Jean Claude Van Damme Guile 1994. (Dok. Capcom/Street Fighter)
Menariknya, jika dibandingkan dengan Mortal Kombat, Street Fighter sebenarnya punya budget lebih besar.
Mortal Kombat diproduksi dengan sekitar 20 juta dolar, sementara Street Fighter mencapai 35 juta dolar.
Tapi hasil akhirnya terasa jomplang. Mortal Kombat tampak lebih fokus, lebih “kena” sebagai adaptasi game, dan lebih rapi dalam adegan aksinya. Kenapa bisa begitu?
Salah satu jawabannya: porsi besar budget Street Fighter langsung habis untuk dua aktor utama.
Yang pertama tentu saja Jean-Claude Van Damme. Di awal 90-an, Van Damme adalah aktor laga terbesar di dunia, ikon box office yang mahal, tapi dianggap krusial untuk menarik penonton global.
Yang kedua adalah Raul Julia. Aktor kelas teater dan film bergengsi, dengan rekam jejak luar biasa. Meski ia mau bergabung karena anak-anaknya penggemar Street Fighter, honor untuk aktor dengan kaliber seperti Julia tentu tidak murah.
Steven E. de Souza sendiri mengakui masalah ini dalam wawancara dengan The Guardian:
“Sekarang kami punya beberapa bintang besar dalam cast, tapi lebih sedikit uang untuk benar-benar membuat filmnya.”
Dampaknya terasa langsung ke produksi.
Banyak aktor lain akhirnya harus diisi oleh nama-nama baru. Bukan karena pilihan kreatif, melainkan karena keterbatasan dana. Lebih parah lagi, tim produksi tidak mampu mendatangkan seluruh pemain lebih awal untuk latihan tarung bersama.
Solusinya? Pendekatan yang terpaksa:
adegan dialog disyuting lebih dulu,
sementara aktor lain bergantian latihan koreografi tarung,
yang membuat banyak adegan aksi terasa tidak terintegrasi dan minim chemistry.
Jadi meskipun Street Fighter punya budget lebih besar di atas kertas, uangnya tidak bekerja seefektif Mortal Kombat. Terlalu banyak tersedot di depan, terlalu sedikit tersisa untuk fondasi yang seharusnya paling penting dalam film adaptasi game fighting: aksi dan persiapan.