Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Hedorah (dok.Toho/Godzilla Vs. Hedorah)
  • Godzilla punya banyak musuh klasik yang layak comeback, mulai dari Anguirus, Gigan, Mechagodzilla, hingga Destoroyah yang pernah memberikan perlawanan sengit.

  • Biollante dan Hedorah punya potensi cerita yang lebih dari sekadar pertarungan kaiju. Keduanya mengangkat konsekuensi ulah manusia, mulai dari eksperimen genetik hingga pencemaran lingkungan.

  • Takashi Yamazaki pernah tertarik membuat ulang Godzilla vs. Hedorah. Namun, belum ada konfirmasi bahwa Hedorah maupun monster lain dalam daftar ini akan kembali dalam film Godzilla berikutnya.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Musuh lama Godzilla yang dinantikan kembali menjadi topik menarik seiring penayangan Godzilla Minus Zero di bioskop Indonesia pada 4 November 2026.

Apalagi, sepanjang sejarahnya, sang Raja Monster sudah menghadapi puluhan kaiju dengan kemampuan dan penampilan yang gak kalah mengerikan.

Mulai dari monster yang lahir akibat pencemaran lingkungan, makhluk hasil eksperimen genetik, hingga robot raksasa yang dirancang khusus untuk membunuh Godzilla, semuanya pernah memberikan perlawanan sengit.

Nah, setelah melihat bagaimana Takashi Yamazaki menghidupkan kembali teror Godzilla melalui Minus One dan Minus Zero, rasanya menarik membayangkan bagaimana musuh klasik lainnya bisa tampil dengan efek visual modern.

Lantas, siapa saja monster legendaris yang paling layak kembali menghadapi Godzilla dalam film-film berikutnya? Berikut 10 pilihannya!

10. King Caesar, monster penjaga Okinawa yang pernah melawan Godzilla

King Caesar Godzilla Final Wars (dok. TOHO/Godzilla: Final Wars)

Pada film lama, Godzilla menghadapi monster yang terinspirasi oleh makhluk penjaga dalam mitologi Jepang. Ia adalah King Caesar, kaiju yang pertama kali muncul dalam Godzilla vs. Mechagodzilla (1974).

King Caesar terinspirasi dari Shisa, makhluk penjaga menyerupai singa yang sangat identik dengan budaya Okinawa. Monster ini memiliki kecepatan, kekuatan fisik, serta kemampuan memantulkan serangan energi tertentu menggunakan matanya.

Pada awalnya, King Caesar bukanlah musuh Godzilla. Keduanya justru bekerja sama menghadapi Mechagodzilla yang mengancam Bumi. Namun, dalam Godzilla: Final Wars (2004), King Caesar menjadi salah satu monster yang dikendalikan Xiliens untuk menyerang Godzilla bersama Anguirus dan Rodan.

Andai saja monster ini kembali, kemunculannya akan cukup menarik karena King Caesar menghadirkan konflik yang berhubungan dengan mitologi dan kepercayaan masyarakat Jepang.

9. Baragon, monster bawah tanah yang bisa menyerang secara mendadak

Baragon (dok. TOHO/Godzilla, Mothra and King Ghidorah: Giant Monsters All-Out Attack)

Baragon mungkin tidak sepopuler King Ghidorah atau Mechagodzilla. Namun, monster bertanduk ini memiliki kemampuan yang cocok untuk memperlihatkan pertarungan yang menegangkan.

Pertama kali diperkenalkan melalui Frankenstein vs. Baragon (1965), Baragon merupakan monster prasejarah berkaki empat yang mampu menggali tanah dan bergerak melalui terowongan bawah tanah.

Ia juga pernah menghadapi Godzilla dalam Godzilla, Mothra and King Ghidorah: Giant Monsters All-Out Attack (2001). Dalam film tersebut, Baragon menjadi salah satu monster penjaga Jepang yang berusaha menghentikan Godzilla.

Dengan kemampuannya yang bisa menggali tanah, Baragon bisa menyerang tanpa memberikan kesempatan kepada Godzilla untuk mempersiapkan atomic breath.

Jika kembali dalam film yang akan datang, Baragon bisa berpotensi menjadi ancaman yang lebih realistis daripada monster luar angkasa. Bayangkan saja, seekor kaiju muncul dari bawah permukiman, menghancurkan fondasi bangunan, lalu menghilang kembali ke dalam tanah.

8. Megalon, monster serangga yang memiliki bor raksasa

Megalon (dok. TOHO/Godzilla vs. Megalon)

Kalau berbicara tentang kaiju dengan desain unik dan persenjataan berbahaya, Megalon layak mendapat kesempatan kembali ke layar lebar.

