Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel Duniaku lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Jadwal Bioskop Trans TV 30 Oktober - 5 November, Ada Film Joker (2019) (dok. imdb)
  • Film dan serial musuh Batman lebih sering mempertahankan karakter utamanya sebagai villain, bukan mengubahnya menjadi antihero.

  • Kisah seperti Joker, The Penguin, dan Clayface berfokus pada tragedi serta perkembangan karakter, bukan sekadar membangun dunia lebih besar.

  • Beberapa film musuh Batman memakai klimaks yang tidak bergantung pada pertarungan superhero konvensional.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
2019

Joker dirilis dengan kisah yang tidak berpusat pada konfrontasi fisik antara Joker dan antagonis berkekuatan super. Puncak ceritanya berfokus pada konsekuensi psikologis dan sosial perjalanan Arthur Fleck.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Perbandingan membahas alasan film dan serial tentang musuh Batman terasa lebih berhasil daripada film tentang musuh Spider-Man.
  • Who?
    Karakter seperti Joker, Oz Cobb, Matt Hagen, Harley Quinn, Venom, Morbius, dan Kraven the Hunter menjadi contoh pembahasan.
  • Where?
    Kisah-kisah yang dibahas berlatar atau berkaitan dengan Gotham serta dunia karakter Spider-Man dari Sony Pictures.
  • When?
    Film dan serial yang dibahas mencakup karya-karya yang dirilis hingga saat ini, termasuk Joker (2019).
  • Why?
    Film musuh Batman dinilai lebih berhasil karena mempertahankan karakter sebagai villain, berfokus pada tragedi, dan tidak selalu memakai formula pertarungan superhero.
  • How?
    Pendekatan tersebut ditampilkan melalui perkembangan karakter, kisah yang lebih utuh, serta klimaks yang menekankan konsekuensi psikologis dan sosial.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Film tentang musuh Batman seperti Joker, Penguin, dan Clayface menunjukkan orang-orang yang punya hidup susah, tetapi akhirnya menjadi penjahat. Ceritanya lebih banyak tentang kesedihan dan perubahan mereka. Film musuh Spider-Man sering membuat penjahat menjadi pahlawan baik. Sekarang, perbandingan ini membahas kenapa cerita musuh Batman terasa lebih disukai.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Pendekatan yang berfokus pada tragedi dan perkembangan karakter memberi ruang bagi film tentang villain untuk menghadirkan kisah yang lebih utuh. Karakter tetap dapat dipahami sisi manusiawinya tanpa menghapus kekejaman mereka. Dengan tidak selalu mengandalkan pertarungan besar atau persiapan crossover, cerita memiliki kesempatan mengeksplorasi potensi individual setiap karakter.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Sejauh ini, sudah ada beberapa film dan serial yang berfokus pada musuh Batman dan berhasil menarik perhatian penonton. Ada Joker (2019), serial The Penguin dari HBO, hingga Clayface, yang menjadi salah satu proyek DC Universe pertama dengan fokus pada seorang villain.

Performa Clayface sendiri cukup menjanjikan. Film ini telah meraih pendapatan global sebesar US$82.964.252, dengan estimasi anggaran produksi sekitar US$30–44 juta.

Tentu saja, tidak semua proyek tersebut sukses. Joker: Folie à Deux justru menjadi bahan meme, sementara Birds of Prey (and the Fantabulous Emancipation of One Harley Quinn) juga dianggap kurang memenuhi ekspektasi komersial.

Namun, jika dibandingkan dengan film-film yang berfokus pada musuh Spider-Man, pendekatan DC terasa lebih sering menghasilkan cerita yang mendapat sambutan positif. Trilogi Venom relatif sukses secara komersial, tetapi Morbius dan Kraven the Hunter mengecewakan, baik dari sisi respons kritikus maupun pendapatan box office.

Jadi, apa yang membuat film dan serial tentang musuh Batman terasa lebih berhasil? Ini beberapa hal yang menarik perhatian saya!

1. Film atau serial musuh Batman tidak lupa bahwa mereka adalah villain

cuplikan film Joker (2019) (dok.Warner Bros studios/Joker 2019)

Salah satu hal yang menarik dari film dan serial DC yang menyorot musuh Batman adalah bagaimana cerita-cerita tersebut tidak melupakan fakta bahwa protagonisnya adalah villain.

Biasanya, penonton diajak melihat sisi manusiawi dan tragis dari karakter seperti Arthur Fleck, Oz Cobb, atau Matt Hagen. Mereka punya latar belakang yang membuat kita bersimpati, bahkan mungkin mendukung mereka pada awal cerita.

Namun, alih-alih berkembang menjadi antihero, ketiganya justru melalui perjalanan yang memperlihatkan bagaimana mereka sepenuhnya menjadi penjahat.

Arthur Fleck memang merupakan korban dari lingkungan dan sistem yang mengabaikannya, tetapi penderitaannya tidak menghapus kekejaman yang akhirnya ia lakukan.

Oz Cobb awalnya terlihat seperti gangster kelas bawah yang berusaha mendapatkan tempat di dunia kriminal Gotham. Namun, semakin jauh ceritanya berjalan, semakin jelas bahwa ia adalah sosok manipulatif dan kejam.

Sementara itu, Matt Hagen dalam Clayface adalah aktor yang kehilangan wajah, karier, dan kehidupannya. Kita bisa memahami penderitaannya, tetapi filmnya juga memperlihatkan bagaimana ia berulang kali memilih jalan yang semakin gelap.

