adegan dalam film Clayface (dok. Warner Bros. Pictures/Clayface)
Ada satu ironi yang menghubungkan geng Markos Szabo dan Rupert Thorne: keduanya menciptakan masalah yang akhirnya menghancurkan mereka sendiri.
Szabo dan anak buahnya merusak wajah Matt Hagen, tetapi tindakan itu menjadi bagian dari rangkaian kejadian yang melahirkan Clayface.
Sementara itu, Thorne membunuh keluarga Alex Sartorius dan melemparkannya ke ruang radiasi, hingga sang ilmuwan berubah menjadi Doctor Phosphorus.
Keduanya sama-sama berhadapan dengan korban yang memperoleh kekuatan luar biasa, lalu harus menanggung konsekuensi dari tindakan mereka sendiri.
Tentu saja, nasib kedua korban tersebut berbeda. Hagen akhirnya menjadi pelaku kekerasan yang juga membunuh orang di luar lingkaran musuhnya, sedangkan Phosphorus membangun kekuasaan kriminalnya sendiri sebelum akhirnya dihentikan Batman.
Namun, benang merahnya tetap menarik: dunia kriminal Gotham bukan hanya menghasilkan korban, tetapi juga bisa menciptakan ancaman yang jauh lebih mengerikan daripada para gangster itu sendiri.
Dan jika melihat keberadaan Clayface serta Doctor Phosphorus, bukan tidak mungkin Gotham dalam DCU akan terasa jauh lebih fantastis daripada versi yang pernah kita lihat dalam film-film Batman garapan Christopher Nolan maupun Matt Reeves.
Kota ini bukan hanya dipenuhi mafia, polisi korup, dan kejahatan jalanan. Di balik dunia kriminalnya, ada pula monster dengan tubuh yang bisa berubah bentuk dan manusia radioaktif yang mampu menghancurkan sebuah organisasi mafia.
Jadi, ketika Batman akhirnya mendapatkan film solonya di DCU, menarik untuk melihat seberapa jauh dunia kriminal Gotham telah berkembang.
Sebab, jika tiga organisasi kriminal saja sudah tumbang sebelum film solo Batman hadir, tampaknya sang Ksatria Kegelapan akan mewarisi kota dengan masalah yang jauh lebih rumit daripada sekadar gangster bersenjata.