Monster menyerupai kumbang ini pertama kali tampil dalam Godzilla vs. Megalon (1973). Ia merupakan pelindung bangsa Seatopia, peradaban bawah tanah yang mengirimnya ke permukaan untuk menyerang umat manusia.

Megalon memiliki dua lengan berbentuk bor raksasa yang dapat digunakan untuk menggali tanah maupun menyerang musuh secara langsung. Ia juga mampu terbang, melepaskan serangan listrik, dan menembakkan bom menyerupai napalm dari mulutnya.

Menariknya, Megalon sudah mendapatkan desain modern dalam film pendek Godzilla vs. Megalon (2023) karya Takuya Uenishi. Versi tersebut memperlihatkan monster yang jauh lebih lincah dan mengintimidasi dibandingkan penampilan lamanya.

Dengan visualisasi yang lebih modern dan kemampuan bergerak melalui udara maupun bawah tanah, Megalon berpotensi memberikan pertarungan yang lebih epik melawan Godzilla, terutama jika kembali melalui film layar lebar berdurasi penuh.

7. Rodan, monster terbang yang bisa menghancurkan kota

Rodan (dok. Legendary Pictures/Warner Bros./Godzilla: King of the Monsters)

Kalau Godzilla terkenal berkat kekuatan fisik dan atomic breath, Rodan justru mengandalkan kemampuan terbang untuk menciptakan kehancuran berskala besar.

Monster yang menyerupai Pteranodon ini pertama kali tampil dalam film solonya, Rodan (1956), sebelum menjadi salah satu karakter penting dalam waralaba Godzilla.

Fun fact-nya, Rodan tidak selalu menjadi musuh Godzilla. Keduanya pernah bertarung, tetapi juga beberapa kali bekerja sama menghadapi ancaman yang lebih besar.

Dalam Godzilla: King of the Monsters (2019), Rodan diperlihatkan sebagai Titan yang muncul dari gunung berapi. Kecepatan terbangnya bahkan mampu menghasilkan gelombang kejut yang menghancurkan berbagai bangunan di jalur penerbangannya.

Jika saja Rodan kembali dalam film Godzilla produksi TOHO, pertarungannya berpotensi jauh lebih brutal dan menegangkan. Godzilla harus menghadapi musuh yang mampu menyerang dari udara, sementara manusia menghadapi ancaman tambahan berupa angin dahsyat yang mampu menghancurkan material di sekitarnya.

6. Anguirus, musuh pertama Godzilla yang kemudian menjadi sekutunya

Anguirus (dok. TOHO/Godzilla Raids Again)

Anguirus ini bisa dibilang memiliki hubungan paling bersejarah dengan Godzilla. Pasalnya, Anguirus merupakan kaiju pertama yang bertarung melawan Godzilla dalam Godzilla Raids Again (1955), sekuel langsung dari film Godzilla pertama.

Anguirus memiliki tubuh menyerupai Ankylosaurus dengan punggung yang dipenuhi duri tajam. Meskipun tidak mempunyai atomic breath, ia memiliki pertahanan fisik yang kuat dan kemampuan menyerang menggunakan tubuh berdurinya.

Menariknya, hubungan mereka kemudian berubah dalam berbagai film era Showa. Anguirus justru menjadi salah satu sekutu paling setia Godzilla ketika menghadapi monster lain.

Lantas, kenapa Anguirus layak kembali?

Selain faktor nostalgia, kemunculannya bisa menjadi cara menarik untuk memperlihatkan perubahan hubungan Godzilla dengan kaiju lain. Anguirus dapat diperkenalkan sebagai pesaing yang mempertahankan wilayahnya, bukan sekadar monster jahat yang ingin menghancurkan dunia.

Apalagi, jika digarap dengan cerita yang lebih serius, maka akan berpotensi membuat rivalitas awal mereka terasa jauh lebih brutal dibandingkan film tahun 1955.

5. Gigan, cyborg dengan senjata yang dirancang untuk membunuh

Gigan (dok. TOHO/Godzilla: Final Wars)

Gigan benar-benar anomali yang sangat radikal jika dibandingkan dengan monster bumi klasik seperti Anguirus atau Baragon. Alih-alih mempunyai tubuh menyerupai hewan kuno, Gigan tampil sebagai cyborg dengan berbagai senjata tajam yang terpasang langsung pada tubuhnya.

Pertama kali muncul dalam Godzilla vs. Gigan (1972), monster ini dikenal karena kedua lengan bersenjata, pengait, dan gergaji pada bagian perutnya. Bahkan, dalam film debutnya, Gigan mampu melukai Godzilla hingga berdarah. Sesuatu yang cukup jarang diperlihatkan dalam pertarungan kaiju era tersebut.

