bukan cuma lanjutan cerita, tapi lebih ke penutup yang membahas soal “warisan”.
Bukan lagi soal bagaimana Thomas Shelby membangun kekuasaan, tapi apa yang ia tinggalkan setelah semua yang terjadi.
Di sini, Tommy juga sudah kelihatan jauh lebih capek. Ia kembali bukan buat memperluas bisnis atau cari kekuasaan lagi, tapi lebih ke membereskan sisa masalah yang belum selesai.
Dari situ mulai kelihatan kalau nggak semua yang ia bangun berakhir baik. Dampaknya kena ke orang-orang terdekatnya. Banyak yang sudah nggak ada, dan yang tersisa harus nanggung akibatnya.
Di sisi lain, Duke sebagai generasi selanjutnya nunjukin kalau apa yang sudah dibangun Thomas Shelby nggak akan benar-benar berhenti. Mau itu berujung baik atau justru makin merusak, semuanya masih akan terus berlanjut.
Pada akhirnya, film ini terasa seperti membawa Tommy ke titik di mana ia tidak lagi mengejar kekuasaan, tapi mencoba mencari sedikit ketenangan dari semua yang sudah terjadi.
3. Tommy Shelby yang Semakin Dihantui Masa Lalu

Thomas Shelby nggak lagi digambarkan sebagai sosok yang selalu memegang kendali.
Justru, ia digambarkan semakin dihantui oleh masa lalunya sendiri.
Keputusan-keputusan yang dulu ia ambil, baik dalam bisnis, politik, maupun keluarga, mulai nunjukkin akibatnya. Trauma perang yang selama ini hanya tersirat, kini terasa lebih nyata dan membebani.
Film ini juga memperlihatkan bagaimana bayang-bayang orang-orang yang pernah hadir dalam hidup Tommy masih “tinggal” bersamanya. Bukan secara fisik, tapi lewat rasa bersalah, penyesalan, dan hal-hal yang nggak sempat ia perbaiki.
Di titik ini, Tommy bukan lagi sekadar pemimpin yang dingin dan penuh perhitungan. Ia terasa lebih manusia yang rapuh, lelah, dan seperti terjebak dalam konsekuensi dari hidup yang ia pilih sendiri.
Dan mungkin, di situlah makna “immortal” dalam cerita ini terasa, bukan tentang hidup selamanya, tapi tentang masa lalu yang nggak pernah benar-benar pergi.
4. Tidak Se-Explosive yang Diharapkan

Kalau dibandingkan dengan serial Peaky Blinders, film ini memang terasa nggak seintens yang mungkin dibayangkan penonton setianya.
Aksi besar dan konflik yang biasanya jadi daya tarik utama, justru nggak terlalu dominan di sini. Memang beberapa momen tetap ada, tapi nggak sampai terasa “meledak” seperti di season-season sebelumnya.
Sebagai gantinya, film ini lebih fokus pada pengembangan karakter dan emosi cerita.
Tempo yang lebih pelan membuat alurnya terasa lebih tenang, tapi juga bisa terasa kurang greget untuk sebagian penonton.
Pendekatan ini mungkin nggak akan cocok untuk semua orang, terutama yang berharap klimaks besar. Tapi di sisi lain, ini juga jadi cara film untuk menutup cerita dengan lebih reflektif.
5. Visual Masih Khas, Tapi Nuansanya Lebih Tenang

Secara visual, film ini masih terasa banget “Peaky Blinders”.
Ciri khas seperti tone gelap, pengambilan gambar yang stylish, dan suasana yang kuat tetap dipertahankan. Jadi buat yang sudah familiar dengan Peaky Blinders, pasti langsung terasa vibe-nya.
Bedanya, kali ini nuansanya nggak sekeras dulu.
Kalau di serial banyak adegan yang terasa intens dan penuh tekanan, di film ini justru lebih kalem. Banyak momen yang dibiarkan berjalan lebih pelan, memberi ruang buat suasana dan emosi terasa lebih dapet.
Ini juga sejalan dengan kondisi Thomas Shelby yang sudah nggak lagi berada di fase ambisiusnya.
6. Akting Cillian Murphy Tetap Jadi Pondasi

Performa Cillian Murphy masih jadi kekuatan utama film ini.
Seperti di serialnya, ia tetap berhasil membawakan Thomas Shelby dengan sangat kuat, bahkan tanpa banyak dialog. Banyak momen yang terasa “kena” justru dari ekspresi dan gestur kecil yang ia tampilkan.
Di film ini, sisi Tommy juga terasa lebih berat dan lelah, dan itu bisa tersampaikan dengan baik lewat aktingnya.
Bisa dibilang, kehadiran Cillian Murphy jadi salah satu alasan kenapa film ini tetap terasa kuat, meskipun ceritanya lebih tenang.
Kesimpulan

Meskipun The Immortal Man tidak sempurna dan beberapa bagian terasa kurang greget, film ini tetap berhasil menutup perjalanan Thomas Shelby dengan cara yang pas.
Tidak terlalu dramatis, tapi jujur menampilkan sisi lelah, reflektif, dan manusiawi dari karakter yang sudah kita kenal.
Walau ada kekurangan, film ini tetap terasa seperti penutup yang layak untuk kisah panjang Peaky Blinders, sekaligus memberi ruang bagi penonton untuk merasakan emosi dan konsekuensi dari semua yang pernah terjadi.
Saya memberi nilai 4,5 dari 5 bintang untuk film ini.
| Producer | Guy Heeley, Cillian Murphy, Steven Knight, dan Patrick Holland |
| Writer | Steven Knight |
| Age Rating | Crime, Drama, History. |
| Genre | 18+ |
| Duration | 112 Minutes Minutes |
| Release Date | 20-3-2026 |
| Theme | Kelangsungan hidup, warisan keluarga, dan intrik politik |
| Production House | Kudos dan Garrison Drama |
| Where to Watch | Netflix |
| Cast | Cillian Murphy, Rebecca Ferguson, Tim Roth, Barry Keoghan, Stephen Graham, Sophie Rundle, Packy Lee, Jay Lycurgo, Ned Dennehy, Ian Peck |


















