(Dok. Sony Pictures/Resident Evil)
Dan mungkin inilah bagian paling menarik.
Kalau kamu mencari karakter game di Resident Evil (2026), jawabannya adalah tidak ada.
Kalau kamu mencari lore game secara langsung, jawabannya juga cukup rumit karena Cregger mengambil banyak kebebasan.
Namun kalau kamu mencari bahasa visual dan sensasi bermain game Resident Evil, justru kamu akan menemukan banyak hal.
Kamera beberapa kali terasa seperti menggunakan sudut pandang third-person yang identik dengan Resident Evil modern. Ada pula adegan yang menggunakan perspektif first-person ketika Bryan membidik senjatanya.
Transisi tertentu bahkan terasa seperti perpindahan dari cutscene ke gameplay.
Belum lagi elemen-elemen kecil seperti persediaan amunisi yang terbatas, pergantian senjata, pintu terkunci, First Aid Spray, hingga typewriter yang menjadi easter egg.
Jadi, pendekatan Cregger memang cukup unik.
Karakter game-nya tidak ada. Lore-nya juga mengambil pendekatan beda. Tapi bahasa game-nya justru terasa cukup kuat.
Itulah mengapa Resident Evil (2026) bisa terasa sangat berbeda dari dua film layar lebar sebelumnya, tetapi di saat yang sama masih memiliki beberapa momen yang membuat penggemar game berpikir:
“Oh, ini gue kenal.”
Bedanya, kali ini yang kamu kenali bukan Leon, Claire, atau Jill. Yang kamu kenali adalah cara sebuah game Resident Evil terasa ketika sedang dimainkan.