"Saya menciptakan NARUTO karena secara pribadi saya ingin melihat kelanjutan dari NINKŪ.
Saya rasa banyak dari Anda yang sudah menyadarinya, tetapi NARUTO sangat dipengaruhi oleh NINKŪ. Tanpa NINKŪ, NARUTO tidak akan pernah ada.
Sederhananya, Fūsuke adalah mentor rahasia bagi Naruto.
Pada akhirnya, saya mulai bermimpi untuk mengangkat hubungan guru-murid ini dari balik bayang-bayang dan mewujudkannya ke dalam sebuah alur cerita yang nyata.
Kiriyama-sensei—yang bagi saya adalah sosok mentor sebagaimana Fūsuke bagi Naruto—dengan murah hati menyetujui permintaan saya yang mungkin terkesan egois ini.
Melalui pertemuan langsung dan kerja sama yang luar biasa, beliau membantu mewujudkan impian lama saya menjadi kenyataan.
Akhirnya, saya berhasil menciptakan kelanjutan NINKŪ dalam arti yang sesungguhnya. Karya ini terdiri dari total empat episode, dan saya harap Anda menikmatinya hingga akhir!"
Benarkah Kishimoto Terinspirasi NINKŪ ketika Membuat Naruto?

Masashi Kishimoto mengakui NINKŪ sebagai pengaruh besar dalam lahirnya Naruto dan menyebut Fūsuke sebagai mentor rahasia Naruto.
Keberadaan NINKŪ di Weekly Shonen Jump mendorong Kishimoto mencari identitas berbeda untuk cerita ninjanya.
Kolaborasi NARUTO × NINKŪ memiliki hubungan historis melalui Studio Pierrot dan menjadi penghormatan personal Kishimoto.
NINKŪ.
Ketika diumumkan bahwa Naruto akan mendapatkan anime kolaborasi dengan judul klasik ini, tidak sedikit penonton muda yang mungkin bertanya-tanya: sebenarnya, anime apa itu NINKŪ?
Setidaknya, penggemar anime Indonesia yang tumbuh pada era 1990-an hingga 2000-an mungkin masih mengingat NINKŪ, yang pernah tayang di Trans TV. Namun, bagi penonton dari negara lain yang tidak memiliki kesempatan mengenal serial ini secara luas, pertemuan Naruto dengan Fūsuke tentu terasa seperti crossover yang datang dari antah-berantakan.
Namun, tahukah kamu bahwa hubungan kedua serial ini ternyata erat?
Masashi Kishimoto, kreator Naruto, secara terbuka mengakui pengaruh NINKŪ terhadap karyanya. Bahkan, kolaborasi keduanya merupakan impian lama yang akhirnya berhasil ia wujudkan.
Lantas, seperti apa hubungan Naruto dengan NINKŪ? Berikut beberapa hal menarik yang perlu kamu ketahui!
Table of Content
1. Kishimoto sendiri mengakui pengaruh NINKŪ

Anime Naruto x Ninku Dalam pengumuman resmi mengenai kolaborasi NARUTO × NINKŪ, Masashi Kishimoto mengungkapkan betapa besar pengaruh karya Koji Kiriyama tersebut terhadap dirinya.
Berikut pernyataan Kishimoto yang dimuat di situs resmi Naruto:
Pernyataan tersebut dicantumkan di situs resmi Naruto (naruto-official.com) dalam pengumuman mengenai kolaborasi kedua serial.
Dari sini, kita bisa memahami bahwa hubungan Naruto dengan NINKŪ bukan sekadar kesamaan tema ninja. Kishimoto sendiri menganggap karya Koji Kiriyama sebagai salah satu fondasi yang membantu lahirnya Naruto.
Bahkan, ia mengibaratkan Fūsuke sebagai mentor rahasia Naruto, sementara Koji Kiriyama merupakan sosok mentor bagi dirinya sendiri.
Dengan kata lain, kolaborasi ini menjadi kesempatan bagi Kishimoto untuk mewujudkan hubungan antarguru dan murid yang selama ini hanya ada dalam benaknya menjadi sebuah cerita nyata.
2. NINKŪ juga menantang Kishimoto untuk mencari arah baru