Menariknya, Birds of Prey juga punya kasus tersendiri. Harley Quinn tetap diperlihatkan sebagai sosok yang brutal, impulsif, dan punya kecenderungan sosiopatik. Hanya saja, ada persoalan tonal: berbeda dari Joker, Penguin, atau Clayface, Harley diposisikan sebagai protagonis yang seharusnya kita dukung.

Sementara itu, film seperti Kraven the Hunter, Morbius, dan bahkan Venom cenderung mengarahkan karakter yang berasal dari galeri villain Spider-Man menjadi antihero.

Mereka memang punya sisi gelap, tetapi cerita biasanya memberi mereka ancaman yang lebih jahat untuk dilawan, sehingga penonton tetap punya alasan untuk mendukung protagonisnya.

2. Film musuh Batman umumnya fokus pada tragedi, bukan membangun dunia yang lebih besar

adegan dalam serial The Penguin. (dok. HBO/The Penguin)

Ini salah satu perbedaan yang paling menarik perhatian saya.

Kisah Joker memperlihatkan perjalanan Arthur Fleck dari titik terendah dalam hidupnya hingga menjadi ikon kelam yang menginspirasi kekacauan di Gotham.

The Penguin awalnya memikat kita dengan sosok Oz Cobb yang terlihat seperti gangster underdog. Namun, seiring cerita berjalan, kita justru semakin menyadari betapa mengerikannya sosok yang sedang kita ikuti.

Lalu ada Matt Hagen dalam Clayface, yang kisahnya berfokus pada seorang aktor yang kehidupannya hancur. Ia sebenarnya mendapatkan kesempatan untuk kembali membangun hidupnya, tetapi justru terus jatuh semakin dalam.

Ketiga cerita ini memiliki satu kesamaan: fokus utamanya adalah tragedi dan perkembangan karakter masing-masing.

Dunia Gotham memang penting, tetapi fungsinya adalah menjadi latar yang membentuk perjalanan para protagonis. Cerita mereka tidak harus menjadi fondasi untuk sebuah pertemuan besar atau crossover berikutnya.

Sementara itu, film-film musuh Spider-Man dari Sony Pictures sering terasa memiliki ambisi untuk membangun sesuatu yang lebih besar.

Kraven the Hunter dan Morbius terasa seperti bagian dari upaya memperluas dunia karakter yang berhubungan dengan Spider-Man. Bahkan di luar film para villain, Madame Web juga membawa berbagai elemen yang seolah-olah sedang mempersiapkan sesuatu di masa depan.

Venom memang lebih berhasil mengembangkan Eddie Brock dan symbiote-nya sebagai karakter utama, tetapi triloginya juga memperlihatkan bagaimana kisah tersebut terus berkembang menjadi sebuah franchise.

Membangun dunia yang lebih besar tentu bukan hal yang salah. Namun, terkadang penonton bisa merasakan bahwa film-film tersebut lebih sibuk menyiapkan kemungkinan cerita berikutnya daripada memaksimalkan kisah yang sedang mereka tonton.

Hasilnya, ketika film tentang penjahat Batman berakhir, kita umumnya mendapatkan kisah yang utuh mengenai tragedi karakter tersebut.

Sebaliknya, ketika film tentang musuh Spider-Man produksi Sony Pictures selesai, kita terkadang justru bertanya: "Lalu ini mau dilanjutkan ke mana?"

3. Film musuh Batman tidak selalu menggunakan formula babak ketiga film superhero

still cut film Clayface (dok. DC Studios)

Salah satu pola yang cukup umum dalam film superhero adalah babak ketiga yang mempertemukan protagonis dengan antagonis dalam pertarungan besar. Terutama ketika kedua karakter memiliki kekuatan super, konflik akhirnya sering diwujudkan melalui adu kemampuan atau superpower clash.

Namun, menariknya, Clayface dan Joker (2019) tidak terlalu bergantung pada pendekatan tersebut.

Clayface memang punya adegan di Kelab Vesuvius ketika Matt Hagen menghancurkan anggota geng Szabo. Namun, adegan tersebut lebih terasa seperti momen horor ketika para anggota geng menjadi korban monster yang tidak mampu mereka lawan.

Dan yang menarik, filmnya tidak berhenti setelah itu.

Cerita berlanjut dengan Matt membunuh John Borrelli dan kemudian menemui Dr. Caitlyn Corr. Peristiwa-peristiwa tersebut memastikan bahwa Matt Hagen tidak sekadar menjadi korban yang membalas dendam, atau antihero yang melawan penjahat lain. Ia benar-benar sedang berkembang menjadi villain.

Begitu pula dengan Joker (2019). Babak ketiganya tidak berpusat pada konfrontasi fisik antara Joker dan seorang antagonis dengan kekuatan super.

Penembakan Murray Franklin dan dampaknya terhadap masyarakat Gotham justru menjadi puncak cerita. Konfliknya lebih berfokus pada konsekuensi psikologis dan sosial dari perjalanan Arthur Fleck.

Sementara itu, film-film tentang musuh Spider-Man produksi Sony cenderung masih menggunakan struktur film superhero yang lebih konvensional. Protagonis biasanya harus menghadapi antagonis utama dalam pertarungan besar sebagai klimaks cerita.

Sekali lagi, formula tersebut tidak otomatis buruk. Namun, ketika hampir semua karakter yang berasal dari galeri villain Spider-Man diarahkan ke struktur serupa, potensi cerita individual mereka terasa kurang dieksplorasi.

Padahal, karakter seperti Kraven atau Morbius sebenarnya punya potensi untuk menjadi protagonis dalam thriller psikologis, horor, atau drama kriminal yang tidak harus berakhir dengan pertarungan superhero konvensional.

Curated For You

Editorial Team

Related Article