Resident Evil (dok. Sony Pictures Releasing/Resident Evil)
Kemudian kita sampai pada versi Zach Cregger.
Cregger tidak datang dengan niat untuk membuat adaptasi Resident Evil yang sangat setia terhadap lore game. Ia membawa visi dan interpretasinya sendiri, bahkan sampai mengubah banyak aspek cerita, menyajikan karakter baru, serta konsep infeksi yang terasa beda.
Namun, di sinilah muncul sesuatu yang menarik.
Meski tidak terlalu loyal terhadap lore, film ini justru terasa lebih memahami bahasa survival horror dalam game.
Bryan bukan Leon, Chris, Jill, atau Claire. Ia hanyalah orang biasa yang tiba-tiba harus bertahan hidup di tengah situasi yang sama sekali tidak ia pahami.
Ia sering sendirian menghadapi monster. Peluru terbatas. Senjata berkembang secara bertahap. Bahkan kamera film beberapa kali menggunakan bahasa visual yang mengingatkan pada third-person dan first-person view dalam game.
Dan kalau bicara visual, Cregger dan timnya membawa Resident Evil ke level produksi horor Hollywood yang jauh lebih meyakinkan dibandingkan dua versi layar lebar sebelumnya. Raccoon City yang bersalju, desain makhluk yang grotesk, pencahayaan, hingga penggunaan suara membuat film ini terasa jauh lebih percaya diri sebagai film horor.
Namun, paradoksnya ada di sini.
Bagi penonton yang mencari adaptasi lore Resident Evil yang lebih loyal, film ini justru bisa menimbulkan pertanyaan: seberapa jauh sebuah film bisa mengubah dunia, karakter, dan konsep infeksinya sebelum kita mulai bertanya apakah ini masih terasa seperti Resident Evil?
Dan menurut saya, justru itulah hal paling menarik dari tiga versi film ini.
Seri Paul W.S. Anderson mengambil nama dan elemen Resident Evil, lalu mengubahnya menjadi film aksi bombastis.
Welcome to Raccoon City berusaha membawa game lebih dekat ke layar lebar, tetapi harus berkompromi dengan struktur cerita dan keterbatasan produksinya.
Sementara Zach Cregger mengambil kebebasan besar terhadap lore, tetapi justru berusaha menerjemahkan sensasi bermain Resident Evil ke dalam format film.
Tiga film, tiga pendekatan.
Dan mungkin itu yang membuat perjalanan Resident Evil di layar lebar cukup unik: tidak ada satu pun yang benar-benar terasa sama dengan yang lainnya.