Screenshot Resident Evil (2026). (Dok. Constantin Pictures, Sony Pictures Releasing/Resident Evil (2026)
Jujur, posisi nomor satu ini memang agak tidak adil. Haha.
Resident Evil (2026) masih memiliki beberapa kelemahan, bahkan kalau kita membandingkannya dengan film-film Zach Cregger sebelumnya seperti Barbarian dan Weapons.
Bahkan ada pertanyaan yang jauh lebih besar: dengan pendekatannya yang sangat bebas terhadap lore, karakter, dan konsep Resident Evil, apakah film ini bisa disebut sebagai adaptasi game yang bagus meskipun filmnya sendiri solid?
Itu masih bisa diperdebatkan.
Namun, kalau yang kita nilai adalah filmnya sebagai sebuah pengalaman layar lebar, Resident Evil (2026) memiliki keunggulan teknis dan penyajian yang menurut saya melampaui judul-judul lain dalam daftar ini.
Visualnya jauh lebih meyakinkan. Desain makhluknya lebih berani. Atmosfer survival horror-nya lebih terasa. Penggunaan kamera bahkan beberapa kali terasa seperti menerjemahkan bahasa visual gameplay ke dalam film.
Dan yang paling menarik, film ini bisa melakukan semua itu tanpa sekadar menjadi adaptasi ulang dari game yang sudah kita kenal.
Zach Cregger mengambil dunia Resident Evil, kemudian memasukkannya ke dalam visinya sendiri.
Hasilnya memang tidak selalu sempurna. Bahkan sebagai penggemar Resident Evil, saya sendiri beberapa kali bertanya: “Ini film yang bagus... tapi apakah ini Resident Evil yang saya kenal?”
Namun, untuk saat ini, Resident Evil (2026) tetap menjadi film layar lebar Resident Evil yang paling saya nikmati.