Sanji kecil menangis ( Dok. funimation.com/One Piece )
Saya rasa, masa lalu Zoro dan Sanji membantu kita memahami mengapa mereka mengembangkan cara pandang yang berbeda terhadap pengorbanan diri.
Zoro tumbuh dengan ambisi untuk mengalahkan Kuina dan menjadi pendekar pedang terhebat. Ketika Kuina meninggal, ia membawa Wado Ichimonji, pedang milik sahabat sekaligus rivalnya itu, dan berjanji akan mewujudkan impian mereka.
Sejak saat itu, ambisi Zoro bukan lagi sekadar soal membuktikan kekuatannya sendiri. Ada janji yang ingin ia tepati dan seseorang yang ingin ia wakili.
Ketika ia memutuskan mendukung Luffy, Zoro pun memiliki tujuan lain yang ia pilih secara sadar: membantu kaptennya mencapai puncak dunia bajak laut.
Dengan kata lain, Zoro punya sesuatu yang terus ia perjuangkan. Pengorbanan dirinya menjadi bagian dari perjalanan untuk mencapai tujuan tersebut, bukan tujuan itu sendiri.
Sanji memiliki latar belakang yang jauh lebih rumit.
Ia tumbuh dalam keluarga Vinsmoke yang menganggapnya gagal dan memperlakukannya sebagai sampah. Sanji bahkan harus menghadapi kekerasan serta penghinaan dari saudara-saudaranya sendiri.
Kemudian, Zeff hadir sebagai sosok yang menyelamatkan hidupnya dan memberinya kesempatan untuk terus mengejar impian menjadi koki. Sanji tidak hanya berutang nyawa kepada Zeff, tetapi juga memandangnya sebagai figur ayah yang sangat berarti.
Dua pengalaman tersebut mungkin ikut membentuk kecenderungan Sanji untuk mengorbankan dirinya sendiri.
Di satu sisi, ia pernah tumbuh dalam lingkungan yang membuatnya merasa tidak berharga. Di sisi lain, ia menerima kebaikan luar biasa dari seseorang yang rela mempertaruhkan segalanya demi dirinya.
Bukan tidak mungkin, kombinasi pengalaman tersebut membuat Sanji terbiasa memikirkan keselamatan orang lain sebelum memikirkan keselamatannya sendiri.
Tentu saja, ini merupakan interpretasi terhadap perkembangan karakternya, bukan penjelasan yang sudah dikonfirmasi secara eksplisit oleh Oda.
Namun, ada satu detail yang membuat interpretasi tersebut semakin menarik: kecenderungan Sanji mengorbankan diri ternyata sudah terlihat sejak Baratie.
Ketika Pearl memukulinya, Sanji tetap bertahan karena tidak ingin Zeff yang berada dalam ancaman Gin menjadi korban. Saat itu, Luffy bahkan menegurnya dengan mengatakan bahwa mati bukanlah cara untuk membalas budi.
Teguran tersebut kembali mendapat sorotan dalam kilas balik bab 1195.
Artinya, pola ini bukan sesuatu yang mendadak muncul ketika Sanji menghadapi konflik keluarga Vinsmoke di Whole Cake Island. Benihnya sudah ada sejak awal cerita.
Yang lebih menarik, teguran Luffy di Baratie ternyata belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan tersebut. Setelah dua tahun berlatih dan berlayar bersama kru Topi Jerami, Sanji masih bisa mengambil keputusan yang sama ketika merasa orang-orang yang ia sayangi berada dalam bahaya.
Ia masih rela mengorbankan dirinya, bahkan sampai menganggap kematiannya bisa menjadi solusi.