Penampilannya kemudian semakin mengerikan di film Godzilla: Final Wars (2004). Gigan mendapatkan desain yang lebih modern dengan persenjataan yang terlihat jauh lebih mematikan. Berbeda dari monster yang bertarung menggunakan gigitan atau pukulan, Gigan dapat memotong tubuh lawannya menggunakan senjata mekanis.

Ada satu hal yang membuat Gigan berbeda dari monster lainnya, yaitu asal-usulnya yang berkaitan dengan teknologi alien. Karena itu, kemunculan Gigan bisa menjadi pintu masuk bagi cerita Godzilla yang lebih bernuansa fiksi ilmiah, terutama jika TOHO ingin kembali menghadirkan ancaman luar angkasa setelah beberapa film yang lebih berfokus pada konflik manusia dan Godzilla.

4. Mechagodzilla, senjata yang justru meniru kekuatan Godzilla

Mechagodzilla (dok. TOHO/Godzilla vs. Mechagodzilla)

Manusia sudah berkali-kali mencoba menghentikan Godzilla menggunakan berbagai persenjataan. Namun, bagaimana kalau senjata yang diciptakan justru memiliki bentuk dan kekuatan yang menyerupai monster tersebut?

Konsep itulah yang membuat Mechagodzilla menjadi salah satu musuh paling ikonik dalam sejarah Godzilla. Sejak debutnya pada 1974, Mechagodzilla memiliki berbagai versi dengan asal-usul berbeda. Ada robot buatan alien, senjata militer Jepang, hingga Kiryu yang menggunakan kerangka Godzilla pertama sebagai bagian dari konstruksinya.

Persenjataannya pun gak main-main, mulai dari rudal, sinar energi, hingga meriam berkekuatan besar yang dirancang untuk menandingi Godzilla. Bahkan, sutradara Takashi Yamazaki sudah pernah menghadirkan versi baru dari Mechagodzilla melalui atraksi Godzilla the Ride: Great Clash pada 2025.

Dalam atraksi tersebut, robot bernama KIJU type 0-G BREAKER diperlihatkan berhadapan langsung dengan Godzilla.

Namun, untuk menghadirkannya agar sejalan dengan cerita Minus One, TOHO perlu memberikan penjelasan mengenai perkembangan teknologi, mengingat film tersebut berlatar Jepang pascaperang.

Di luar persoalan itu, Mechagodzilla menawarkan konflik yang cukup relevan. Ketika manusia menciptakan monster mekanis untuk membunuh Godzilla, siapa yang menjamin senjata tersebut tidak menjadi ancaman baru? Pertanyaan semacam ini dapat membuat Mechagodzilla lebih dari sekadar robot raksasa yang dipersenjatai habis-habisan.

3. Destoroyah, monster yang lahir dari senjata pembunuh Godzilla

Destoroyah (dok. TOHO/Godzilla vs. Destoroyah)

Destoroyah mungkin menjadi salah satu musuh yang paling cocok jika TOHO ingin kembali mengangkat sisi horor dalam cerita Godzilla.

Monster ini pertama kali muncul dalam Godzilla vs. Destoroyah (1995), dengan asal-usul yang berkaitan langsung dengan Oxygen Destroyer.

Buat yang belum tahu, Oxygen Destroyer merupakan senjata yang digunakan untuk membunuh Godzilla dalam film pertamanya pada 1954. Sayangnya, penggunaan senjata tersebut ternyata membawa konsekuensi lain. Organisme laut purba mengalami perubahan hingga berkembang menjadi makhluk berbahaya yang kemudian dikenal sebagai Destoroyah.

Monster ini mampu berevolusi melalui berbagai bentuk, mulai dari makhluk kecil hingga kaiju raksasa dengan sayap dan tanduk yang mematikan. Destoroyah bahkan menjadi penyebab kematian Godzilla Junior, sebuah peristiwa yang membuat pertarungan terakhir Godzilla terasa semakin tragis.

Namun, alasan Destoroyah layak kembali bukan cuma karena kekuatannya.

Asal-usul monster ini memperlihatkan bagaimana upaya manusia memusnahkan suatu ancaman justru dapat menciptakan bencana baru. Tema tersebut sangat dekat dengan identitas Godzilla sebagai karakter yang lahir dari ketakutan terhadap dampak senjata pemusnah massal.

Jadi, daripada sekadar menghadirkan monster yang jauh lebih kuat, Destoroyah bisa membawa konflik moral tentang konsekuensi bagi manusia yang mencoba menyelesaikan masalah menggunakan senjata yang belum sepenuhnya mereka pahami.