Fuusuke terbaring ( Dok. Pierrot/Ninku ) Menariknya, pengaruh NINKŪ terhadap Naruto bukan hanya soal inspirasi. Kehadiran serial tersebut di majalah Weekly Shonen Jump juga menjadi tantangan tersendiri bagi Kishimoto ketika ia sedang mencari konsep untuk manga berikutnya.
Dalam wawancara pada 2013 bersama Meigen-Shu, Kishimoto menceritakan proses di balik pemilihan tema Naruto. Ia mengungkapkan bahwa dirinya sempat mencoba membuat cerita samurai, tetapi ide tersebut tidak mendapatkan respons yang diharapkan.
Ia kemudian mempertimbangkan cerita bertema ninja. Namun, saat itu NINKŪ sudah lebih dahulu hadir di Jump dengan pendekatan yang cukup unik.
Berikut penjelasan Kishimoto:
"Saya tidak menyerah untuk membuat cerita bertema Jepang. Namun, ide cerita samurai tidak berhasil, jadi saya berpikir untuk mencoba tema ninja. Akan tetapi, di majalah Jump saat itu sudah ada judul NINKŪ. Itu bukanlah saat yang tepat untuk membuat cerita ninja. NINKŪ sudah menghadirkan sesuatu yang cukup orisinal dengan memadukan seni bela diri ninja dan karate. Saya harus menemukan sesuatu yang lain, sesuatu yang baru untuk ditambahkan. Hal itu merupakan tantangan tersendiri, tetapi justru tantangan itulah yang memotivasi saya."
Pernyataan ini menarik karena memperlihatkan bahwa Kishimoto tidak sekadar ingin membuat manga ninja. Ia juga harus memikirkan bagaimana karyanya dapat menawarkan sesuatu yang berbeda dari serial yang sudah lebih dahulu hadir.
Pada akhirnya, Naruto berkembang dengan dunia yang memiliki sistem chakra, beragam teknik ninjutsu, desa-desa ninja, konflik antarklan, hingga persaingan politik yang melibatkan berbagai negara.
Dengan demikian, pengaruh NINKŪ tidak berarti Naruto sekadar meniru pendahulunya. Sebaliknya, keberadaan NINKŪ turut mendorong Kishimoto untuk mencari identitas tersendiri bagi karyanya.
Makannya menarik, setelah Naruto menjadi fenomena global, Kishimoto justru berkesempatan untuk mempertemukan karyanya dengan serial yang dahulu menjadi salah satu tantangan kreatifnya.
3. Kolaborasi Naruto dengan NINKŪ ternyata masuk akal

Tim 7 di anime Naruto. (dok. Studio Pierrot/Naruto Shippuden) Bagi sebagian penggemar, pengumuman NARUTO × NINKŪ mungkin terasa sebagai crossover yang tidak terduga. Namun, jika melihat sejarah kedua serial ini, kolaborasi tersebut sebenarnya cukup masuk akal.
Anime kolaborasi ini diproduksi oleh Studio Pierrot, studio yang menggarap anime Naruto dan Naruto Shippuden. Pierrot juga pernah mengerjakan adaptasi anime NINKŪ pada era 1990-an.
Artinya, kedua serial ini memiliki sejarah yang sama dengan studio animasi tersebut, meskipun jarak antara penayangan anime NINKŪ dan pengumuman kolaborasi ini terbilang sangat panjang.
Tentu saja, kita tidak tahu seberapa banyak anggota tim produksi yang terlibat dalam kedua proyek tersebut masih bekerja di Pierrot hingga sekarang. Namun, keterlibatan studio yang sama memberikan hubungan historis tersendiri bagi kolaborasi ini.
Hal lain yang menarik adalah penggunaan Naruto dari era sebelum Shippuden. Dengan demikian, penggemar akan kembali melihat Naruto ketika ia masih menjadi bagian dari Tim 7 bersama Sasuke dan Sakura.
Pilihan ini juga terasa cocok untuk sebuah crossover yang ingin menghubungkan kembali akar Naruto dengan salah satu karya yang memengaruhi kelahirannya.
Studio Pierrot sendiri masih terlibat dalam berbagai proyek anime besar, termasuk BLEACH: Thousand-Year Blood War. Jadi, ada alasan untuk menantikan bagaimana studio ini akan mengemas pertemuan dua serial ninja dari generasi yang berbeda.
Pada akhirnya, NARUTO × NINKŪ mungkin terdengar seperti kolaborasi yang aneh bagi penonton yang tidak mengenal karya Koji Kiriyama. Namun, bagi Kishimoto, proyek ini memiliki makna yang jauh lebih personal.
Bukan sekadar kesempatan untuk mempertemukan dua karakter ninja, ini juga adalah kesempatan bagi seorang kreator untuk memberikan penghormatan kepada karya yang turut membentuk perjalanan kreatifnya.
Dari serial yang dahulu mendorong Kishimoto mencari sesuatu yang berbeda, kini NINKŪ justru mendapatkan kesempatan untuk menjadi bagian dari kisah Naruto. Dan itu membuat kolaborasi empat episode ini terasa jauh lebih istimewa daripada yang terlihat pada pandangan pertama.





