2. Biollante, monster hasil eksperimen genetik yang punya kisah tragis

Biollante (dok. TOHO/Godzilla vs. Biollante)

Sekilas, Biollante mungkin terlihat seperti monster tanaman raksasa yang cocok menjadi lawan Godzilla. Namun, asal-usulnya ternyata jauh lebih tragis daripada penampilannya.

Dalam film Godzilla vs. Biollante (1989), ilmuwan bernama Dr. Shiragami melakukan eksperimen yang melibatkan sel Godzilla, tanaman mawar, dan materi genetik putrinya yang telah meninggal.

Eksperimen tersebut menghasilkan makhluk baru yang kemudian berkembang menjadi monster tanaman raksasa bernama Biollante.

Kemampuannya pun cukup mengerikan. Selain dapat beregenerasi, Biollante mampu menyerang menggunakan sulur tanaman, menyemburkan cairan asam, dan mencengkeram lawan dengan mulut raksasanya. Bahkan, ukuran tubuh Biollante dalam bentuk akhirnya jauh lebih besar daripada Godzilla.

Namun, justru kisah di balik penciptaannya yang membuat Biollante memiliki potensi besar untuk kembali.

Monster ini bukan sekadar hasil eksperimen yang gagal, melainkan juga berkaitan dengan seorang ayah yang sulit menerima kematian putrinya.

Bagi kamu yang menyukai cerita yang emosional, seperti film Godzilla Minus One, Biollante bisa menawarkan perpaduan antara drama keluarga, eksperimen ilmiah, dan konsekuensi ketika manusia mencoba melampaui batas kehidupan.

Dengan begitu, pertarungan Godzilla melawan Biollante tidak harus hanya berfokus pada siapa yang lebih kuat, tetapi juga menyangkut manusia yang menjadi awal terciptanya monster tersebut.

1. Hedorah, monster polusi yang pernah membuat Yamazaki tertarik

Hedorah (dok.Toho/Godzilla Vs. Hedorah)

Dari seluruh monster dalam daftar ini, Hedorah punya alasan yang cukup kuat untuk kembali mendapatkan perhatian.

Pasalnya, sutradara Godzilla Minus One dan Godzilla Minus Zero, Takashi Yamazaki, pernah mengungkapkan ketertarikannya untuk membuat ulang Godzilla vs. Hedorah dalam diskusi di New York Comic Con 2024.

Hedorah sendiri pertama kali muncul pada 1971 sebagai monster yang berkembang dengan menyerap limbah dan polusi lingkungan.

Berbeda dari kaiju pada umumnya, tubuh Hedorah dapat berubah bentuk. Ia mampu bergerak di air, merayap di daratan, hingga terbang sambil menyebarkan zat berbahaya. Bahkan, Godzilla cukup kesulitan menghadapinya karena serangan fisik biasa tidak selalu efektif terhadap tubuh Hedorah.

Namun, ada alasan lain kenapa monster ini terasa cocok diangkat kembali pada era modern.

Kalau Godzilla sejak awal memiliki hubungan erat dengan ketakutan terhadap radiasi dan senjata nuklir, Hedorah justru menggambarkan ancaman pencemaran lingkungan akibat aktivitas manusia.

Keduanya mewakili persoalan berbeda, tetapi sama-sama berkaitan dengan konsekuensi tindakan manusia terhadap alam.

Di tangan sutradara yang mampu menggabungkan drama manusia dan kehancuran berskala besar, Hedorah berpotensi menjadi monster yang menakutkan sekaligus menyampaikan kritik terhadap pencemaran lingkungan.

Meski Yamazaki pernah menyampaikan ketertarikannya, hal tersebut tentu bukan konfirmasi bahwa Hedorah akan muncul dalam proyek Godzilla berikutnya. Namun, dari sisi sejarah, kemampuan, dan relevansi ceritanya, Hedorah memang punya banyak alasan untuk dinantikan kembali.

Itulah sepuluh musuh lama Godzilla yang layak mendapatkan kesempatan kembali di layar lebar. Masing-masing memiliki keunggulan berbeda, mulai dari Anguirus yang punya sejarah panjang bersama Godzilla, Gigan dengan persenjataan brutalnya, hingga Biollante dan Hedorah yang membawa konflik akibat ulah manusia sendiri.

Kalau kamu diberi kesempatan memilih, kamu lebih ingin melihat Godzilla melawan monster klasik seperti Hedorah atau menghadapi ancaman teknologi seperti Mechagodzilla?

Untuk informasi yang lebih lengkap soal anime dan manga, film, game, serta gadget, yuk gabung komunitas Warga Duniaku lewat link berikut:

Discord: https://bit.ly/WargaDuniaku

Tele: https://t.me/WargaDuniaku

WA Channel: https://bit.ly/WAChannelDuniaku

Curated For You

Editorial Team

Related Article